Bacaini.ID, JEMBER – Lebih dari sekadar ajang olah fisik, Gerak Jalan Tanggul–Jember Tradisional (Tajemtra) telah menjadi identitas yang mengakar kuat di hati masyarakat Jember. Perjalanan panjang lintas generasi yang diinisiasi sejak 1977 ini terus membuktikan daya pikatnya sebagai simbol solidaritas dan ketahanan warga setempat.
Rute puluhan kilometer dari Tanggul menuju pusat kota Jember tak pernah sepi dari derak langkah puluhan ribu peserta setiap tahunnya. Tajemtra menjadi ruang perjumpaan inklusif yang melintasi batas status sosial, profesi, hingga usia.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Regar Jeane Daelen Nangka menegaskan bahwa nilai utama dari Tajemtra terletak pada semangat persatuan yang dibawanya.
“Sejak 1977 sampai hari ini, generasinya berganti tetapi semangat Tajemtra tetap sama. Di sepanjang perjalanan tidak ada sekat. Pelajar, masyarakat umum, komunitas, ASN, pekerja, tua maupun muda berjalan di jalur yang sama dan menuju garis finis yang sama. Inilah salah satu wajah kebersamaan masyarakat Jember,” ungkap Regar Jumat (4/9/2026)
Ia menambahkan, rute Tanggul–Jember menyimpan filosofi mendalam tentang pentingnya ketahanan, konsistensi, serta saling menopang satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.
Di luar aspek olahraga, Tajemtra bertransformasi menjadi pesta rakyat yang bergairah. Sepanjang lintasan, antusiasme warga yang bersorak, keunikan kostum para peserta, hingga denyut geliat ekonomi UMKM lokal menciptakan atmosfer khas yang membedakan Tajemtra dari event olahraga lainnya.
Daya hidup tradisi ini kian menguat. Pada perhelatan Tajemtra 2026, rekor partisipasi baru berhasil diukir dengan total 25.613 peserta—angka tertinggi sejak 2015. Seluruh peserta berjuang menyelesaikan jarak 29,4 kilometer yang membentang dari Alun-Alun Tanggul hingga Alun-Alun Jember.
Pemerintah Kabupaten Jember memandang besarnya antusiasme ini sebagai wujud warisan budaya yang terus hidup dan adaptif. Ke depan, Tajemtra ditargetkan tak hanya makin meriah secara penyelenggaraan, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang nyata bagi UMKM serta makin memperkuat citra budaya Jember di tingkat yang lebih luas.
“Tradisi tidak cukup hanya dipertahankan. Tradisi harus diwariskan kepada generasi berikutnya, dibuat semakin menarik, dan memberikan manfaat yang semakin luas. Kita ingin anak-anak muda Jember suatu saat bisa bercerita bahwa mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tajemtra,” tutur Regar. (meg/adv)




