Bacaini.ID, JOMBANG – Nahdlatul Ulama (NU) dalam sepanjang sejarahnya sulit kompak. Terjadi kekompakan ketika muncul momentum kontroversial. Dikutip dari buku PBNU Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama karya Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, salah satu ketidakkompakan adalah ketika NU keluar dari Masyumi, dan itu dimotori oleh KH Wahab Chasbullah.
Saat itu tahun 1952, Mbah Wahab selaku Rais Aam memerintahkan NU secara jam’iyah dan jamaah keluar dari Masyumi, dan itu kemudian diputuskan resmi dalam Muktamar ke-19 NU di Palembang. Semua putra KH Hasyim Asy’ari menolak. Yang tidak menolak hanya KH Wahid Hasyim, yang kala itu menjabat Ketua Umum Tanfidziah PBNU.
Wahid Hasyim merupakan ayah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan memilih tawadu’ terhadap apa yang dikehendaki Rais Aam. Sedangkan saudara-saudaranya tetap bertahan di Masyumi. Sementara saat ditanya alasan NU mesti keluar, Mbah Wahab menjawab dengan ringan, dan itu menjadi ciri khas nahdliyin dalam memandang masalah.
“Supaya kita punya bis sendiri. Apakah sudah ada yang bisa nyopir atau belum, tidak masalah,” demikian jawaban ringan Mbah Wahab seperti dikutip dari buku PBNU Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama.
“Kalau tidak ada yang bisa nyopir, kita sewa sopir. Yang penting bisnya milik kita,” tambahnya.
Dalam argumentasi yang lebih serius KH Wahab Chasbullah mengatakan NU menginginkan persatuan. Tetapi tidak bersatu sebagai kuda tunggangan. “Orang lain yang menunggang kita yang dipecuti,” katanya, dan “Karena itulah kita harus keluar dari Masyumi,” lanjutnya.
Sejarah mencatat, keputusan keluarnya NU dan kemudian berdiri sebagai partai politik berdampak besar pada elektabilitas Masyumi. Pada Pemilu 1955, Masyumi meraup kemenangan 30 persen suara, gagal memenangkan lebih 50 persen suara. Sedangkan perolehan NU sekitar 18 persen suara.
Dengan demikian Masyumi juga gagal memperjuangkan agenda politik di konstituante, yakni mengegolkan konstitusi negara Islam dan menjadikan Indonesia negara Islam. Jika agenda tersebut terwujud, akan terjadi konflik dengan PNI, PKI dan partai lain yang tidak habis-habis.
Warga nahdliyin melihat keputusan Mbah Wahab meminta NU keluar dari Masyumi sebagai naluri kewalian. “Dan mereka yang mencoba rasional mungkin akan mengatakan itu kepekaan intuisi, tetapi hal-hal semacam itulah yang sering menjadi keajaiban,” kata Gus Yahya dalam PBNU Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama.
Gus Dur yang menyerap ilmu Kiai Chudlori, Kiai Wahab, Kiai Bisri, Kiai Achmad Shiddiq pernah mengatakan, kita (NU) membangun demokrasi supaya orang berpolitik tidak usah pakai bunuh-bunuhan, bukan hanya agar NU kelihatan sebesar apa kekuatannya. (sa/edt)




