• Login
Bacaini.id
Monday, April 20, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Nastar dan Kastengel, Warisan Kolonial yang Jadi Ikon Kue Lebaran di Indonesia

Jejak Belanda di Balik Kue Favorit Lebaran

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
24 March 2026 16:06
Durasi baca: 4 menit
nastar kue lebaran isi nanas

Nastar dan kastengel menjadi simbol warisan kuliner kolonial yang kini identik dengan tradisi Lebaran di Indonesia (foto AI/Bacaini)

Bacaini.ID, KEDIRI — Nastar dan kastengel menjadi dua kue kering yang hampir selalu hadir di meja tamu saat Lebaran. Di balik rasanya yang khas, ternyata kedua kue ini menyimpan sejarah panjang sebagai warisan kolonial Belanda yang telah beradaptasi dengan bahan dan selera lokal Indonesia.

Baca Juga:

  • Lebaran, Festival Suci yang Bikin Dompet Ikut Bertobat

Di balik rasanya yang familiar, nastar dan kastengel ternyata memiliki sejarah panjang yang berasal dari pengaruh kuliner Belanda, yang kemudian beradaptasi dengan bahan dan selera lokal.

Jejak kolonial melekat erat pada dua jenis kue kering ini. Resep pastry Eropa berakulturasi dengan bahan pangan lokal, menciptakan sajian baru.

Nastar: Dari ‘Ananas Tart’ ke Kue Lebaran

Kue nastar berasal dari kata Belanda ‘ananas’ (nanas) dan ‘taart’ (tart atau pai). Pada masa kolonial, masyarakat Eropa di Hindia Belanda terbiasa mengonsumsi pai buah seperti apel atau blueberry.

Namun, karena bahan-bahan tersebut sulit ditemukan di wilayah tropis, mereka menggantinya dengan buah nanas yang melimpah di Indonesia. Dari sinilah lahir ‘ananas tart’, yang kemudian mengalami penyesuaian bentuk lebih kecil, praktis, dan tahan lama.

Di negara asalnya, kue ini awalnya berbentuk pai besar khas pai Eropa yang diisi dengan buah-buahan subtropis seperti stroberi, apel, atau blueberry. Nastar pun berkembang menjadi kue kering berisi selai nanas dengan tekstur lembut dan rasa manis-asam khas.

Bentuknya pun berubah, dari lebar yang perlu dipotong-potong sebelum mengonsumsinya, menjadi bulat kecil sekali lahap yang bisa dimasukkan dalam toples.

Baca Juga:

  • Cerita Ucapan Hari Raya Idul Fitri dari PKI Untuk Umat Islam Indonesia
  • Daftar Ucapan Idul Fitri 2026 Paling Lengkap dan Tinggal Copas

Menurut sejumlah literatur kuliner, seperti yang dibahas dalam buku Indisch Kookboek pada awal abad ke-20, adaptasi resep Eropa dengan bahan lokal menjadi praktik umum di dapur Hindia Belanda.

Awalnya, kue ini hanya dinikmati oleh kaum elit Belanda dan bangsawan pribumi (priyayi) sebagai hantaran spesial saat Natal atau hari besar. Lambat laun, tradisi ini menyebar ke seluruh lapisan masyarakat dan menjadi sajian wajib saat Idulfitri.

Kastengel: ‘Batang Keju’ Belanda Versi Tropis

Berbeda dengan nastar yang manis, kastengel hadir dengan cita rasa gurih dan dominan keju. Nama kastengel sendiri berasal dari bahasa Belanda, yakni kaas yang artinya keju, dan stengels yang artinya batangan: ‘batangan keju’.

Di Belanda, kastengel awalnya dikenal sebagai camilan keju berbentuk stik yang renyah. Ketika masuk ke Indonesia, resep ini mengalami modifikasi, terutama dalam penggunaan bahan seperti margarin dan jenis keju yang lebih mudah didapat.

Kastengel asli berasal dari kota Krabbendijke di Belanda. Di sana, kue ini dulunya dibuat sangat panjang yang bisa sampai sepanjang 30 cm.

Kastengel versi Indonesia cenderung lebih kaya rasa, dengan tambahan topping keju parut di atasnya. Teksturnya pun dibuat lebih lembut dibanding versi aslinya yang cenderung keras dan kering.

Di masa kolonial, keju merupakan barang mewah yang cuma bisa dibeli orang Belanda dan kaum bangsawan. Karena itu, kastengel dulu jadi simbol status sosial tinggi.

Adaptasi ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal tidak hanya meniru, namun juga mengembangkan resep agar sesuai dengan preferensi rasa dan kondisi bahan di Indonesia.

Sama seperti nastar yang mengalami modifikasi bentuk, kastengel pun demikian. Dari batangan panjang stik keju yang lembut, menjadi pendek-pendek dan bertekstur renyah. 

Dari Meja Kolonial ke Tradisi Lebaran

Baik nastar maupun kastengel merupakan contoh nyata dari proses akulturasi budaya melalui makanan. Awalnya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu pada masa kolonial, kini kedua kue ini justru menjadi simbol keramahan saat Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi menyajikan kue kering saat Lebaran sendiri berkembang sebagai bagian dari budaya menjamu tamu. Nastar dan kastengel dipilih karena tahan lama, mudah disajikan, dan disukai berbagai kalangan.

Menurut sejumlah kajian sejarah kuliner Nusantara, percampuran budaya dalam makanan seperti ini banyak terjadi di era kolonial, terutama di dapur rumah tangga yang mempertemukan teknik memasak Eropa dengan bahan lokal.

Kini, nastar dan kastengel tidak hanya sekadar makanan, namun telah menjadi bagian dari identitas kuliner Lebaran di Indonesia. Keduanya menjadi simbol kehangatan, kebersamaan, dan tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah banyaknya varian kue modern, eksistensi nastar dan kastengel tetap kuat, membuktikan bahwa rasa klasik yang lahir dari sejarah panjang masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: nastar dan kastengel
Via: warisan kolonial
Tags: kastengelkue kering lebaranlebaran 2026nastarnastar dan kastengel
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Penumpang kereta api padat di awal 2026

Daop 7 Madiun Catat 3 Juta Penumpang di Awal 2026, Kereta Jadi Solusi Tekan Emisi Karbon

Bunga blue poppy berwarna biru langit mekar di pegunungan Himalaya

Saking Indahnya Blue Poppy Sempat Dianggap Mitos, Ini Fakta Ilmiah di Baliknya

RA Kartini tokoh emansipasi perempuan Indonesia

Kritik Kartini terhadap Poligami: Suara Perempuan Jawa yang Mengguncang Zaman

  • Jatmiko Dwijo Saputro adik Gatut Sunu saat memberikan pernyataan terkait pemeriksaan KPK di Tulungagung

    Adik Gatut Sunu Akhirnya Angkat Bicara: Saya Jaga Jarak Sejak Awal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Kediri Tak Punya Strategi Lanjutkan Proyek Alun-alun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ponorogo dan Panggilan Sejarah: Dari Daerah Agraris Menuju Penyangga Kedaulatan Pangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemblokiran TPA Klotok Picu Krisis Sampah di Kota Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In