Poin Penting:
- Wabup Blitar Beky Herdihansah optimistis harga telur ayam bisa distabilkan meski saat ini anjlok hingga Rp21 ribu per kilogram
- Sebanyak 500 peternak rakyat Blitar Raya membagikan 1 juta telur gratis karena rendahnya harga jual dan tingginya biaya pakan
- Pemkab Blitar menyiapkan solusi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih untuk memperluas penyerapan produksi telur peternak
Bacaini.ID, BLITAR – Harga telur Blitar yang anjlok hingga Rp21 ribu per kilogram memicu aksi pembagian 1 juta telur gratis oleh ratusan peternak rakyat di depan Kantor Pemkab Blitar. Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansah optimistis harga telur dapat distabilkan melalui intervensi pemerintah dan penguatan jaringan distribusi.
Baca Juga:
Wabup Beky menganalogikan harga telur ayam dengan harga gabah yang bisa distabilkan, dan karenanya dirinya optimistis harga komoditas telur juga bisa distabilkan. “Harga gabah saja bisa distabilkan, masak harga telur tidak bisa, biar peternak kecil peternak rakyat bisa berkembang,” ujar Wabup Beky di depan Kantor Pemkab Blitar Senin (1/6/2026).
Aksi bagi-bagi 1 juta telur oleh 500-an peternak rakyat Blitar Raya diketahui berlangsung di depan kantor Pemkab Blitar dengan membawa 200-an unit mobil pikap. Telur dibagikan gratis kepada warga dengan masing-masing mendapat satu kantung plastik kecil berisi lima butir telur.
Ditemui Bupati Blitar Rijanto dan Wabup Beky Herdihansah, para peternak rakyat menyampaikan keluhan harga telur yang anjlok menjadi Rp21 ribu per kilogram, dan sementara harga pakan ternak (jagung dan konsentrat) makin tinggi.
Peternak rakyat menghadapi situasi yang sulit, di mana dengan harga yang ada saat ini mereka tidak mampu lagi menjangkau biaya produksi. Saat ini yang dibutuhkan adalah langkah konkrit dari pemerintah menyetabilkan harga telur dan pakan ternak.
Wabup Beky yang berlatar belakang peternak ayam dan sekaligus pengusaha pakan ternak mengatakan harga telur ayam idealnya Rp24.000-Rp26.500 per kilogram. Namun realitas di lapangan masih jauh di bawah harga tersebut dan itu merugikan peternak.
Ia juga menyampaikan persoalan harga telur telah menjadi perhatian pemerintah, termasuk adanya acuan harga yang diusulkan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas). Persoalan stabilitas harga telur memang diperlukan campur tangan pemerintah.
“Sudah ada acuan harga dari Bapanas sebesar Rp24.500 sampai Rp26.500 per kilogram. Ke depan distribusi melalui Koperasi Desa Merah Putih bisa menjadi solusi agar harga lebih stabil dan tidak dimainkan spekulan,” terang Beky.
Bupati Blitar Rijanto menyatakan turut prihatin dengan kondisi harga telur ayam saat ini, yang diakuinya menyulitkan kelangsungan usaha peternak ayam, khususnya peternak rakyat.
Situasi yang ada ini menurutnya tidak bisa didiamkan, karena jika berlangsung lebih lama akan banyak peternak rakyat gulung tikar. Pemkab akan segera mengambil langkah strategis mencari solusi bersama.
Salah satu solusi alternatif adalah memaksimalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yakni memperluas jaringan dalam rangka penyerapan telur ayam sebagai bahan pangan dan komoditas.
“Ini agar peternak rakyat bisa bertahan. Salah satunya penyerapan telur untuk kebutuhan SPPG (MBG) dan pemasaran melalui koperasi desa merah putih (KDMP),” kata Bupati Rijanto.
Sementara sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar sebanyak 7.372 peternak dengan 436 peternak di antaranya skala perusahaan dan selebihnya peternak rakyat.
Total jumlah populasi ayam ras petelur di Kabupaten Blitar mencapai 22 juta ekor dengan produksi telur sebanyak 1.150-1.200 ton per hari, yang itu menjadi penyumbang terbesar kebutuhan telur di Provinsi Jawa Timur dan nomor dua secara nasional.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif




