Bacaini.ID, KEDIRI – Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Oing Abdul Muid menyesalkan terjadinya keributan dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Senin, 22 Juni 2026. Ia meminta NU lebih selektif dalam memilih pengurus yang memiliki akhlak baik.
Pernyataan itu disampaikan Gus Muid merespon terjadinya keributan saat penentuan lokasi Muktamar NU. Forum sempat diwarnai aksi saling dorong antarpeserta yang memaksa petugas keamanan turun tangan.
Ketegangan dipicu ketika dalam sidang berhembus anggapan bahwa lokasi Muktamar NU ke-35 telah ditetapkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Informasi tersebut memicu reaksi dari sejumlah peserta yang menilai pembahasan mengenai tuan rumah Muktamar belum selesai.
baca ini:
- Masyayikh NU Minta Larangan Rangkap Jabatan Politik Tidak Dihapus
- Maklumat 26 KMNU Diluncurkan Jelang Munas Konbes NU 2026 di Ploso Kediri
Situasi yang semula berupa adu pendapat kemudian memanas hingga terjadi aksi saling dorong di dalam ruang sidang. Beberapa peserta terlihat berusaha mempertahankan pandangannya masing-masing terkait mekanisme pengambilan keputusan dalam forum tersebut.
Dalam suasana yang kacau, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, mengambil sikap dengan menegaskan bahwa keputusan mengenai lokasi Muktamar belum dapat ditetapkan. Ia bahkan menyatakan mencabut keputusan yang dianggap telah menetapkan Lirboyo sebagai tuan rumah.
Menurut Gus Muid, rapat pleno seharusnya menjadi ruang musyawarah yang teduh, bukan arena adu ego. Ia mengingatkan bahwa NU lahir dari perjuangan ulama, sehingga pengurusnya wajib menampilkan teladan akhlak mulia.
“NU bukan organisasi biasa. Marwahnya dijaga bukan hanya dengan struktur, tetapi juga dengan keluhuran budi penggeraknya,” tegasnya, Selasa, 23 Juni 2026.
Insiden ini, lanjut Gus Muid, perlu dijadikan bahan refleksi dalam sistem kaderisasi NU. Pemimpin yang dipilih harus memiliki integritas, kematangan emosi, dan komitmen terhadap nilai keulamaan.
Ia menekankan pentingnya selektivitas dalam rekrutmen kepengurusan agar NU terhindar dari budaya kekerasan dan tetap berpegang pada tradisi pesantren.
Penulis: Hari Tri Wasono




