Bacaini.ID, KEDIRI – Isu harga Pertalite yang disebut mencapai Rp16.088 per liter tanpa subsidi memicu kegaduhan di media sosial. Banyak warganet mengira harga jual resmi akan naik drastis, namun Pertamina segera memberikan klarifikasi bahwa angka tersebut bukanlah harga jual di SPBU, melainkan harga keekonomian.
Pertamina menjelaskan, harga keekonomian Pertalite saat ini mencapai Rp16.088 per liter, tetapi masyarakat tetap membayar Rp10.000 per liter karena pemerintah menanggung selisih sekitar Rp6.088 per liter melalui subsidi.
Kebijakan baru yang mulai berlaku sejak 19 April 2026 membuat struk pembelian BBM di SPBU mencantumkan besaran subsidi yang ditanggung negara. Langkah ini disebut sebagai bentuk transparansi agar publik mengetahui beban APBN dalam menjaga harga Pertalite tetap terjangkau.
Meski demikian, muncul perdebatan karena harga keekonomian Pertalite terlihat lebih tinggi dibandingkan Pertamax yang dijual Rp12.300 per liter, padahal kualitas Pertamax lebih baik dengan kadar oktan RON 92.
Pertamina menegaskan bahwa harga jual Pertalite tidak berubah dan tetap Rp10.000 per liter. Pencantuman harga keekonomian Rp16.088 hanya untuk menunjukkan besarnya subsidi yang diberikan pemerintah.

Namun, di tengah kondisi harga minyak dunia yang masih tinggi, publik mempertanyakan efektivitas subsidi BBM, terutama karena beban APBN semakin berat. Kritik juga diarahkan pada kebijakan subsidi yang dianggap tidak tepat sasaran, mengingat Pertalite memiliki kualitas lebih rendah tetapi justru menyedot subsidi lebih besar dibandingkan Pertamax.
Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menegaskan kebijakan subsidi sudah dirancang oleh pemerintah dengan kajian bahwa subsidi diberikan terhadap produk yang paling besar digunakan oleh masyarakat.
Karena itu Pertalite ditetapkan oleh pemerintah sebagai bensin Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP). Sementara Pertamax merupakan jenis BBM umum yang tidak diberikan subsidi karena harganya mengikuti harga pasar. Ini lantaran Pertamax digunakan juga bagi masyarakat menengah yang mampu.
Penulis: Hari Tri Wasono





