Poin Penting:
- Virus Andes diduga memicu wabah misterius di kapal pesiar MV Hondius hingga menewaskan tiga orang
- Virus langka jenis hantavirus ini dapat menular antar manusia melalui kontak dekat
- WHO kini melakukan investigasi dan pengawasan ketat untuk mencegah penyebaran lebih luas
Bacaini.ID, KEDIRI – Virus Andes yang diduga menjadi penyebab wabah misterius di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik kini menjadi perhatian dunia kesehatan internasional. Virus langka dari kelompok hantavirus ini diketahui memiliki kemampuan menular antar manusia dan telah menyebabkan tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia.
Baca Juga:
Wabah yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius menarik perhatian otoritas kesehatan internasional karena sebagian besar hantavirus lazimnya hanya menular dari hewan pengerat ke manusia. Virus Andes jadi pengecualian karena mampu menyebar antarmanusia, meski tingkat penularannya tidak semudah virus pernapasan seperti COVID-19 atau influenza.
Hingga saat ini dilaporkan ada delapan kasus terkait dengan pelayaran, terdiri dari kasus yang sudah terkonfirmasi maupun berstatus dugaan. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara beberapa pasien lainnya masih menjalani perawatan intensif di berbagai negara. Sementara laporan resmi dari Kemenkes RI menyebutkan selama periode 2024 hingga Mei 2026, tercatat ada 23 kasus positif hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi. Terbaru, 2 suspek dilaporkan positif pada awal Mei ini di Jakarta dan Yogyakarta.
Wabah Misterius Bermula dari Kapal Pesiar MV Hondius
Kasus wabah hantavirus bermula ketika sejumlah penumpang dan kru kapal pesiar MV Hondius mengalami gejala penyakit serius selama pelayaran di Samudra Atlantik. Otoritas kesehatan kemudian melakukan investigasi setelah muncul dugaan adanya infeksi virus berbahaya di dalam kapal.
WHO bersama sejumlah laboratorium internasional mulai memeriksa sampel klinis pasien. Dari hasil investigasi awal, hantavirus menjadi salah satu dugaan utama penyebab wabah tersebut.
Kecurigaan kemudian mengarah lebih spesifik pada Virus Andes. Dugaan itu semakin kuat karena adanya kemungkinan penularan antar manusia di lingkungan kapal yang tertutup dan padat interaksi.
Dikutip dari laporan Livescience, pada 6 Mei, Pusat Penyakit Virus Baru di Rumah Sakit Universitas Jenewa mengumumkan hasil laboratorium yang mengonfirmasi keberadaan Virus Andes pada salah satu pasien yang dirawat di Swiss.
Pasien tersebut diketahui langsung menghubungi rumah sakit setelah menerima email pemberitahuan dari operator kapal mengenai insiden kesehatan yang terjadi selama pelayaran.
Virus Andes merupakan salah satu anggota keluarga hantavirus, kelompok virus yang biasanya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus liar. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran hewan yang mengandung virus.
Infeksi hantavirus sebenarnya tergolong jarang terjadi pada manusia. Namun, ketika infeksi muncul, dampaknya bisa sangat serius. Tingkat kematian akibat hantavirus bahkan dapat mencapai 50 persen tergantung jenis virus dan kondisi pasien.
Virus Andes pertama kali dikenali di Amerika Selatan, terutama di Argentina dan Chile. Virus ini menjadi perhatian ilmuwan karena berbeda dari hantavirus lain yang umumnya tidak menular antar manusia.
Menurut para ahli, penularan Virus Andes antarmanusia diduga terjadi melalui kontak dekat dalam waktu lama, terutama dengan cairan tubuh atau percikan pernapasan pasien yang terinfeksi.
Meski begitu, penularannya tidak disebut semudah virus pernapasan lain. Para ahli mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan, namun langkah isolasi tetap penting dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Gejala Infeksi Hantavirus yang Perlu Diwaspadai
Gejala hantavirus sering kali menyerupai flu pada tahap awal sehingga cukup sulit dikenali. Pasien biasanya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan tubuh terasa lemas. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius hingga gagal organ.
Beberapa jenis hantavirus dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus (Hantavirus Pulmonary Syndrome/HPS) yang menyerang sistem pernapasan secara cepat dan berbahaya.
Karena belum tersedia obat antivirus khusus untuk hantavirus, penanganan medis lebih fokus pada perawatan suportif seperti pemberian oksigen, cairan infus, hingga bantuan ventilator jika kondisi pasien memburuk. Dokter menilai penanganan cepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang pasien bertahan hidup.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak awal sudah mengambil langkah antisipasi begitu muncul dugaan Virus Andes di kapal pesiar tersebut. Protokol khusus langsung diterapkan dalam penanganan virus Andes yang memiliki potensi penularan antar manusia. Langkah yang dilakukan meliputi isolasi pasien yang dicurigai terinfeksi, pemeriksaan kontak erat, serta koordinasi lintas negara untuk memantau penumpang kapal. Investigasi masih terus dilakukan untuk memastikan pola penularan di kapal pesiar tersebut.
Kondisi Terkini Penumpang dan Kru MV Hondius
Sementara itu, penumpang lain di kapal MV Hondius masih berada dalam pemantauan ketat. WHO menyebut kapal akan diarahkan menuju Kepulauan Canary untuk pemeriksaan epidemiologi lanjutan.
Otoritas kesehatan dilaporkan akan melakukan disinfeksi kapal secara menyeluruh dan mengevaluasi kondisi kesehatan seluruh penumpang maupun kru yang masih berada di atas kapal.
Tiga pasien dengan status dugaan infeksi sebelumnya juga telah dievakuasi ke Belanda guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonosis, penyakit yang berasal dari hewan, masih menjadi perhatian serius dunia kesehatan global. Meski wabah besar seperti COVID-19 telah mereda, kemunculan kasus baru dari virus langka tetap memerlukan respons cepat agar penyebaran dapat dikendalikan sejak dini.
Para ahli juga menilai kasus di kapal pesiar ini menunjukkan pentingnya sistem deteksi dini dan koordinasi internasional dalam menangani penyakit menular yang berpotensi lintas negara.
Hingga kini, para ilmuwan menilai kemungkinan Virus Andes berkembang menjadi pandemi global masih tergolong rendah. Penularannya tidak secepat virus pernapasan lain dan biasanya membutuhkan kontak dekat dalam durasi tertentu.
Namun, para ahli tetap meminta kewaspadaan karena virus terus mengalami perubahan dan mutasi seiring waktu. Penelitian lanjutan kini sedang dilakukan untuk mempelajari lebih jauh subtipe Virus Andes yang ditemukan pada kasus kapal pesiar tersebut. Para ilmuwan berharap data genetik virus dapat membantu memahami pola penyebaran dan tingkat bahayanya.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





