• Login
  • Register
Bacaini.id
Thursday, January 15, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Bendungan Mitigasi Bencana Sudah Ada di Zaman Airlangga

Airlangga merupakan raja Jawa yang begitu peduli dengan mitigasi bencana alam banjir dan kekeringan. Karenanya dibangun bendungan Waringin Sari

ditulis oleh Editor
6 December 2025 12:58
Durasi baca: 4 menit
raja airlangga

Bendungan mitigasi bencana sudah ada sejak zaman Raja Airlangga berkuasa (foto/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI – Bendungan di Nusantara sudah ada sejak zaman kerajaan masa lampau. Menjadi bagian tidak terpisahkan dari peradaban sejak ribuan tahun lalu.

Bendungan salah satu bukti kecerdasan hidrolik masyarakat kuno. Bukan hanya alat pengendali air, tapi simbol ketangguhan dalam menghadapi bencana alam seperti banjir dan kekeringan.

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha hingga masa pra-kolonial, struktur ini telah membentuk lanskap pertanian, ekonomi, dan kehidupan sosial. Bukti masyarakat Nusantara sudah melek teknologi pengelolaan air jauh sebelum pengaruh Barat datang.

Baca Juga:

  • Kisah Kelam Kediri, Lahir dari Tumpahan Darah dan Air Mata
  • Berburu Ikan Mabuk Sudah Ada Sejak Kerajaan Airlangga

Jejak bendungan pertama di Nusantara dapat ditelusuri hingga abad ke-9 Masehi, seperti Bendung Gomanta yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 850 M.

Prasasti-prasasti kuno, seperti Prasasti Kalasan dan Mantyasih mencatat bagaimana bendungan ini tidak hanya mencegah banjir, tetapi juga mengairi sawah-sawah luas, mendukung kemakmuran rakyat.

Perkembangan ini terus berlanjut melalui berbagai dinasti, dari Bendung Kamulan pada abad ke-10 hingga sistem irigasi rumit di era Majapahit, menunjukkan evolusi pengetahuan lokal yang adaptif terhadap alam tropis yang sering kali tak terduga.

Di antara warisan bendungan yang gemilang itu, Bendungan Waringin Sari yang dibangun Raja Airlangga pada tahun 1041 Masehi menonjol sebagai masterpiece mitigasi bencana.

Setelah kerajaan hancur akibat banjir dahsyat tahun 1016 M, Airlangga membangun struktur megah ini untuk mengalihkan aliran Sungai Brantas, menyelamatkan ibu kota Watan Mas, dan membuka lahan pertanian baru. 

Airlangga, Raja Berkesadaran Mitigasi Bencana

Airlangga atau Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa, merupakan raja Kerajaan Kahuripan, dan kemudian Medang Kamulan, yang memerintah di Jawa Timur pada tahun 1019–1042/1043 M.

Airlangga salah satu raja Jawa kuno yang paling terkenal karena kesadaran tinggi terhadap mitigasi bencana banjir melalui pembangunan infrastruktur air, terutama bendungan. Dalam bahasa Jawa kuno disebut weringin sari atau bendung.

Bukti utama kesadaran mitigasi ini tertulis dalam Prasasti Kamalagyan yang berangka tahun 1037 Masehi (959 Saka). Secara spesifik mencatat peristiwa pembangunan sebuah bendungan atau ‘tambak’ di daerah Waringin Sapta.

Pembangunan ini dilakukan atas perintah Raja Airlangga untuk mengatasi banjir yang sering melanda wilayah muara Sungai Brantas dan mengganggu kehidupan masyarakat serta jalur perdagangan.

Bendungan ini berhasil mengalihkan aliran air Sungai Brantas yang meluap, mencegah banjir di ibu kota kerajaan dan membuka lahan pertanian baru yang sangat luas. Rakyatpun kembali makmur setelah bencana.

Lokasi bendungan yang dimaksud diyakini adalah Bendungan Waringin Sapta atau disebut juga Bendungan Sri Lestari di dekat Gunung Penanggungan, yang sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa reruntuhannya dan dikenal sebagai ‘Tugu Wringin Lawang’.

Prasasti lainnya adalah Prasasti Turryan (929 Saka / 1007 M). Prasasti ini sudah menyebut sistem irigasi canggih sejak masa ayah mertuanya, Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa.

Prasasti Kamalagyan (1037 M) menyebut pembuatan waduk dan saluran air untuk pertanian. Dan Prasasti Gandhakuti (1042 M) menyebut Airlangga membagi kerajaan menjadi dua (Janggala dan Panjalu/Kadiri) karena alasan pengelolaan air dan pertanian yang semakin luas setelah bendungan selesai. 

Pralaya, Membuat Raja Trauma Pada Bencana

Kepedulian Airlangga pada mitigasi bencana, tidak lepas dari sejarah kerajaan Medang yang hancur akibat Pralaya, bencana besar.

Airlangga naik tahta justru setelah kehancuran kerajaan Medang akibat Pralaya di tahun 1016–1017 M, yang diduga kuat karena banjir bandang, letusan Merapi ditambah serangan Wurawari, kelompok yang dianggap sebagai perusuh.

Ibukota Watan Mas rusak parah, Airlangga mengungsi ke hutan selama beberapa tahun sebelum kembali membangun kerajaan.

Pengalaman traumatis ini membuatnya sangat fokus pada pengendalian air. Airlangga menjadi salah satu raja Nusantara pertama yang tercatat melakukan mitigasi bencana banjir secara sistematis dengan membangun bendungan besar, bahkan 1000 tahun sebelum konsep ‘disaster mitigation’ modern muncul.

Bendungan Waringin Sapta yang ia buat merupakan bukti nyata kecerdasan hidrolik masyarakat Jawa kuno.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: bendungan zaman raja airlangga
Via: raja airlangga
Tags: bacaini.idBanjirbendunganbendungan masa airlanggabendungan mitigasi bencanaraja airlangga
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ratusan warga Desa Wonodadi Blitar menolak pembangunan gedung KDMP di lapangan desa

Warga Wonodadi Blitar Protes Lokasi Gedung KDMP, Dinas: Kurang Sosialisasi

Tips Atasi Rasa Canggung Bersama Keluarga Pasangan Saat Liburan Bareng

Long Weekend Isra Mikraj, Saatnya Healing dan Quality Time

Ilustrasi Calon Jemaah Haji Trenggalek yang belum melunasi BIPIH 2026

36 CJH Trenggalek Tak Lunasi BIPIH 2026, Kuota Haji Tak Terserap Maksimal

mount paltry
Tekno & Sains

Mount Paltry Gunung Terkecil di Dunia Sukses Kecoh Netizen Internasional

Bacaini.ID, KEDIRI – Mount Paltry diklaim sebagai gunung terkecil di dunia. Lantaran tingginya hanya 7 cm, informasi beserta visual itu...

Baca ini..

Napi Lapas Blitar Diduga Dianiaya Hingga Koma

Kebanyakan Kuliner di Blitar yang Ramai Karena Murah, Bukan Enak, Itu Tak Diragukan

Lapas Blitar Blak-blakan Soal Penganiayaan Napi yang Berujung Kematian

Paradigma Realisme dalam Hubungan Internasional

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist