• Login
Bacaini.id
Monday, May 11, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Mengenal Yakuza, Organisasi Kriminal yang Tak Lagi Menakutkan

Dalam sejarah panjang Jepang, Yakuza menempati posisi unik sebagai organisasi kriminal sekaligus fenomena sosial. Yakuza bukan sekadar mafia modern, melainkan hasil dari proses historis yang berakar sejak masa Edo (1603–1868).

ditulis oleh Redaksi
11 May 2026 19:31
Durasi baca: 2 menit
Ilustrasi tatto anggota Yakuza. Foto: istimewa

Ilustrasi tatto anggota Yakuza. Foto: istimewa

Bacaini.ID, KEDIRI – Sejumlah literatur sejarah menulis kemunculan Yakuza dapat ditelusuri dari tiga kelompok utama; kabuki-mono, tekiya, dan bakuto.

Kabuki-mono adalah samurai tanpa tuan (ronin) yang hidup eksentrik, mengenakan pakaian mencolok, dan sering menebar kekerasan di jalanan. Dari perilaku mereka lahir kelompok hatamoto-yakko, yang kemudian menjadi embrio organisasi jalanan.

Sementara tekiya adalah pedagang keliling yang membentuk jaringan perlindungan di pasar, bahkan diakui pemerintah Edo sebagai pengelola resmi.

Sedangkan bakuto adalah penjudi ilegal yang memainkan kartu Hanafuda. Menurut Peter Hill dalam buku berjudul The Japanese Mafia: Yakuza, Law, and the State, dari permainan ini lahir istilah “Ya-Ku-Za” (kombinasi angka 8-9-3), simbol tangan terburuk yang kemudian menjadi nama organisasi.

Seiring berjalannya waktu, Yakuza berkembang menjadi sindikat kriminal dengan struktur hierarkis yang ketat. Mereka mengadopsi simbolisme khas seperti tato tradisional (irezumi) yang menutupi tubuh, melambangkan keberanian dan status, serta ritual pemotongan jari (yubitsume) sebagai tanda penyesalan dan loyalitas mutlak kepada bos.

Kode kehormatan mereka menekankan kesetiaan, mirip dengan sistem mafia Italia, namun tetap bercorak lokal dengan nuansa budaya Jepang, seperti ditulis Kenji Ino dalam buku Yakuza to Nihonjin.

Memasuki era Meiji hingga Perang Dunia II, Yakuza mulai terlibat dalam politik, menyediakan tenaga kerja, dan menguasai pasar gelap. Pasca perang, mereka tumbuh pesat dengan menguasai hiburan malam, properti, dan perdagangan ilegal.

Organisasi besar seperti Yamaguchi-gumi muncul sebagai sindikat terbesar, dengan ribuan anggota tersebar di seluruh Jepang. Meski kriminal, Yakuza kadang tampil sebagai “penolong bayangan” masyarakat. Saat gempa Kobe 1995, misalnya, mereka menyediakan bantuan logistik lebih cepat daripada pemerintah, memperlihatkan paradoks antara peran kriminal dan sosial.

Hal ini didokumentasikan oleh Andrew Rankin dalam buku berjudul 21st-Century Yakuza: Recent Trends in Organized Crime in Japan, yang diterbitkan Cambridge University Press pada tahun 2025.

Namun, memasuki abad ke-21, regulasi ketat dari pemerintah Jepang dan stigma publik membuat Yakuza kehilangan pengaruh. Generasi muda lebih memilih bergabung dengan kelompok kriminal baru yang lebih cair, dikenal sebagai hangure.

Sejarawan Jepang mengungkap jika Yakuza menghadapi dilema eksistensi di tengah modernitas. Mereka tetap menjadi simbol budaya populer, tetapi bukan lagi penguasa bayangan yang menakutkan, seperti ditulis Martina Baradel dalam buku berjudul 21st Century Yakuza: Death of Japanese Organised Crime.

Dari penelusuran di atas, bisa disimpulkan bahwa Yakuza adalah potret perjalanan Jepang, dari samurai tanpa tuan, pedagang pasar, hingga sindikat kriminal modern. Yakuza mungkin akan tetap menjadi legenda, tetapi bukan lagi penguasa bayangan yang menakutkan.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: jepangroninyakuzayakuza maneges
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi tatto anggota Yakuza. Foto: istimewa

Mengenal Yakuza, Organisasi Kriminal yang Tak Lagi Menakutkan

Anggota Komisi II DPR RI, Muhammad Khozin. Foto: Bunga/Alma (dpr.go.id)

Anggota DPR RI Usul Seluruh Guru Honorer Diangkat PPPK

Muh Samanhudi Anwar calon Ketua KONI Kota Blitar

Eks Narapidana Korupsi Boleh Mencalonkan Ketua KONI Blitar, Samanhudi Lolos Syarat

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yakuza Maneges, Kelompok Marginal yang Menjadi Poros Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mutasi Polri 2026, Dirreskrimum Polda Jatim Diganti Kombes Roy Hutton

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In