Poin Penting:
- Warga Blitar mengungkap PJT I baru mengelola Bendungan Lahor sejak 1992 sehingga penutupan jalan dinilai tidak memiliki legitimasi historis
- Bendungan Lahor dibangun menggunakan dana pampasan perang Jepang pada 1961–1971 dan melibatkan pengorbanan besar masyarakat sekitar
- Setelah aksi warga Blitar dan Malang, PJT I membatalkan penutupan total dan membuka akses jalan pukul 04.00–22.00 WIB dengan sistem registrasi
Bacaini.ID, BLITAR – Perum Jasa Tirta I (PJT I) dalam sejarahnya hanya diserahi tugas mengelola Bendungan Lahor yang mulai 1 Agustus 2026 dinyatakan ditutup total, tapi oleh ratusan massa gabungan warga Kabupaten Blitar dan Malang berhasil dibuka paksa. Penyerahan pengelolaan itu berlangsung sejak tahun 1992.
Karenanya ketika memutuskan melakukan penutupan sepihak jalan tembus Blitar-Malang dengan alasan untuk menjaga obyek vital tanpa mempertimbangkan imbas pada ekonomi kerakyatan, PJT I dinilai telah mempertontonkan kesewenang-wenangan kekuasaan (abuse of power).
PJT I telah melawan everybody. Melawan kehendak rakyat, khususnya warga di empat desa Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar yang dalam sejarahnya telah ikut berkorban dalam proses pembangunan Bendungan Lahor.
“Jadi Jasa Tirta dalam sejarahnya hanya menerima serah bangunan dan satu rupiah pun tidak ikut membangun (Bendungan Lahor),” tutur Aditya, warga Blitar yang mengklaim cukup tahu soal historis pembangunan Bendungan Lahor kepada Bacaini.id Minggu (2/8/2026).
Bendungan Lahor Dibangun dari Dana Pampasan Perang Jepang
Proyek Bendungan Lahor merupakan salah satu dari proyek yang sumber pembiayaannya berasal dari dana pampasan perang Jepang. Pada tahun 1958 pemerintah Indonesia dan Jepang menyepakati MoU ganti rugi sebesar USD 223 juta yang dibayarkan dalam bentuk pembangunan infrastruktur, barang dan jasa.
Sebagai proyek utama adalah pembangunan Monumen Nasional (Monas), Hotel Indonesia dan kompleks Gelora Bung Karno (GBK). Menurut Aditya, orang tuanya ikut dalam proyek pembangunan Bendungan Lahor atau Bendungan Lahor Karangkates yang hampir semua arsitek yang terlibat adalah orang Jepang.
Dimulai tahun 1961 dan rampung tahun 1971, jalan tembus Blitar-Malang yang saat ini jadi polemik tersebut dulunya gunung (pegunungan) yang diledakkan dengan dinamit. “Semua arsitek dari Jepang, hanya satu dari Indonesia, yakni Ir Suryo. Sedangkan pelaksana dinamit di lapangan namanya Pak Miswan, ahli detonator,” ungkapnya.
Pembangunan Bendungan Lahor untuk menanggulangi bencana banjir, untuk irigasi, dan sekaligus sebagai sumber daya energi listrik. Memori publik, utamanya di Blitar dan Malang masih ingat pembangunan banyak menelan korban jiwa. Yang terbesar adalah tragedi truk pengangkut pekerja proyek yang terjun ke jurang di wilayah Metro Kepanjen Malang.
Kemudian tidak sedikit warga yang mengorbankan tanahnya untuk pelebaran jalan tanpa meminta ganti rugi. Karenanya sebagai warga Blitar, Aditya tidak sepakat jika jalan puncak Bendungan Lahor ditutup total. Terlebih penutupan tersebut berdampak pada ekonomi kerakyatan. “Kalau sekarang diperlakukan seperti itu (ditutup) saya secara pribadi tidak sepakat,” pungkasnya.
Sementara aksi yang digelar ratusan massa gabungan warga Kabupaten Blitar dan Malang pada 1 Agustus 2026 berhasil mengagalkan penutupan setelah mereka membuka paksa portal jalan Bendungan Lahor. Mariyono Setyo Budi, juru bicara warga Blitar mengatakan, jalan bisa dilalui kembali. “Buka gratis selamanya,” kata Mariyono Setyo Budi kepada Bacaini.id melalui pesan WA Sabtu (1/8/2026).
Menanggapi reaksi penolakan warga, Agung, perwakilan Direksi PJT I mengatakan pihaknya melakukan penyesuaian kebijakan dengan tetap mengizinkan kendaraan roda empat dan dua melintasi jalan tembus Bendungan Lahor mulai pukul 04.00 WIB hingga 22.00 WIB. Di luar waktu itu portal kembali ditutup.
PJT I juga mewajibkan setiap pengendara yang melintas melakukan tap in sebagai registrasi, dan itu ditegaskan bukan tarif masuk kawasan Bendungan Lahor. Agung juga mengatakan pihaknya sebenarnya ingin menggratiskan registrasi, namun masih terkendala kerjasama dengan pengelola kawasan.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif




