Poin Penting:
- Sunk cost fallacy membuat seseorang sulit meninggalkan hubungan tidak sehat karena merasa sudah terlalu banyak mengorbankan waktu, tenaga, dan materi.
- Ketakutan mengakui kesalahan, kehilangan rencana masa depan, harapan pasangan berubah, dan kecemasan memulai hidup baru memperkuat pola pikir tersebut.
- Mengambil keputusan berdasarkan kondisi hubungan saat ini, bukan pengorbanan masa lalu, dapat membantu seseorang keluar dari jebakan psikologis tersebut.
Bacaini.ID, KEDIRI – Sudah berkali-kali diselingkuhi, sering direndahkan, bahkan diperlakukan tidak semestinya, tetapi tetap sulit meninggalkan pasangan. Bukan karena tidak menyadari hubungan tersebut bermasalah atau hubungan toxic, sebagian perempuan justru tahu dirinya sedang tersakiti. Namun, banyaknya waktu, tenaga, dan pengorbanan yang telah diberikan membuat keputusan berpisah terasa begitu berat. Dalam psikologi, pola pikir ini dikenal sebagai sunk cost fallacy, sebuah jebakan yang membuat seseorang terus bertahan karena merasa sudah telanjur menginvestasikan terlalu banyak hal.
Ada ketakutan pada perempuan semua yang telah dilakukan akan berakhir sia-sia jika hubungan dihentikan. Sunk cost fallacy menjelaskan kecenderungan seseorang terus mempertahankan keputusan atau investasi karena merasa telanjur mengeluarkan terlalu banyak sumber daya, meski keputusan tersebut tidak lagi memberi manfaat. Dalam hubungan romantis, pola pikir ini dapat membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Bahkan, keputusan untuk pergi terkadang terasa lebih menyakitkan daripada terus menjalani hubungan yang sebenarnya sudah tidak membahagiakan.
Mengapa Perempuan Sulit Meninggalkan Hubungan yang Tidak Sehat?
Konsep sunk cost fallacy pertama kali banyak dibahas dalam penelitian perilaku ekonomi oleh Hal R. Arkes dan Catherine Blumer pada 1985 melalui penelitian berjudul The Psychology of Sunk Cost.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa seseorang cenderung melanjutkan suatu keputusan ketika sebelumnya sudah menginvestasikan sumber daya yang besar. Padahal, secara rasional, keputusan selanjutnya seharusnya didasarkan pada manfaat dan risiko yang akan dihadapi, bukan pada pengorbanan yang sudah berlalu.
Pola pikir serupa dapat ditemukan dalam hubungan romantis. Misalnya, seorang perempuan telah menjalin hubungan selama delapan tahun. Selama itu, ia banyak mengalah, mendukung karier pasangan, menghadapi berbagai konflik, bahkan menolak kesempatan lain demi mempertahankan hubungan.
Ketika akhirnya ditemukan perilaku pasangan yang tidak bisa ditoleransi, keputusan untuk berpisah menjadi sangat berat. Muncul pikiran bahwa delapan tahun terlalu lama untuk diakhiri begitu saja.
Ada pula keyakinan bahwa pasangan mungkin akan berubah setelah semua pengorbanan yang diberikan. Padahal, waktu yang sudah berlalu tidak dapat dikembalikan. Mempertahankan hubungan hanya karena durasinya panjang juga tidak menjamin masa depan yang lebih baik.
4 Alasan Sunk Cost Fallacy Membuat Seseorang Bertahan
Selain investasi waktu dan tenaga, terdapat beberapa faktor lain yang membuat seseorang terjebak dalam pola pikir ini.
• Takut mengakui bahwa keputusan sebelumnya keliru
Mengakhiri hubungan terkadang berarti harus menerima kenyataan bahwa seseorang telah menghabiskan banyak waktu bersama orang yang ternyata tidak tepat.
Pengakuan tersebut dapat memunculkan rasa malu, kecewa, bahkan menyalahkan diri sendiri. Akibatnya, hubungan terus dipertahankan agar keputusan masa lalu seolah-olah tetap memiliki pembenaran.
• Terlanjur membangun banyak rencana
Hubungan serius biasanya disertai berbagai rencana masa depan, mulai dari pernikahan, memiliki anak, membeli rumah, hingga membangun kehidupan bersama. Ketika hubungan mulai bermasalah, seseorang tidak hanya merasa kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan gambaran masa depan yang selama ini dibayangkan.
Semakin banyak rencana yang telah disusun, semakin berat pula keputusan untuk mengakhirinya.
• Berharap pengorbanan akan mengubah pasangan
Sebagian orang percaya bahwa kesabaran, kesetiaan, dan kasih sayang yang diberikan pada akhirnya akan membuat pasangan berubah.
Harapan ini dapat membuat perilaku buruk terus ditoleransi. Ketika pasangan meminta maaf, hubungan kembali dipertahankan dengan keyakinan bahwa masalah tidak akan terulang.
Namun, perubahan perilaku tidak cukup dibuktikan melalui permintaan maaf atau janji. Konsistensi tindakan jauh lebih penting.
• Takut memulai semuanya dari awal
Perpisahan dapat membawa konsekuensi emosional, sosial, dan finansial. Bagi perempuan yang telah lama menjalani hubungan, bayangan harus kembali membangun kehidupan sendiri bisa terasa menakutkan.
Tekanan keluarga, usia, keinginan memiliki anak, hingga anggapan bahwa perempuan seharusnya segera menikah juga dapat memperberat keputusan untuk pergi.
Cara Keluar dari Jebakan Sunk Cost Fallacy dalam Hubungan
Menyadari bahwa diri sendiri sedang terjebak dalam sunk cost fallacy merupakan langkah awal untuk mengambil keputusan yang lebih sehat.
• Pisahkan masa lalu dari keputusan yang harus diambil sekarang.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri, jika baru mengenal pasangan hari ini dan mengetahui semua perilakunya, apakah hubungan tersebut masih ingin dijalani? Pertanyaan ini membantu mengalihkan perhatian dari pengorbanan masa lalu menuju kondisi hubungan saat ini.
• Berhenti menjadikan lamanya hubungan sebagai ukuran keberhasilan.
Hubungan yang berlangsung bertahun-tahun tidak otomatis menjadi hubungan yang sehat. Begitu pula perpisahan tidak selalu berarti kegagalan.
• Perhatikan pola perilaku pasangan, bukan sekadar janji.
Apakah masalah yang sama terus berulang? Apakah pasangan bersedia bertanggung jawab dan melakukan perubahan nyata? Apakah kebutuhan emosional dan batasan pribadi dihargai?
• Bangun kembali dukungan di luar hubungan.
Berbicara dengan orang tepercaya atau tenaga profesional dapat membantu seseorang melihat situasi secara lebih objektif, terutama ketika hubungan telah memengaruhi kondisi psikologisnya.
Tidak semua orang dapat meninggalkan hubungan yang tidak sehat dengan mudah. Ketergantungan finansial, ancaman, kekerasan, dan manipulasi dapat membuat proses keluar menjadi jauh lebih rumit. Dalam situasi yang melibatkan kekerasan atau ancaman keselamatan, perencanaan keamanan dan bantuan profesional perlu diprioritaskan.
Pengorbanan yang sudah diberikan tidak harus dibayar dengan pengorbanan tambahan. Waktu yang telah berlalu memang tidak bisa diubah, tetapi keputusan untuk masa depan masih berada dalam kendali seseorang. (bl/sa)




