Bacaini.ID, KEDIRI – Sebanyak 43 kerangka manusia yang berasal dari era Kekaisaran Romawi abad ke-3 ditemukan bertumpukan di dasar sumur kuno yang mengering di kota Osijek, Kroasia. Hasil penelitian tim bioarkeolog mengungkap dugaan gelombang epidemi mematikan pada masa itu.
Laporan Live Science menyebut lokasi temuan dikenal sebagai Mursa, sebuah pemukiman penting di Provinsi Pannonia. Penelitian oleh bioarkeolog Mario Novak dari Institute for Anthropological Research di Zagreb, Kroasia, mengungkap cara masyarakat Romawi Kuno merespons krisis kemanusiaan hebat yang terjadi pertengahan abad ke-3 Masehi.
Situs Osijek tersebut bukan barang asing bagi para peneliti sejarah Romawi. Sebelumnya, tim arkeolog telah mengeksplorasi dua sumur lain di area sama. Namun, sumur ketiga yang jadi fokus analisis terbaru menunjukkan karakteristik data yang berbeda dan memicu analisis mendalam mengenai penyebab kematian korban.
43 Kerangka Manusia Tanpa Tanda-tanda Kekerasan
Penemuan 43 kerangka di sumur ketiga ini menjadi sangat krusial karena komposisi demografisnya. Dua sumur yang ditemukan sebelumnya di situs Mursa berisi kerangka pria muda hingga dewasa pertengahan. Tulang belulang pada dua sumur awal tersebut dipenuhi jejak trauma fisik yang parah, seperti bekas sabetan senjata tajam dan benturan keras pada tulang tengkorak serta persendian.
Data arkeologis tersebut secara tegas mengarah pada sisa-sisa prajurit yang tewas dalam Pertempuran Mursa pada tahun 260 Masehi, sebuah konflik perang saudara yang sangat berdarah di dalam internal Kekaisaran Romawi.
Sebaliknya, data sumur ketiga yang dipaparkan dalam laporan Live Science menyajikan potret berbeda. Sebanyak 43 kerangka yang diekskavasi dari sumur ini terdiri dari profil populasi sipil yang heterogen. Peneliti mengidentifikasi sisa-sisa tulang milik pria dewasa, wanita, hingga anak-anak dari berbagai rentang usia. Keberadaan kelompok rentan seperti wanita dan anak-anak menggugurkan teori korban pertempuran militer.
Faktor kunci lain yang ditemukan oleh Tim peneliti Mario Novak adalah ketiadaan tanda kekerasan fisik pada seluruh kerangka di sumur ketiga. Analisis osteologis juga menunjukkan tidak ada bekas sabetan pedang, tusukan tombak, patah tulang pasca-trauma tajam, maupun keretakan akibat benturan senjata tumpul.
Tanpa jejak trauma fatal pada struktur tulang, tim peneliti menyimpulkan puluhan orang ini tidak tewas akibat eksekusi massal, pembantaian perang, atau konflik fisik antarkelompok. Ketiadaan luka fisik pada profil populasi sipil yang lengkap mengarahkan para ahli pada satu hipotesis utama: kematian massal mendadak yang diduga disebabkan oleh patogen mematikan atau epidemi skala besar.
Jejak Wabah Siprianus di Abad ke-3
Penanggalan situs dan analisis artefak di sekitar lokasi mengarahkan waktu kejadian pada pertengahan abad ke-3 Masehi, yakni kisaran tahun 250 hingga 270 Masehi. Periode ini bertepatan langsung dengan salah satu bencana kesehatan terbesar dalam sejarah Kekaisaran Romawi yang dikenal sebagai Wabah Siprianus atau Plague of Cyprian.
Wabah Siprianus merupakan epidemi dahsyat yang menyebar cepat ke seluruh penjuru wilayah kekaisaran, mulai dari Afrika Utara, Roma, hingga wilayah benteng batas utara di sepanjang Sungai Danube, termasuk Provinsi Pannonia tempat Mursa berada.
Catatan sejarah Santo Cyprianus, uskup Kartago yang menjadi saksi mata, menggambarkan betapa epidemi ini memicu gejala yang sangat berat, seperti demam tinggi, diare parah, pembusukan pada anggota badan, hingga pendarahan internal yang berujung pada kematian cepat.
Meskipun ilmu medis modern masih terus meneliti identitas biologis pasti dari Wabah Siprianus, dengan dugaan utama berkisar antara virus penyebab demam berdarah (hemorrhagic fever) atau bentuk purba dari cacar (smallpox), dampak sosial yang ditimbulkannya sangat terukur. Di kota-kota besar seperti Roma, wabah ini dilaporkan membunuh hingga ribuan orang setiap harinya.
Keberadaan 43 mayat dalam satu sumur kering di Osijek ini mencerminkan keputusasaan dan respons pragmatis masyarakat lokal di tengah gempuran wabah tersebut. Dalam norma hukum dan tradisi keagamaan Romawi yang normal, jenazah diperlakukan dengan penuh penghormatan melalui prosesi pemakaman individu atau kremasi di area necropolis resmi di luar batas kota.
Namun, ketika tingkat kematian melonjak drastis dalam hitungan hari, struktur sosial dan kapasitas sanitasi kota runtuh mendadak. Masyarakat setempat tidak lagi memiliki cukup waktu, tenaga kerja, atau fasilitas pemakaman yang memadai untuk menggali puluhan liang kubur individu. Sumur-sumur tua yang sudah tidak terpakai atau mengering akhirnya dimanfaatkan sebagai sarana pembuangan jenazah cepat.
Melemparkan mayat-mayat korban epidemi ke dalam sumur yang dalam lalu menimbunnya dengan tanah dan puing-puing merupakan cara paling efektif untuk memutus bau busuk serta menekan risiko penularan penyakit lebih lanjut kepada warga yang masih hidup.
Penelitian DNA Purba untuk Mengungkap Penyebab Kematian
Meskipun hipotesis mengenai epidemi telah didukung kuat oleh data struktur demografis dan ketiadaan trauma fisik, tim peneliti tidak berhenti pada kesimpulan osteologis semata. Menurut publikasi Live Science, langkah krusial yang saat ini sedang dijalankan oleh tim bioarkeologi adalah analisis biomolekuler tingkat lanjut.
Para peneliti mengumpulkan sampel materi genetik dari bagian gigi dan tulang keras milik kerangka yang ditemukan. Melalui metode ekstraksi DNA purba (ancient DNA) dan pemindaian patogen, tim ilmuwan berupaya mengisolasi sisa-sisa materi genetik mikroorganisme yang mungkin masih tertinggal di dalam rongga pulpa gigi para korban.
Jika analisis DNA patogen ini berhasil, para ahli tidak hanya akan mendapatkan kepastian apakah 43 individu tersebut benar-benar tewas akibat Wabah Cyprian, tetapi juga dapat memecahkan teka-teki ilmiah yang telah berlangsung selama berabad-abad mengenai jenis virus atau bakteri spesifik yang menjadi pemicu wabah tersebut.
Selain pengujian patogen, analisis isotop stabil pada gigi juga sedang dilakukan. Pengujian isotop stronsium dan oksigen bertujuan untuk mengidentifikasi asal-usul geografis para korban. Data ini akan menjawab apakah puluhan orang yang dibuang ke dalam sumur tersebut merupakan penduduk lokal Mursa yang menetap sejak lahir, atau gelombang pengungsi dan pasukan conscript yang bergerak di sepanjang jalur perbatasan Romawi saat krisis abad ke-3 berlangsung. (bl/sa)




