
Jawabannya bisa membawa kita ke banyak tempat. Seseorang mungkin bercerita tentang ayahnya yang tidak pernah pulang. Orang lain mungkin mengingat seorang tetangga yang tiba-tiba ditangkap. Ada yang mungkin mengingat bagaimana sebuah keluarga meninggalkan rumah. Ada pula yang hanya mengingat suasana kampung yang berubah dan orang-orang yang tiba-tiba berhenti saling berkunjung.
Tidak semua cerita akan sama, dan tidak semuanya benar hanya karena disampaikan oleh orang yang mengaku mengalami sendiri.
Justru karena itu cerita-cerita tersebut perlu dicatat sekarang, ketika para saksi masih ada, kemudian diperiksa dan dibandingkan dengan sumber lain.
baca ini: Siasat Masyumi Kalahkan PKI Dengan Politik Pertobatan
Saya pernah mencari cerita tentang 1965 ketika para saksi itu masih lebih muda. Kini waktu telah bergerak cukup jauh.
Mereka yang dulu saya temui mungkin sudah tidak ada. Sebagian orang yang ketika itu masih anak-anak sekarang menjadi kakek atau nenek. Sementara anak-anak mereka mungkin sudah memiliki anak sendiri yang sama sekali tidak mengalami masa tersebut.
Enam puluh satu tahun adalah waktu yang panjang. Bagi sejarah nasional, angka itu mungkin hanya sebuah rentang waktu. Bagi sebuah keluarga, enam puluh satu tahun bisa berarti tiga generasi.
Itulah sebabnya setiap September saya selalu berpikir bahwa persoalan 1965 bukan hanya soal bagaimana kita mengingat sebuah peristiwa, tetapi juga tentang siapa yang masih dapat menceritakannya.
Suatu saat nanti, orang-orang yang benar-benar mengalami 1965 tidak akan ada lagi. Yang tersisa adalah dokumen, buku, foto, film, dan cerita yang diwariskan dari mereka yang pernah mendengar pengalaman tersebut.
Sebelum sampai pada titik itu, masih ada kesempatan untuk mendengarkan langsung.
baca ini: Cara PKI Ucapkan Selamat Natal, Tapi Tidak Tahun Baru
Mungkin kita tidak akan mendapatkan satu cerita yang mampu menjelaskan seluruh peristiwa 1965. Memang tidak ada satu kesaksian yang bisa melakukan itu.
Tetapi dari cerita seorang ayah, seorang ibu, seorang tetangga, seorang mantan tahanan, seorang anak dari keluarga korban, atau seseorang yang hanya kebetulan melihat peristiwa itu dari dekat, kita bisa memahami bahwa sejarah yang selama ini kita kenal sebagai angka dan tanggal sebenarnya terdiri atas kehidupan manusia yang sangat panjang.
Dan mungkin itu alasan mengapa, setelah 61 tahun, 1965 masih belum benar-benar selesai dibicarakan. Bukan karena bangsa ini kekurangan buku tentangnya. Melainkan karena masih ada orang yang belum selesai menceritakan apa yang mereka alami. (htw/edt)
Tulisan ini dikembangkan dari pengalaman penulis ketika meliput peristiwa 1965 di Jawa Timur pada 2012



