Bacaini.ID, KEDIRI – Pada 2012, saya pernah datang ke Lirboyo untuk mencari cerita tentang 1965. Waktu itu saya menjadi bagian dari tim Tempo yang sedang mengerjakan laporan khusus mengenai kekerasan yang terjadi setelah peristiwa 30 September 1965. Kami tidak hanya mencari dokumen dan membaca arsip, tetapi juga mencoba menemui orang-orang yang masih menyimpan ingatan tentang masa tersebut. Salah satunya adalah KH Idris Marzuki.
Beberapa kali permintaan wawancara tidak mendapatkan hasil. Topik yang hendak kami bicarakan memang sensitif, sementara lingkungan pesantren tentu mempunyai pertimbangan sendiri ketika berhadapan dengan wartawan yang datang membawa pertanyaan tentang peristiwa politik yang terjadi lebih dari empat puluh tahun sebelumnya.
Saya akhirnya mencoba cara lain. Saya datang dengan mengenakan pakaian yang biasa dikenakan santri, dan berhasil. Di sela kunjungan orang tua santri di kediaman Mbah Idris, saya mendapat cerita tentang peristiwa Kanigoro, sepak terjang KH Abdullah Maksum Jauhari atau Gus Maksum, serta penumpasan PKI oleh santri dan tentara.
Cerita yang kurang lebih sama dengan apa yang saya dengar ketika mendatangi Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, di bulan September 2012. Kepada saya, almarhum Masdoeqi Moeslim, seorang aktivis Banser yang juga peserta pelatihan mental (mental training) mengisahkan penyerbuan seribu simpatisan PKI ke Masjid Al-Jauhar yang menjadi lokasi acara pada 13 Januari 1965.
baca ini: Operasi Militer di Blitar Selatan Pasca Pembunuhan 7 Jenderal
Kala itu, jarum jam menunjukkan pukul 04.30 ketika Masdoeqi dan 127 peserta pelatihan sedang membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh. Tiba-tiba sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata datang menyerbu. Sebagian massa PKI masuk masjid, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung.
Peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Kanigoro ini adalah momentum pertama kalinya PKI melakukan penyerangan besar-besaran di Kediri. Sebelumnya, meski hubungan kelompok santri dan PKI tegang, tak pernah ada konflik terbuka.
Pengalaman itu masih saya ingat karena saat itu saya merasa sedang mengejar sebuah cerita yang sudah sangat tua, tetapi ternyata jarak antara peristiwa tersebut dan orang-orang yang saya temui tidak sejauh yang saya bayangkan. Ada orang yang masih mengingat nama, tempat, bahkan suasana ketika berbagai peristiwa terjadi setelah September 1965.
Sekarang, empat belas tahun setelah liputan itu, jaraknya semakin panjang. September 1965 sudah berusia 61 tahun.
Karena itu, setiap kali akhir September datang, pertanyaan yang muncul di kepala saya bukan hanya apa yang terjadi pada malam 30 September 1965, melainkan apa yang masih diingat orang Kediri tentang 1965?
baca ini: Ganyang 7 Setan Desa di Kediri, Cara PKI Berangus Kelompok Kontra Revolusi
Pertanyaan itu penting karena sebagian besar orang yang mengalami langsung peristiwa tersebut sekarang sudah berusia lanjut. Sebagian telah meninggal. Sebagian lainnya mungkin masih menyimpan cerita yang tidak pernah mereka ceritakan kepada anak-anaknya.
Kita mengenal 30 September 1965 terutama melalui peristiwa yang terjadi di Jakarta. Ada penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat, pengumuman Gerakan 30 September, perubahan politik yang kemudian terjadi, serta rangkaian kekerasan yang berlangsung setelahnya.
Namun bagi daerah seperti Kediri, cerita tentang 1965 tidak dimulai pada malam 30 September.
baca halaman selanjutnya………




