Bacaini.ID, JOMBANG — Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, berharap Muktamar ke-35 NU di Ponpes Tambakberas Jombang bisa menjadi momentum untuk tata kelola organisasi yang lebih sehat, solid dan inklusif. Sebab Muktamar NU bukan ajang kontestasi pragmatis untuk berebut kekuasaan.
“Jangan sampai muktamar hanya menghasilkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah muktamar seluruh warga NU bisa kembali berjalan bersama,” ujar Yenny Wahid kepada wartawan di Jombang.
Yenny Wahid mengingatkan kepada seluruh elemen pengurus dan peserta muktamar untuk tidak terjebak dalam kontestasi pragmatis perebutan kekuasaan. Siapapun yang terpilih memimpin PBNU memiliki beban dan pekerjaan rumah besar untuk merangkul kembali seluruh kelompok.
“Siapa pun yang akan memenangkan, akan terpilih, maka kewajiban utamanya adalah menyatukan seluruh faksi yang sekarang terlibat dalam pertikaian,” kata Yenny.
Agenda mendesak yang wajib dikerjakan kepengurusan PBNU mendatang adalah melakukan proses konsolidasi dan rekonsiliasi total. Dengan demikian akan mengembalikan soliditas jam’iyah serta meredakan berbagai gesekan internal, baik di tingkat pusat hingga daerah.
Menurut Yenny, upaya penyembuhan dinamika internal tidak boleh dibangun di atas dasar kepentingan kelompok atau faksi tertentu. Seluruh pilar NU diimbau kembali menjadikan asas dan warisan spiritual para pendiri (muassis) sebagai pijakan utama perjuangan.
Salah satu yang terpenting adalah menghidupkan kembali semangat Khittah NU serta menjadikan Qanun Asasi sebagai pedoman dasar organisasi. “Mengembalikan NU kembali ke khitahnya, ya. Lalu menjadikan Qanun Asasi sebagai prinsip dasar menjalankan Nahdlatul Ulama ke depannya nanti,” tegas Yenny.
Qanun Asasi merupakan rumusan naskah dasar karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 yang menjadi fondasi perjuangan keagamaan, sosial, dan kebangsaan NU. (sya/sa)




