Poin Penting:
- Harga pangan strategis di Jawa Timur masih lebih rendah dibanding rata-rata nasional meski rupiah melemah
- Beras, daging, telur, minyak goreng, dan gula tetap stabil berkat pasokan domestik yang melimpah
- Ketahanan pangan jangka panjang tetap membutuhkan penguatan hilirisasi dan kemandirian pakan lokal
Bacaini.ID, KEDIRI – Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah dan memicu kekhawatiran inflasi pangan, Jawa Timur justru mencatat stabilitas harga bahan pokok. Data per 6 Juni 2026 menunjukkan hampir seluruh komoditas strategis di provinsi ini tetap berada di bawah rata-rata harga nasional berkat surplus produksi lokal.
Baca Juga:
Saat harga komoditas pokok di berbagai wilayah Indonesia mulai merangkak naik, Jawa Timur justru tampil sebagai anomali positif dengan mencatatkan pergerakan harga pangan yang landai dan stabil. Data eceran per 6 Juni 2026 dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Siskaperbapo Disperindag Jawa Timur menunjukkan seluruh komoditas pangan strategis bertahan di bawah rata-rata nasional.
Beberapa komoditas memang mengalami kenaikan, namun masih berada di bawah harga rata-rata nasional. Beras medium misalnya, dijual rata-rata Rp12.932 per kilogram, lebih murah dari rata-rata nasional yang menyentuh Rp13.776 per kilogram. Untuk harga beras premium Rp14.882 per kilogram, sedangkan nasional berada di angka Rp15.448 per kilogram. Secara keseluruhan, harga beras nasional mengalami penurunan harga signifikan.
Kondisi yang sama terjadi pada sektor protein hewani dan hortikultura. Daging sapi murni di pasar tradisional Jawa Timur stabil di kisaran Rp124.000 per kilogram, sementara rata-rata nasional sudah melambung ke kisaran Rp140.000 per kilogram. Daging ayam ras segar dan telur ayam ras di Jawa Timur masing-masing hanya berfluktuasi di kisaran rata-rata Rp34.495 per kilogram dan Rp25.784 per kilogram, lebih rendah dari harga nasional yang mencapai rata-rata Rp37.213 dan Rp27.916 per kilogram.
Kenaikan bahan pangan tercatat pada komoditas bawang merah, bawang putih dan sayur mayur. Bawang merah di Jawa Timur berada di kisaran harga Rp47.645 per kilogram, sementara rata-rata nasional sebesar Rp48.487 per kilogram. Bawang putih di Jawa Timur juga mengalami kenaikan menjadi rata-rata Rp28.782 per kilogram, jauh dibawah rata-rata harga nasional: Rp.34.389 per kilogram.
Baca Juga:
- Wabup Blitar Optimistis Harga Telur Bisa Distabilkan, Peternak Rakyat Keluhkan Harga Anjlok
- Polisi di Blitar Tewas Setelah Ribut dengan Wakapolres Soal Asmara
Sementara itu berbeda dengan harga beras dan daging yang turun, menurut data Siskaperbapo Jawa Timur, harga sayur mayur seperti kubis, kentang, buncis, wortel dan tomat mengalami kenaikan. Cabai rawit merah di Jawa Timur dijual seharga Rp64.083 per kilogram, berbanding terbalik dengan harga nasional yang berada di angka Rp68.904 per kilogram. Untuk komoditas pendukung seperti gula pasir lokal dan minyak goreng kemasan sederhana, Jawa Timur juga memimpin efisiensi dengan harga masing-masing Rp17.204 per kilogram dan Rp18.723 per liter, di saat harga nasional bertengger di angka Rp18.257 dan Rp19.633 per liter.
Surplus Produksi Jadi Penopang Stabilitas Harga di Jawa Timur
Ketangguhan Jawa Timur dalam meredam dampak fluktuasi ekonomi ini ditopang oleh kapasitas produksi internal yang surplus. Jawa Timur merupakan lumbung pangan nasional yang mandiri. Kabupaten Blitar merupakan pusat produksi telur ayam ras terbesar, Nganjuk dan Probolinggo adalah lumbung bawang merah, sedangkan Kediri serta Malang mendominasi pasokan cabai.
Baca Juga:
Volume panen lokal secara konsisten melebihi angka konsumsi penduduk setempat, sehingga Jawa Timur memiliki cadangan domestik yang melimpah. Pasokan yang jenuh di pasar lokal ini berhasil mencegah hukum kelangkaan barang, sehingga harga eceran tidak ikut melonjak saat biaya input produksi global naik.
Meskipun saat ini aman, Jawa Timur tetap menghadapi tantangan jangka panjang. Depresiasi rupiah yang berkepanjangan lambat laun akan menekan keuntungan petani dan peternak karena sebagian komponen pakan dan pupuk masih bergantung pada bahan baku impor.
Oleh karena itu, penguatan hilirisasi pertanian, kemandirian pakan lokal, dan optimalisasi koperasi tani menjadi langkah mendesak agar ketahanan pangan di Jawa Timur tetap kokoh menghadapi badai ekonomi global ke depan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




