
Bagi generasi yang lahir jauh setelah 1965, pengalaman tersebut tentu berbeda. Mereka tidak mengalami ketakutan pada masa itu. Mereka mengenalnya dari cerita orang tua, pelajaran sekolah, buku, film, berita, atau sekarang dari media sosial.
Di situlah perubahan cara mengingat mulai terlihat.
Sejarah yang dahulu diwariskan melalui percakapan keluarga kini juga beredar melalui potongan video, unggahan Instagram, TikTok, YouTube dan podcast. Istilah seperti G30S, PKI, Soeharto, komunisme dan Soekarno bisa muncul dalam satu layar bersama kutipan, komentar, meme, bahkan informasi yang konteksnya tidak selalu jelas.
Sejarah menjadi lebih mudah ditemukan, tetapi belum tentu lebih mudah dipahami.
Saya pernah memikirkan persoalan serupa ketika melihat ketertarikan sebagian anak muda terhadap Tan Malaka. Mereka mengenal nama dan sosoknya, menemukan kutipannya di media sosial, kemudian mulai mencari buku dan cerita tentang tokoh tersebut. Tetapi di antara keduanya terdapat jarak yang menarik, apakah mereka benar-benar sedang membaca pemikiran Tan Malaka, atau sebenarnya sedang mengonsumsi citra tentang Tan Malaka?
Pertanyaan semacam itu juga bisa digunakan untuk melihat bagaimana generasi baru mengenal 1965.
baca ini: Gen Z Tidak Suka Baca Buku, Lalu Kenapa Mereka Tertarik Tan Malaka
Ketika seorang anak muda mengatakan “G30S/PKI”, apa yang sebenarnya ada dalam ingatannya? Apakah ia mengetahui peristiwa sejarahnya, pernah membaca kesaksian orang yang hidup pada masa itu, atau hanya mengenali istilah tersebut karena setiap September kembali muncul di media sosial?
Saya tidak ingin buru-buru memberikan jawabannya. Justru pertanyaan itu yang menurut saya menarik untuk ditelusuri.
Sebab generasi yang mengalami 1965 mempunyai pengalaman sendiri, sementara generasi sesudahnya menerima cerita mengenai pengalaman tersebut. Ketika cerita berpindah dari satu generasi ke generasi lain, sebagian detail mungkin hilang, sebagian lainnya berubah, dan sebagian lagi justru menjadi semakin kuat karena terus diulang.
baca ini: Menumpas Kakap dan Teri di Blitar Selatan Pasca G30SPKI
Pada titik tertentu, sebuah peristiwa sejarah bisa berubah menjadi simbol.
Padahal orang-orang yang hidup di dalam peristiwa tersebut tidak menjalani hidup mereka sebagai simbol. Mereka tetap harus bekerja, makan, pergi ke pasar, mengurus keluarga, bertetangga, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Kemudian sebuah perubahan politik datang dan membuat kehidupan yang mereka kenal tidak lagi sama.
Bagi mereka, 1965 bukan judul sebuah buku sejarah, tetapi bagian dari biografi mereka. Karena itu saya merasa cerita tentang 1965 di Kediri masih layak dicari.
Bukan untuk mengulang perdebatan lama atau sekadar membuat tulisan menjelang 30 September, melainkan untuk mendokumentasikan pengalaman orang-orang yang mungkin beberapa tahun lagi sudah tidak dapat ditemui.
Pertanyaan kepada mereka sebenarnya sederhana, apa yang Anda ingat?
baca halaman selanjutnya………



