• Login
Bacaini.id
Monday, September 28, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

61 Tahun Setelah 1965, Apa yang Masih Diingat Kediri?

Enam puluh satu tahun setelah September 1965, peristiwa itu masih menyisakan banyak cerita di Kediri. Sebagian tersimpan dalam ingatan orang-orang yang mengalaminya, sebagian diwariskan melalui keluarga, dan sebagian lainnya perlahan berubah menjadi cerita yang dikenal generasi baru dari buku, film, dan media sosial.

ditulis oleh Hari Tri Wasono
28 September 2026 17:52
Durasi baca: 9 menit
Foto: bacaini.id/AI

Bagi generasi yang lahir jauh setelah 1965, pengalaman tersebut tentu berbeda. Mereka tidak mengalami ketakutan pada masa itu. Mereka mengenalnya dari cerita orang tua, pelajaran sekolah, buku, film, berita, atau sekarang dari media sosial.

Di situlah perubahan cara mengingat mulai terlihat.

Sejarah yang dahulu diwariskan melalui percakapan keluarga kini juga beredar melalui potongan video, unggahan Instagram, TikTok, YouTube dan podcast. Istilah seperti G30S, PKI, Soeharto, komunisme dan Soekarno bisa muncul dalam satu layar bersama kutipan, komentar, meme, bahkan informasi yang konteksnya tidak selalu jelas.

Sejarah menjadi lebih mudah ditemukan, tetapi belum tentu lebih mudah dipahami.

Saya pernah memikirkan persoalan serupa ketika melihat ketertarikan sebagian anak muda terhadap Tan Malaka. Mereka mengenal nama dan sosoknya, menemukan kutipannya di media sosial, kemudian mulai mencari buku dan cerita tentang tokoh tersebut. Tetapi di antara keduanya terdapat jarak yang menarik, apakah mereka benar-benar sedang membaca pemikiran Tan Malaka, atau sebenarnya sedang mengonsumsi citra tentang Tan Malaka?

Pertanyaan semacam itu juga bisa digunakan untuk melihat bagaimana generasi baru mengenal 1965.

baca ini: Gen Z Tidak Suka Baca Buku, Lalu Kenapa Mereka Tertarik Tan Malaka

Ketika seorang anak muda mengatakan “G30S/PKI”, apa yang sebenarnya ada dalam ingatannya? Apakah ia mengetahui peristiwa sejarahnya, pernah membaca kesaksian orang yang hidup pada masa itu, atau hanya mengenali istilah tersebut karena setiap September kembali muncul di media sosial?

Saya tidak ingin buru-buru memberikan jawabannya. Justru pertanyaan itu yang menurut saya menarik untuk ditelusuri.

Sebab generasi yang mengalami 1965 mempunyai pengalaman sendiri, sementara generasi sesudahnya menerima cerita mengenai pengalaman tersebut. Ketika cerita berpindah dari satu generasi ke generasi lain, sebagian detail mungkin hilang, sebagian lainnya berubah, dan sebagian lagi justru menjadi semakin kuat karena terus diulang.

baca ini: Menumpas Kakap dan Teri di Blitar Selatan Pasca G30SPKI

Pada titik tertentu, sebuah peristiwa sejarah bisa berubah menjadi simbol.

Padahal orang-orang yang hidup di dalam peristiwa tersebut tidak menjalani hidup mereka sebagai simbol. Mereka tetap harus bekerja, makan, pergi ke pasar, mengurus keluarga, bertetangga, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Kemudian sebuah perubahan politik datang dan membuat kehidupan yang mereka kenal tidak lagi sama.

Bagi mereka, 1965 bukan judul sebuah buku sejarah, tetapi bagian dari biografi mereka. Karena itu saya merasa cerita tentang 1965 di Kediri masih layak dicari.

Bukan untuk mengulang perdebatan lama atau sekadar membuat tulisan menjelang 30 September, melainkan untuk mendokumentasikan pengalaman orang-orang yang mungkin beberapa tahun lagi sudah tidak dapat ditemui.

Pertanyaan kepada mereka sebenarnya sederhana, apa yang Anda ingat?

baca halaman selanjutnya………

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Page 3 of 4
Prev1234Next
Tags: 3Second kediriG30S1965Ingatan1965JurnalismeSejarahSejarahIndonesia
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Foto: bacaini.id/AI

61 Tahun Setelah 1965, Apa yang Masih Diingat Kediri?

Imigrasi Ngurah Rai mengamankan empat WNA dalam razia di Canggu Bali

Kepergok Jadi DJ di Canggu, 3 WNA Diamankan Imigrasi Ngurah Rai

Mbak Wali Minta Potensi Kelurahan Dikembangkan, Program Merata Pastikan Pembangunan Dirasakan Masyarakat

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In