• Login
Bacaini.id
Tuesday, August 25, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Dampak Psikologis Nonaktifnya BPJS bagi Pasien Penyakit Kronis

ditulis oleh Hari Tri Wasono
9 February 2026 20:21
Durasi baca: 3 menit
Ilustrasi pasien cuci darah. Foto: istimewa

Ilustrasi pasien cuci darah. Foto: istimewa

Bacaini.ID, KEDIRI – Pasien penyakit kronis seperti gagal ginjal menjadi “korban” terberat yang menanggung dampak kepesertaan BPJS yang mendadak non aktif. Bagi mereka, hal ini bukan sekadar urusan administrasi, tetapi pemicu krisis psikologis yang diam-diam menggerus daya tahan hidup.

Coba bayangkan, pasien yang sedang menjalani perawatan rutin, termasuk pasien gagal ginjal, mendadak menghadapi status PBI nonaktif tepat saat hendak berobat. Kepanikan tentu terjadi. Sebab peralatan di Ruang Hemodialisa adalah penopang hidup mereka.

Mengapa pasien kronis paling rentan?

Penyakit kronis menuntut rutin untuk kontrol berkala, obat yang berkelanjutan, serta prosedur yang terjadwal. Gangguan kecil dalam akses layanan dapat menciptakan efek domino; keterlambatan tindakan, kekambuhan, hingga komplikasi.

Dalam kasus hemodialisis (cuci darah) misalnya, pasien sering menghadapi stres psikologis signifikan dan stress yang berhubungan dengan kepatuhan terapi. Semakin tinggi stres, kepatuhan bisa menurun.

Pasien kronis juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan dan depresi. Sebuah penelitian di Indonesia (menggunakan DASS-21) menemukan prevalensi kecemasan dan depresi pada anggota masyarakat dengan penyakit kronis berada pada level yang perlu diperhatikan. Bahkan ada proporsi yang masuk kategori berat hingga sangat berat.

Ketika status jaminan kesehatan tiba-tiba nonaktif, faktor stres baru ditambahkan ke beban yang sudah berat.

Bagi pasien kronis, yang paling melelahkan bukan hanya rasa sakit, tetapi ketidakpastian. Apakah terapi berlanjut, apakah obat bisa ditebus, dan apakah jadwal kontrol aman. Literatur tentang aspek psikososial pada pasien hemodialisis mencatat adanya ketakutan terhadap masa depan, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup.

Saat status PBI nonaktif diketahui mendadak, ketidakpastian itu meledak. Pasien dan keluarga dipaksa menghitung biaya, menimbang risiko medis, dan menghadapi birokrasi reaktivasi. Semuanya dalam kondisi emosi tinggi. Di ruang tunggu rumah sakit, ini sering tampil sebagai panik, marah, atau diam membeku.

Tiga dampak psikologis paling mungkin terjadi:

Kecemasan akut dan rasa takut kehilangan terapi
Kecemasan meningkat ketika pasien melihat masa depan terapi menjadi kabur. Penelitian pada pasien hemodialisis menunjukkan stres dan depresi terkait erat; perceived stress yang lebih tinggi berhubungan dengan skor depresi lebih tinggi.

“Learned helplessness” dan penurunan motivasi berobat
Ketika sistem terasa tidak dapat diprediksi, pasien dapat merasa tidak berdaya. Ini berbahaya karena pada penyakit kronis, kepatuhan terapi adalah kunci. Studi juga menunjukkan keterlibatan pasien (patient engagement) dapat melindungi dari efek buruk stres terhadap kepatuhan; artinya, saat pasien kehilangan rasa kontrol, risiko non-adherence membesar.

Beban keluarga: stres finansial → konflik emosional
Ketika status nonaktif, keluarga sering menjadi “penyangga darurat”: mencari pinjaman, menjual aset, atau mondar-mandir mengurus reaktivasi. Literatur psikososial pada dialisis mencatat perubahan peran keluarga dan tekanan sosial sebagai bagian dari stressor.

Mengapa ini jarang dibahas? Karena dampaknya tidak selalu viral

Media mudah menangkap antrean panjang atau kasus ekstrem. Namun, dampak psikologis sering terjadi secara sunyi: insomnia, serangan panik, ketakutan sebelum kontrol, atau depresi yang membuat pasien enggan melanjutkan terapi.

Padahal, riset di Indonesia menunjukkan kebutuhan skrining masalah psikologis pada masyarakat dengan penyakit kronis agar gejala tertangani sejak dini.

Di titik ini, masalah status nonaktif bukan lagi sekadar “hak layanan,” melainkan menyentuh hak atas rasa aman. Dan rasa aman adalah komponen penting dari perawatan jangka panjang.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: bpjsBPJS KEsehatanBPJS non aktifcuci darahhemodialisapenyakit kronis
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Sejarah perlawanan rakyat Pati dan tokoh-tokohnya

Pati Punya Sejarah Panjang Perlawanan, dari Pragola hingga Syekh Mutamakkin

Telur ayam dan cara menyimpannya agar aman dari Salmonella

Telur Ayam Murah Melimpah, Waspadai Bahaya Salmonella dan Begini Cara Menyimpannya

Ferrari Luce Chassis 0 mobil listrik pertama Ferrari

Ferrari Luce Terjual Rp650 Miliar, Mobil Listrik Termahal di Lelang

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In