Bacaini.ID, KEDIRI – Nasirun, salah satu maestro lukis Indonesia meninggal dunia pada Sabtu Kliwon (1/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB di kediamannya di kawasan Bayeman, Jalan Wates, Kasihan, Bantul, DIY. Jenazah almarhum kabarnya akan dimakamkan di kompleks Makam Seni Girisapto, Imogiri, Bantul, tempat peristirahatan terakhir sejumlah seniman besar Yogyakarta.
Kabar duka meninggalnya pelukis Nasirun disampaikan oleh Agus Noor, penulis cum seniman yang juga sahabat almarhum melalui akun Instagram pribadinya. Meninggalnya diketahui cukup mendadak mengingat tidak ada riwayat penyakit serius sebelumnya, kecuali keluhan asam lambung dan sakit dada pada hari-hari terakirnya.
“Mendapat kabar, pelukis Nasirun meninggal dunia, sekitar pukul 05.30-an pagi tadi,” tulis Agus Noor di akun Instagramnya.
Informasinya, jenazah Nasirun akan dimakamkan di kompleks Makam Seni Girisapto, Imogiri, Bantul, tempat peristirahatan terakhir sejumlah seniman besar Yogyakarta lainnya.
Profil Nasirun, Maestro Lukis Indonesia
Lahir dengan enam saudara pada 1 Oktober 1965 di Desa Karangkawah Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, Nasirun memiliki nama asli Masyhuri. Karena kerap sakit-sakitan sejak kecil, namanya kemudian diganti Nasirun yang bermakna ‘tertolong’.
Nasirun mencintai seni sejak kecil. Menonton wayang kulit dan mendengar dongeng-dongeng mistik dari sang ibu jadi kegemarannya dan kelak mempengaruhi perjalanan seninya. Nasirun merantau ke Yogyakarta dan menekuni pendidikan seni di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) sejak tahun 1983.
Dengan bertahan hidup dari mencangkul di sawah dan menjadi pelukis batik, Nasirun berhasil melanjutkan pendidikan ke jurusan seni murni di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) atau cikal bakal Institute Seni Indonesia (ISI) pada tahun 1987.
Lulus tahun 1994, Nasirun memutuskan seni rupa atau menjadi perupa sebagai jalan hidupnya. Ia dikenal sebagai seniman dengan karya-karya yang menafsir ulang seni tradisi, utamanya pewayangan. Karyanya telah dipamerkan di mana-mana, baik di dalam negeri maupun luar negeri dan jadi buruan kolektor.
Berbagai penghargaan telah diterimanya, salah satunya McDonald’s Award pada Lustrum ke-10 ISI Yogyakarta tahun 1994. Pelukis yang terkenal dengan keramahan dan kesederhanaannya itu menikah dengan Illah dan dikaruniai tiga orang anak.
Selamat jalan Pak Nasirun, swargi langgeng
Penulis: Solichan Arif




