• Login
Bacaini.id
Sunday, May 3, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Bendungan Mitigasi Bencana Sudah Ada di Zaman Airlangga

Airlangga merupakan raja Jawa yang begitu peduli dengan mitigasi bencana alam banjir dan kekeringan. Karenanya dibangun bendungan Waringin Sari

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
6 December 2025 12:58
Durasi baca: 4 menit
raja airlangga

Bendungan mitigasi bencana sudah ada sejak zaman Raja Airlangga berkuasa (foto/ist)

Bacaini.ID, KEDIRI – Bendungan di Nusantara sudah ada sejak zaman kerajaan masa lampau. Menjadi bagian tidak terpisahkan dari peradaban sejak ribuan tahun lalu.

Bendungan salah satu bukti kecerdasan hidrolik masyarakat kuno. Bukan hanya alat pengendali air, tapi simbol ketangguhan dalam menghadapi bencana alam seperti banjir dan kekeringan.

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha hingga masa pra-kolonial, struktur ini telah membentuk lanskap pertanian, ekonomi, dan kehidupan sosial. Bukti masyarakat Nusantara sudah melek teknologi pengelolaan air jauh sebelum pengaruh Barat datang.

Baca Juga:

  • Kisah Kelam Kediri, Lahir dari Tumpahan Darah dan Air Mata
  • Berburu Ikan Mabuk Sudah Ada Sejak Kerajaan Airlangga

Jejak bendungan pertama di Nusantara dapat ditelusuri hingga abad ke-9 Masehi, seperti Bendung Gomanta yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 850 M.

Prasasti-prasasti kuno, seperti Prasasti Kalasan dan Mantyasih mencatat bagaimana bendungan ini tidak hanya mencegah banjir, tetapi juga mengairi sawah-sawah luas, mendukung kemakmuran rakyat.

Perkembangan ini terus berlanjut melalui berbagai dinasti, dari Bendung Kamulan pada abad ke-10 hingga sistem irigasi rumit di era Majapahit, menunjukkan evolusi pengetahuan lokal yang adaptif terhadap alam tropis yang sering kali tak terduga.

Di antara warisan bendungan yang gemilang itu, Bendungan Waringin Sari yang dibangun Raja Airlangga pada tahun 1041 Masehi menonjol sebagai masterpiece mitigasi bencana.

Setelah kerajaan hancur akibat banjir dahsyat tahun 1016 M, Airlangga membangun struktur megah ini untuk mengalihkan aliran Sungai Brantas, menyelamatkan ibu kota Watan Mas, dan membuka lahan pertanian baru. 

Airlangga, Raja Berkesadaran Mitigasi Bencana

Airlangga atau Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa, merupakan raja Kerajaan Kahuripan, dan kemudian Medang Kamulan, yang memerintah di Jawa Timur pada tahun 1019–1042/1043 M.

Airlangga salah satu raja Jawa kuno yang paling terkenal karena kesadaran tinggi terhadap mitigasi bencana banjir melalui pembangunan infrastruktur air, terutama bendungan. Dalam bahasa Jawa kuno disebut weringin sari atau bendung.

Bukti utama kesadaran mitigasi ini tertulis dalam Prasasti Kamalagyan yang berangka tahun 1037 Masehi (959 Saka). Secara spesifik mencatat peristiwa pembangunan sebuah bendungan atau ‘tambak’ di daerah Waringin Sapta.

Pembangunan ini dilakukan atas perintah Raja Airlangga untuk mengatasi banjir yang sering melanda wilayah muara Sungai Brantas dan mengganggu kehidupan masyarakat serta jalur perdagangan.

Bendungan ini berhasil mengalihkan aliran air Sungai Brantas yang meluap, mencegah banjir di ibu kota kerajaan dan membuka lahan pertanian baru yang sangat luas. Rakyatpun kembali makmur setelah bencana.

Lokasi bendungan yang dimaksud diyakini adalah Bendungan Waringin Sapta atau disebut juga Bendungan Sri Lestari di dekat Gunung Penanggungan, yang sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa reruntuhannya dan dikenal sebagai ‘Tugu Wringin Lawang’.

Prasasti lainnya adalah Prasasti Turryan (929 Saka / 1007 M). Prasasti ini sudah menyebut sistem irigasi canggih sejak masa ayah mertuanya, Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa.

Prasasti Kamalagyan (1037 M) menyebut pembuatan waduk dan saluran air untuk pertanian. Dan Prasasti Gandhakuti (1042 M) menyebut Airlangga membagi kerajaan menjadi dua (Janggala dan Panjalu/Kadiri) karena alasan pengelolaan air dan pertanian yang semakin luas setelah bendungan selesai. 

Pralaya, Membuat Raja Trauma Pada Bencana

Kepedulian Airlangga pada mitigasi bencana, tidak lepas dari sejarah kerajaan Medang yang hancur akibat Pralaya, bencana besar.

Airlangga naik tahta justru setelah kehancuran kerajaan Medang akibat Pralaya di tahun 1016–1017 M, yang diduga kuat karena banjir bandang, letusan Merapi ditambah serangan Wurawari, kelompok yang dianggap sebagai perusuh.

Ibukota Watan Mas rusak parah, Airlangga mengungsi ke hutan selama beberapa tahun sebelum kembali membangun kerajaan.

Pengalaman traumatis ini membuatnya sangat fokus pada pengendalian air. Airlangga menjadi salah satu raja Nusantara pertama yang tercatat melakukan mitigasi bencana banjir secara sistematis dengan membangun bendungan besar, bahkan 1000 tahun sebelum konsep ‘disaster mitigation’ modern muncul.

Bendungan Waringin Sapta yang ia buat merupakan bukti nyata kecerdasan hidrolik masyarakat Jawa kuno.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: bendungan zaman raja airlangga
Via: raja airlangga
Tags: bacaini.idBanjirbendunganbendungan masa airlanggabendungan mitigasi bencanaraja airlangga
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan simbol kebebasan berekspresi dan aktivitas jurnalis

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026: Tema Perdamaian hingga Tantangan Kebebasan Media di Indonesia

Hamparan bunga liar berwarna-warni di Namaqualand saat musim semi

Wisata Bunga Liar Mendunia: Alternatif Selain Sakura, Ini Destinasi Terbaiknya

Ilustrasi Gojek. Foto: istimewa

Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Gojek-Grab, Ini Perhitungannya

  • Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

    Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAI Daop 7 Madiun Kembangkan Bisnis Non-Core, Hadirkan Lounge dan Integrasi Transportasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In