• Login
Bacaini.id
Saturday, June 20, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Sejarah Asal Usul Bali: Dari Bali Mula hingga Invasi Majapahit yang Melahirkan Bali Aga 

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
20 June 2026 06:05
Durasi baca: 5 menit
Ilustrasi sejarah Bali dari era Bali Mula hingga invasi Kerajaan Majapahit tahun 1343 Masehi

Transformasi Pulau Bali dari peradaban Bali Kuno menuju era Bali Majapahit (foto/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI – Pulau Bali selama ini dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia dengan budaya Hindu yang begitu kuat. Namun jauh sebelum era kerajaan dan pengaruh Majapahit hadir, Bali telah dihuni oleh masyarakat kuno yang dikenal sebagai Bali Mula atau leluhur Bali Aga. Dari peradaban awal berbasis animisme, masuknya ajaran Hindu, hingga invasi Majapahit pada 1343 Masehi, sejarah Bali menyimpan perjalanan panjang yang membentuk identitas Pulau Dewata seperti yang dikenal saat ini.

BACA JUGA: Cerita Kebo Iwa, Tokoh Bali yang Dihabisi di Lereng Wilis Kediri

Banyak yang mengira kebudayaan Bali saat ini telah ada secara turun-temurun sejak awal mula pulau tersebut dihuni. Faktanya, peta genetika, struktur sosial, dan silsilah mayoritas masyarakat Bali modern justru tak lepas dari dinamika politik Nusantara, khususnya pada masa kejayaan hingga runtuhnya Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan ke-15.

Awal Mula Peradaban Bali dan Kedatangan Suku Austronesia

Jauh sebelum berdirinya kerajaan, pulau Bali telah dihuni oleh kelompok etnis Austronesia. Berdasarkan catatan arkeologi, gelombang imigrasi pertama leluhur asli Bali, yang disebut sebagai Suku Bali Mula atau Bali Aga, terjadi sekitar tahun 2000-3000 SM. Mereka bermigrasi dari wilayah Tonkin di Tiongkok Selatan, membawa kebudayaan zaman perundagian dan neolitikum ke Nusantara.

Pada masa awal ini, masyarakat Bali Kuno hidup dalam tatanan yang sangat bersahaja namun teratur. Karakteristik spiritualitas mereka berfokus pada animisme dan dinamisme, yaitu sistem kepercayaan yang menyembah roh leluhur serta kekuatan alam. Gunung dan danau dipandang sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan kekuatan supranatural yang harus dihormati.

BACA JUGA: Sejarah Petis Jawa Timur, Bumbu Warisan Majapahit Sejak Abad ke-10

Salah satu ciri paling mencolok dari masyarakat Bali Mula adalah sistem pemakamannya. Berbeda dengan mayoritas masyarakat Bali saat ini yang mengkremasi jenazah, penduduk asli Bali Kuno mempraktikkan sistem ‘beya tanem’, penguburan di dalam tanah, atau sekadar membiarkan jenazah di atas tanah terbuka di bawah pohon khusus, sebuah tradisi unik yang hingga kini masih bisa disaksikan di Desa Trunyan di pinggir Danau Batur.

Memasuki sekitar abad ke-8 atau 9 Masehi, lanskap spiritual Bali bertransformasi seiring kedatangan seorang rsi suci Kalingga, India kuno yang telah lama menetap di Jawa Dwipa (Jawa) bernama Rsi Markandeya. Membawa ribuan pengikut, tokoh suci ini melakukan interaksi dan akulturasi budaya yang damai dengan penduduk Bali Mula.

Meskipun gagal di awal kedatangannya, Rsi Markandeya akhirnya berhasil di kesempatan kedua. Tidak hanya memperkenalkan konsep keagamaan baru yang bersumber dari ajaran Hindu, namun juga mengajarkan sistem penataan pertanian yang lebih maju, cikal bakal subak.

Momen monumental dari era ini adalah pendirian sebuah tempat pemujaan di lereng Gunung Agung yang dikenal sebagai Pura Besakih. Sebagai pura terbesar di Bali, Pura Besakih menjadi simbol abadi dari titik awal akulturasi antara kepercayaan lokal animisme Bali Mula dengan teologi Hindu-Jawa.

Pasca-era Rsi Markandeya, Bali tumbuh menjadi wilayah berdaulat yang mandiri dan makmur di bawah pemerintahan raja-raja lokal yang kuat. Pada awal abad ke-10, tahun 914 Masehi, Sri Kesari Warmadewa mendirikan Wangsa Warmadewa. Bukti otentik keberadaan dinasti ini terpahat pada Prasasti Blanjong di Sanur, yang sekaligus menjadi dokumen tertulis pertama yang menyebut pulau ini dengan nama Walidwipa, dan menjadi kerajaan pertama di Bali yang memiliki bukti cacatan sejarah dengan jelas.

Masa kejayaan Bali Kuno tercapai di bawah tampuk pemerintahan Raja Udayana. Pada era ini, Bali menjalin hubungan diplomatik dan kekeluargaan yang sangat erat dengan kerajaan di Jawa Timur. Hubungan darah ini terbukti dari putra Raja Udayana, yakni Airlangga, yang kemudian hari pindah ke Jawa dan menobatkan diri menjadi raja besar di Kerajaan Kahuripan.

Di bawah sistem pemerintahan kuno ini, masyarakat Bali hidup makmur dengan pusat pemerintahan yang sempat berada di Singhamandawa, ditopang oleh sistem pertanian subak primitif serta jalur perdagangan yang maju.

