Poin Penting:
- Cokelat berbasis sel dikembangkan ilmuwan Israel tanpa biji kakao alami
- Diprediksi mulai masuk pasar global pada 2027
- Produksi lebih efisien dan bisa disesuaikan dengan AI
- Menuai kritik sebagai strategi substitusi bahan murah
Bacaini.ID, KEDIRI – Inovasi di dunia pangan kembali mengejutkan. Kali ini, cokelat—makanan yang selama ini identik dengan biji kakao alami—berhasil diciptakan ilmuwan Israel di laboratorium tanpa perlu menanam pohon. Teknologi ini bahkan diklaim mampu menekan biaya produksi sekaligus menjawab lonjakan harga kakao global.
Baca Juga:
Baru-baru ini perusahaan global Mondelez mengembangkan cokelat berbasis cell-cultured cocoa butter, mentega kakao yang dibuat di laboratorium tanpa perlu menanam pohon kakao.
Perusahaan cokelat internasional yang menaungi beberapa merk camilan berbahan dasar cokelat seperti Oreo, Cadburry dan Toblerone sejak tahun 2022 berinvestasi untuk penelitian pengembangan mentega kakao ‘buatan’ yang dilakukan oleh startup bioteknologi dari Israel, Celleste Bio. Hasilnya, cokelat batangan berbasis sel berhasil diciptakan untuk pertama kalinya di dunia pada awal April lalu.
Cokelat ‘buatan lab’ ini diprediksi akan mulai masuk ke pasar pada 2027. Bukan tanpa alasan mengapa inovasi pangan terus dilakukan. Proses ‘penciptaan’ mentega kakao untuk kepentingan produksi cokelat sebagai makanan, didasari pada harga kakao yang terus melambung karena berbagai faktor.
Selain itu, memroduksi ‘cokelat’ di laboratorium dianggap lebih murah dalam jangka panjang, meningkatkan produksi hingga pemenuhan permintaan pasar yang tinggi.
Bagaimana Proses Cokelat Berbasis Sel Dibuat?
Berbeda dengan cokelat konvensional yang berasal dari biji kakao, produk ini memanfaatkan teknologi cell-based atau kultur sel. Teknologi ini mirip dengan proses produksi daging kultur (cultured meat), yang juga dikembangkan tanpa proses peternakan namun dengan menumbuhkan jaringan daging di lab.
Dikutip dari laman Celleste Bio, pengembangan mentega kakao yang dilakukan oleh perusahaan ini berbasis kecerdasan buatan (AI) yang bisa disesuikan dengan permintaan pelanggan. Celleste Bio memilih berbagai varietas biji kakao, mengekstrak sel-selnya, dan menumbuhkannya dalam bioreaktor dengan vitamin, mineral, air dan gula.
Hasilnya kemudian menjadi biomassa yang kemudian diekstraksi mentega dan bubuk kakao. Prosesnya mirip dengan produksi kakao di alam, namun dalam lingkungan terkontrol di bawah kondisi yang di optimalkan.
Perusahaan tersebut menyatakan bahwa model berbasis AI dirancang untuk menyesuaikan mentega kakao dengan spesifikasi yang diinginkan klien mereka, seperti titik leleh dan rasa.
Secara teknis, cokelat ‘buatan lab’ ini bisa sangat mirip dengan kakao asli, namun bagi pecinta cokelat tradisional, jenis cokelat baru ini menimbulkan perdebatan.
Beberapa pihak juga menyoroti pengembangan cokelat tersebut dan memperingatkan bahwa ini bukan sekedar inovasi berkelanjutan (sustainable innovation), melainkan strategi korporasi untuk mengganti bahan asli dengan substitusi yang lebih murah demi menjaga keuntungan korporasi.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





