Poin Penting:
- Frekuensi BAB normal tidak harus setiap hari, melainkan 3 kali seminggu hingga 3 kali sehari
- Indikator kesehatan pencernaan lebih akurat dilihat dari bentuk feses berdasarkan Bristol Stool Chart
- Perubahan pola BAB mendadak yang disertai gejala serius perlu segera diperiksakan ke dokter
Bacaini.ID, KEDIRI – Banyak orang masih menganggap Buang Air Besar (BAB) yang sehat harus terjadi setiap hari. Tak sedikit yang bahkan melakukan berbagai cara demi memenuhi anggapan tersebut. Padahal, secara medis, frekuensi BAB normal tidak sesederhana itu dan bisa berbeda pada setiap individu.
Baca Juga:
Tubuh manusia diketahui memiliki ritme pencernaan yang bervariasi, dan kesehatan pencernaan tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang BAB. Para ahli gastroenterologi menekankan bahwa setiap individu memiliki metabolisme yang unik. Memaksakan untuk dapat BAB setiap hari padahal sistem pencernaan memiliki ritem berbeda, justru dapat menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.
Dalam dunia medis, dikenal sebuah pedoman bernama ‘Rule of Three’ mengenai frekuensi BAB orang dewasa yang dianggap normal: Minimal tiga kali dalam seminggu, maksimal tiga kali dalam sehari.
Baca Juga:
Jadi jika ada seseorang yang BAB setiap 2 atau 3 hari sekali, itu normal. Pun dengan orang yang setiap kali sehabis makan, beberapa saat kemudian buru-buru ke toilet untuk BAB, itu juga sehat dan normal.
Indikator Sehat Bukan Frekuensi, Tapi Bentuk Feses
Frekuensi BAB hanyalah angka. Indikator nyata kesehatan usus adalah tekstur feses sesuai
acuan yang digunakan dokter di seluruh dunia: Bristol Stool Chart. Panduan ini
mengklasifikasikan feses ke dalam 7 tipe.
- Tipe 1: Gumpalan keras terpisah seperti kacang. Tinja sulit dikeluarkan yang mengindikasikan sembelit yang parah dan seringkali disertai rasa nyeri saat BAB.
- Tipe 2: Seperti sosis namun menggumpal atau bergelombang dan susah dikeluarkan. Meskipun lebih baik dari Tipe 1 namun kondisi ini menunjukkan sembelit ringan.
- Tipe 3: Mirip sosis dengan retakan dipermukaan, mudah dikeluarkan. Ini dianggap tinja yang normal dan sehat, menunjukkan transit makanan yang baik di dalam usus.
- Tipe 4: Seperti sosis atau ular dengan permukaan halus dan lembut, mudah dikeluarkan. Ini adalah bentuk tinja yang paling ideal menurut medis. Tanda fungsi pencernaan yang sangat baik.
- Tipe 5: Gumpalan lunak yang terpisah dengan tepi yang jelas. Mengindikasikan kekurangan serat atau transit yang sedikit lebih cepat dari normal.
- Tipe 6: Potongan-potongan lembek dengan tepi berbulu atau bergerigi dan tidak memiliki bentuk padat yang jelas. Mengindikasikan diare ringan atau transit makanan yang sangat cepat.
- Tipe 7: Encer, sepenuhnya cair tidak ada potongan padat. Indikasi diare berat dan dapat menjadi tanda dehidrasi atau gangguan pencernaan yang serius.
Menurut standar internasional diagnosis gangguan pencernaan, seseorang baru dinyatakan mangalami konstipasi atau sembelit fungsional jika frekuensi BAB-nya kurang dari tiga kali seminggu dalam tiga bulan terakhir, yang disertai dengan gejala:
- Mengejan keras pada setidaknya 25% waktu BAB
- Feses terasa sangat keras atau menggumpal
- Perasaan tidak tuntas, masih ada yang mengganjal, setelah selesai.
Faktor yang Memengaruhi Jadwal BAB
Perbedaan frekuensi BAB antar individu dipengaruhi oleh beberapa variabel biologis dan gaya hidup:
- Asupan serat: Serat dari sayuran dan buah meningkatkan massa feses sehingga lebih mudah didorong keluar.
- Hidrasi: Tanpa air yang cukup, usus besar akan menyerap kembali air dari feses, membuatnya menjadi keras dan jarang keluar.
- Aktivitas fisik: Gerakan ttubuh merangsang gerakan peristaltik atau kontraksi otot, di dalam usus.
- Mikrobioma usus: Keseimbangan bakteri baik dalam perut menentukan seberapa cepat makanan diproses.
Namun, meskipun BAB 2-3 hari sekali itu normal, ada baiknya waspada jika terjadi perubahan pola secara mendadak. Segera temui tenaga medis jika frekuensi yang jarang tersebut disertai darah dalam feses, nyeri perut atau kram yang hebat, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan perut terasa sangat kembung atau begah secara permanen.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





