Bacaini.ID, KEDIRI – Sebuah organisasi baru bernama Yakuza Maneges resmi dideklarasikan pada 9 Mei 2026 di Hotel Bukit Daun, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Organisasi yang didirikan Gus Thuba, cucu KH Hamim Thohari Djazuli atau Gus Miek ini merekrut masyarakat marginal, eks-preman, dan mereka yang sering disebut “jalur kiri” untuk menemukan jalan baru melalui dakwah dan kemanusiaan.
Dalam deklarasi tersebut, Yakuza Maneges menegaskan diri bukan sebagai kelompok kriminal, melainkan wadah transformasi sosial dengan pendekatan restorative justice.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwianto, dan sejumlah pejabat Pemkot Kediri hadir dalam deklarasi tersebut. Kehadiran mereka memberi legitimasi bahwa Yakuza Maneges bukan sekadar gerakan pinggiran, melainkan organisasi yang ingin menjadi mitra strategis pemda ke depan.
Profil Gus Thuba
Lahirnya Yakuza Maneges tak lepas dari peran Gus Thuba Topo Broto Maneges, pendakwah muda asal Kediri. Ia adalah cucu ulama kharismatik KH Hamim Djazuli (Gus Miek), yang dikenal dengan dakwah jalanan dan semangat merangkul siapa pun, bahkan mereka yang dianggap jauh dari kebaikan.
Gus Thuba adalah putra Kyai Tijani Robert Saifunnawas (Gus Robert) dan Ning Nida Duturiah, putri Kiai Ahmad Shiddiq, pendiri NU Jember. Garis keturunan ini membuat Gus Thuba memiliki legitimasi spiritual yang kuat.
Dalam dakwahnya, Gus Thuba dikenal sederhana, tegas, dan karismatik. Ia melanjutkan tradisi Majelis Semaan Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan, dengan gaya bicara yang mengingatkan banyak orang pada Gus Miek. Popularitasnya di kalangan muda semakin menguatkan posisi Yakuza Maneges sebagai gerakan yang punya daya tarik lintas generasi.
Kehadiran Yakuza Maneges menimbulkan dinamika baru di Kediri, yang mengubah simbol yang selama ini identik dengan kriminalitas menjadi wadah dakwah dan transformasi sosial.
Meski membawa spirit merangkul masyarakat marginal, mereka yang sering disebut “jalur kiri”, untuk diarahkan menuju kehidupan yang lebih bermakna melalui nilai kemanusiaan dan spiritualitas, dampak sosial dari Yakuza Maneges masih perlu dihitung.
Di satu sisi, masyarakat Kediri yang terbiasa dengan tradisi dakwah inklusif ala Gus Miek melihat organisasi ini sebagai peluang baru. Narasi “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi” memberi harapan bagi mereka yang ingin keluar dari lingkaran kekerasan atau kehidupan jalanan. Ditambah pendekatan restorative justice yang ditawarkan juga sejalan dengan kultur musyawarah Jawa, sehingga terasa lebih dekat dengan nilai lokal.
Namun stigma nama “Yakuza” tetap menjadi tantangan besar. Meski sudah diberi makna baru, konotasi negatif yang melekat pada istilah itu sulit dihapus dari benak masyarakat awam.
Organisasi ini berpotensi distigma sebagai kelompok berbahaya jika tidak ada penjelasan yang memadai. Simbol “Yakuza” bisa dianggap provokatif dan berpotensi menimbulkan kecurigaan bahwa organisasi ini hanyalah kedok baru bagi premanisme.
Bagaimanapun, pemerintah daerah melihat peluang menjadikan Yakuza Maneges sebagai mitra sosial, meski berpeluang menjadi kekuatan politik baru yang sulit dikendalikan.
Dalam konteks politik lokal, Yakuza Maneges berpotensi menjadi aktor baru dengan basis massa yang kuat. Kharisma Gus Thuba dan legitimasi spiritualnya bisa menjadikan organisasi ini lebih dari sekadar gerakan dakwah, melainkan kekuatan sosial-politik yang mampu memengaruhi arah kebijakan atau dinamika masyarakat Kediri.
Yakuza Maneges adalah fenomena sosial yang kompleks, membawa harapan bagi transformasi masyarakat marginal, sekaligus menimbulkan risiko polarisasi akibat stigma nama yang dipilih.
Keberhasilan organisasi ini akan sangat bergantung pada kemampuan Gus Thuba dan para pengikutnya dalam mengelola komunikasi publik, menjaga konsistensi dakwah, serta membuktikan bahwa Yakuza Maneges benar-benar menjadi wadah perubahan, bukan sekadar simbol kontroversial.
Penulis: Hari Tri Wasono





