Poin Penting:
- Sudjojono menolak permintaan Bung Karno untuk menghapus kalimat dalam katalog pameran yang menyebut bakat Kartono setara dengan Basuki Abdullah
- Perselisihan dipicu protes Basuki Abdullah yang keberatan namanya disejajarkan dengan pelukis yang saat itu masih pemula
- Sudjojono memilih berhenti bekerja di PUTERA daripada mengorbankan prinsip dan pendapat artistiknya
Bacaini.ID, KEDIRI – Perintah Bung Karno dibantah, dan sepertinya hanya Sudjojono yang berani melakukannya. Dipicu protes pelukis Basuki Abdullah yang menolak disandingkan dengan Kartono, perupa yang dianggap masih pemula, keduanya lantas berdebat keras. Bagi Sudjojono, soal prinsip hanya ada hitam putih, tidak ada supel-supelan, termasuk kepada Bung Karno.
Baca Juga:
“Dalam urusan prinsip tidak ada supel-supelan!. Hitam atau putih. Kalian bisa saja jalan terus tanpa aku. Kan kita sama-sama tahu garisnya. Lagipula, kita kan masih bisa berbincang -bincang tentang soal-soal itu,” tegas Sudjojono seperti diriwayatkan Mia Bustam dalam buku Sudjojono dan Aku.
Perselisihan berlangsung menjelang akhir penjajahan Jepang, di mana keduanya masih sama-sama aktif di PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), organisasi bentukan Jepang. Bersama Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mas Mansyur, Soekarno jadi pimpinan. Sebagai seniman, Sindudarsono Sudjojono menggawangi bidang kebudayaan.
Bung Karno yang awalnya terpikat dengan karya karikatur Sudjojono di Harian Pikiran Rakyat, menggeret pendiri Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi) tersebut untuk bergabung ke dalam organisasi PUTERA.
Di lingkaran Sudjojono ada perupa Ramli, Abdulsalam, Otto Djaja dan banyak lainnya. Juga pelukis Affandi, Dullah, Trubus, Handrio, Darso, Surono. Persagi yang didirikan tahun 1937 merupakan perintis seni rupa modern Indonesia. Menjadi antithesis aliran Mooi Indie.
Melebihi yang lain, Sudjojono diketahui memiliki hubungan yang akrab dengan Bung Karno. ‘Mas’ jadi panggilan akrabnya kepada Bung Karno. Begitu pula dengan istri mereka: Fatmawati dan Mia Bustam, juga bergaul dekat.
Baca Juga:
Keakraban itu buyar setelah keduanya berdebat keras soal protes Basuki Abdullah, pelukis aliran Mooi Indie, kesayangan Bung Karno. Basuki komplain namanya disandingkan dengan pelukis Kartono Yudokusumo dalam katalog yang ditulis Sudjojono.
Ceritanya, Bidang Kebudayaan PUTERA sedang menyiapkan pameran lukisan di bekas gedung sekolah kolonial. Agar terlihat serupa galeri yang artistik ruangan didekorasi oleh Sudjojono, termasuk meminta pelukis Kartono Yudokusumo yang kala itu masih duduk di bangku SMT (Sekarang SMA), memberi sentuhannya.
Sudjojono mengapresiasi kerja Kartono dengan menuliskannya dalam kata pengantar katalog pameran lukisan. Disebutnya bakat Kartono sangat besar, sama besar dengan bakat pelukis Basuki Abdullah.
Membaca kata pengantar katalog yang belum diluncurkan itu, Basuki Abdullah jengkel dan mengadukan kekesalan hatinya kepada Bung Karno. Intinya menolak disejajarkan dengan Kartono.
Baca Juga:
Bung Karno kemudian memanggil Sudjojono, meminta menghapus kalimat di kata pengantar yang dipersoalkan Basuki Abdullah. Sudjojono menolak, karena menurutnya hanya berpendapat soal bakat yang sama besar, dan itu tidak ada salahnya.
“Saya tidak bicara tentang tekhniknya. Dalam hal tekhnik, tentu saja Kartono belum apa-apa dibandingkan dengan Basuki yang keluaran Rijksakademie Amsterdam,” kata Sudjojono seperti dikutip dari buku Sudjojono dan Aku.
Namun Bung Karno tetap memaksa menghapus. Dengan suara keras memerintahkan mencabut kalimat yang dipersoalkan Basuki Abdullah, dan tetap Sudjojono kukuh dengan pendiriannya.
Ia mengancam memilih berhenti bekerja ketimbang menyalahi prinsip dan jawaban Bung Karno mempersilahkan. Dalam buku Sudjojono dan Aku disebutkan Sudjojono kemudian berdiri dan bergegas pergi.
“Lebih baik saya berhenti bekerja, daripada menyalahi pendapat saya mas!,” tegas Sudjojono.
Baca Juga:
Pameran lukisan tetap digelar sesuai jadwal, namun tidak terlihat kehadiran Sudjojono. Kalimat dalam katalog pameran lukisan yang menjadi biang kerok juga dihapus sesuai permintaan Bung Karno.
Penulis: Solichan Arif




