
Kediri ketika itu merupakan salah satu daerah dengan basis massa PKI yang kuat. Di sisi lain, pesantren dan organisasi NU juga mempunyai pengaruh besar. Ketegangan antara kelompok-kelompok politik dan sosial sudah berlangsung sebelum September 1965. Konflik agraria dan benturan antarorganisasi ikut membentuk suasana politik ketika itu. Peristiwa Kanigoro pada Januari 1965 menjadi salah satu contoh ketegangan yang terjadi sebelum G30S.
Karena itu, ketika kabar mengenai gerakan 30 September sampai ke daerah, masyarakat tidak berada dalam keadaan tanpa konflik sebelumnya. Ada hubungan sosial yang sudah tegang, ada persaingan politik, ada persoalan tanah, dan ada kelompok-kelompok masyarakat yang saling mencurigai.
Setelah itu, kekerasan berlangsung di berbagai daerah.
Dalam liputan khusus Tempo mengenai 1965, saya pernah ikut menelusuri sejumlah tempat di Kediri dan wilayah sekitarnya. Kami mencari kesaksian mengenai orang-orang yang ditangkap, ditahan, dibunuh, atau mengalami perubahan kehidupan setelah mereka dicap berkaitan dengan PKI. Kami juga mencari tempat-tempat yang menurut kesaksian pernah menjadi lokasi kekerasan.
baca ini: Strategi Media PKI Kuasai Opini Publik Pada Pemilu 1955
Yang kemudian paling melekat bagi saya justru bukan angka korban atau perdebatan mengenai siapa yang paling bertanggung jawab, melainkan tempat-tempat yang pada pandangan pertama tampak biasa saja. Sebuah tanah kosong, sebuah jalan yang setiap hari dilewati orang, atau sebuah rumah yang sudah berganti penghuni dapat menyimpan cerita yang sama sekali berbeda bagi orang yang pernah hidup di sana.
Sebuah tempat yang hari ini tidak berarti apa-apa, tetapi pernah menjadi bagian dari kehidupan seseorang yang kemudian ditahan, dibunuh, atau menghilang. Bagi orang yang tidak mengetahui ceritanya, tempat tersebut hanyalah bagian dari pemandangan sehari-hari. Bagi keluarga yang pernah kehilangan seseorang di sana, maknanya tentu berbeda.
Bagi wartawan, pekerjaan pertama adalah mendatangi orangnya.
Seperti rumah orang tua tokoh komunis Musso di Desa Jagung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, kini sudah lenyap dan berubah menjadi pemukiman warga. Dalam reportase yang saya lakukan bulan November 2010, tanah seluas tiga hektar tersebut telah dipecah-pecah, dijual per petak sejak tahun 1970-an, dan berdiri sembilan unit rumah warga di atasnya. Bangunan utama rumah masa kecil Musso sudah hancur dan tidak bersisa.
baca ini: Cerita Soekarno Memeluk dan Menghabisi Musso Gembong PKI Asal Kediri
Sementara menurut warga setempat yang mengenali bangunan aslinya, rumah Musso kecil merupakan rumah tradisional berbahan kayu jati dengan gaya srotong atau doro gepak, dengan pohon durian besar di halaman depannya.
Di situlah sejarah terasa dekat.
Masalahnya sekarang adalah waktu. Orang-orang yang mengalami 1965 semakin sedikit. Mereka yang ketika itu berusia dua puluhan atau tiga puluhan kini sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun. Sebagian telah meninggal dan membawa ingatan mereka. Sebagian lainnya mungkin masih hidup, tetapi tidak lagi mempunyai ingatan yang utuh.
Ada keluarga yang masih menyimpan cerita tentang ayah atau ibunya yang pernah ditahan. Ada anak yang mengetahui bahwa orang tuanya pernah dicap sebagai bagian dari kelompok yang dilarang, tetapi tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi. Ada pula keluarga yang sengaja tidak membicarakan masa lalu karena menganggapnya tidak perlu diwariskan kepada anak-anak.
Diam pun akhirnya menjadi bagian dari sejarah keluarga.
baca halaman selanjutnya………