Invasi Majapahit 1343 M dan Runtuhnya Kerajaan Bedahulu

Pada pertengahan abad ke-14, peta geopolitik Nusantara berubah total. Saat itu kerajaan Majapahit sedang berada di puncak eksistensinya, mahapatih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa yang legendaris.

Karena posisinya yang sangat strategis di sebelah timur Pulau Jawa, Bali menjadi salah satu target utama ekspansi militer Majapahit. Saat itu, Bali diperintah oleh raja terakhir dari trah Bali Kuno, yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten, atau yang lebih dikenal dalam cerita rakyat sebagai Raja Bedahulu.

Berpusat di Bedulu, Pejeng, kerajaan ini dikenal sebagai kekuatan independen yang tangguh dan menolak keras untuk tunduk pada kekuasaan luar. Ketangguhan Bali pada era ini disokong oleh keberadaan patih-patih militer yang sakti mandraguna, seperti Kebo Iwa dan Pasung Grigis.

Menyadari bahwa menaklukkan Bali secara militer langsung akan memakan korban yang sangat besar karena keberadaan Kebo Iwa, Mahapatih Gajah Mada menggunakan taktik diplomasi dan tipu daya. Kebo Iwa dipancing untuk datang ke Jawa dengan dalih tugas kenegaraan, hingga akhirnya sang panglima gugur di sana.

Setelah melumpuhkan benteng pertahanan utama Bali, pasukan koalisi Majapahit melancarkan invasi besar-besaran pada tahun 1343 Masehi. Pertempuran sengit pecah di berbagai titik, namun tanpa kepemimpinan Kebo Iwa, Kerajaan Bedahulu akhirnya runtuh. Raja terakhir Bali gugur di medan laga, dan sejak tahun 1343 Masehi tersebut, Pulau Bali resmi menjadi wilayah Kerajaan Majapahit.

Lahirnya Bali Aga dan Bali Majapahit

Setelah Kerajaan Bedulu runtuh, nasib para bangsawan dan pengikutnya terbagi menjadi beberapa kelompok. Sebagian melakukan pemberontakan, ada yang menyerah dan berintegrasi menjadi bagian dari pemerintahan kerajaan Majapahit, dan ada pula yang menepi ke pegunungan dan menjadi cikal bakal suku Bali Mula atau Bali Aga.

Peristiwa ini secara otomatis mengubah struktur sosial masyarakat Bali secara permanen. Untuk mengonsolidasikan kekuasaannya di tanah taklukan, Gajah Mada menunjuk seorang ksatria keturunan pemuka agama asal Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin Bali. Sang raja baru mendirikan pusat pemerintahannya di Samprangan, Gianyar, yang kemudian hari bermigrasi ke Gelgel, Klungkung.

Para bangsawan, perwira militer, seniman, dan pendeta Hindu dari Jawa mulai menduduki daerah dataran rendah dan kawasan perkotaan di Bali. Mereka membawa serta kebudayaan Jawa-Majapahit yang mutakhir, sistem kasta formal (Triwangsa), arsitektur keraton, serta tradisi upacara pembakaran jenazah yang megah, Ngaben. Kelompok pendatang inilah yang di kemudian hari diidentifikasikan sebagai ‘Bali Majapahit’.

Mengapa Bali Aga Tidak Mengenal Sistem Kasta?

Tidak semua penduduk asli Bali Kuno menerima dominasi kebudayaan baru ini. Sebagian besar dari mereka yang menolak tunduk, enggan berasimilasi, atau tidak mau menerima sistem kasta formal bentukan Majapahit dan memilih untuk menyingkir dari pusat pemerintahan. Mereka bermigrasi naik ke wilayah pegunungan yang terjal dan pedalaman yang terpencil untuk mengisolasi diri dan meempertahankan tradisi.

Kelompok masyarakat yang mengisolasi diri inilah yang hingga kini dikenal sebagai ‘Bali Aga’ atau Bali Kuno. Mereka tetap melestarikan adat istiadat murni pra-Majapahit, memiliki dialek bahasa tersendiri, termasuk tidak mengenal sistem kasta dan menetap di desa-desa adat terlindung seperti Desa Trunyan di Bangli serta Desa Tenganan di Karangasem.

Karena kelompok ini mengisolasi diri di daerah pegunungan saat Majapahit mulai berkuasa, masyarakat Bali Mula tidak pernah mengadopsi sistem Catur Warna atau penjejangan kasta (Wangsa). Dalam praktiknya, mereka mempertahankan sistem sosial kuno yang demokratis dan berbasis senioritas yang dikenal dengan nama sistem Ulu Apad.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

BACA JUGA: Mitos Politik Kediri di Munas Konbes NU, Presiden Prabowo Berani Datang? dan artikel lainnya di Rubrik HISTORIA

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: Balibali agabali mulaKebo Iwasejarah Bali
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi kerangka manusia berusia 5.000 tahun yang ditemukan di bekas tungku pembakaran di Gerstewitz, Jerman

Penemuan Kerangka 5.000 Tahun Diduga Bukti Ritual Tumbal Manusia

Ilustrasi sejarah Bali dari era Bali Mula hingga invasi Kerajaan Majapahit tahun 1343 Masehi

Sejarah Asal Usul Bali: Dari Bali Mula hingga Invasi Majapahit yang Melahirkan Bali Aga 

Peresmian Lagu Stasiun Madiun sebagai lagu penyambutan pelanggan kereta api oleh KAI Daop 7 di Stasiun Madiun

Lagu Stasiun Madiun Resmi Jadi Lagu Penyambutan Pelanggan Kereta Api

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In