Samanhudi Anwar kembali menjadi sorotan di tengah polemik Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030. Yang terpenting baginya saat ini adalah hidup dengan sehat. Kalau saja pernah membaca buku Seperti Roda Berputar, ia tentu akan menyempurnakan dengan kalimat ini: ‘Karena sakit itu sepi, menyakitkan dan tentu saja mahal’, sebagai alasan pentingnya kesehatan.
Kesehatan jadi alasan Muh Samanhudi Anwar untuk terus rutin bergerak, olahraga, khususnya jogging, berlari, yang itu dilakukannya setiap selepas subuh. Bagi laki-laki yang pada 20 Oktober 2026 nanti genap berusia 61 tahun, lari sejauh 6 km saban pagi telah menjadi kebiasaan dan sekaligus kesenangan.
“Setiap pagi saya lari 6 kilometer, dan sampai rumah lagi sekitar pukul 06.30. Saat ini yang terpenting bagi saya adalah kesehatan,” tutur Samanhudi Anwar saat ditemui di rumahnya di Jalan Kelud, Kota Blitar, Jawa Timur belum lama ini.
Mengenakan kemeja warna merah tua, duduk di kursi kayu panjang di depan meja berukuran senada, dengan kudapan roti dan secangkir kopi, Samanhudi terlihat semakin bugar dan awet muda. Penampilannya nyaris tidak banyak berubah.
Pak Hudi atau Pak Hud, begitu ia akrab disapa. Pada dinding belakangnya terpampang frasa Never Give Up di bawah tulisan Kawulo Alit yang ditulis dengan font latin Northwell, yang itu masuk frame saat Bacaini.id minta izin memotretnya. “Ini semangatnya, never give up,” selorohnya tiba-tiba sembari tertawa lepas.
Never give up berwarna biru yang jadi tagline sekaligus spirit hidup itu mengingatkan pada sastrawan besar cum jurnalis Ernest Hemingway, yang selalu menutup surat-suratnya dengan kalimat: il faut d’abord durer atau di atas segalanya orang atau manusia mesti bertahan.
Dalam realitas yang bisa terlacak, Samanhudi Anwar memang tidak berhenti mempertontonkan sikap never give up ataupun il faut d’abord durer. Dari jabatan Wali Kota Blitar, lalu jatuh dengan cap eks narapidana kasus korupsi dan terdakwa otak perampokan tidak membuatnya terpuruk.
Faktanya ia tetap berdiri tegak. Bahkan belum lama ini memenangkan pemilihan Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030, yang itu sekaligus menegaskan rekam jejaknya sebagai politisi yang nyaris tidak pernah kalah dalam pertarungan, khususnya di Kota Blitar.
Kemenangannya dalam pemilihan KONI Kota Blitar kini jadi polemik dan masih panas, apalagi setelah Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin mewacanakan penyaluran dana hibah langsung ke cabang olahraga (cabor), bukan ke KONI selaku organisasi induknya.
Pemkot Blitar dalam kajiannya beralasan tidak bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang masih memiliki problem hukum. Pencabutan hak politik Samanhudi Anwar sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi, dianggap masih berlaku.
Apa jawaban laki-laki yang pernah populer dengan jargon APBD Pro Rakyat itu?
“Saya sebenarnya sudah tidak ingin berfikir politik. Saat ini lebih fokus mengurus bisnis, pekerjaan dan menata anak-anak. Ada yang masih sekolah di Amerika,” ungkapnya menanggapi polemik KONI Kota Blitar yang sampai saat ini masih membara.
Perjalanan dan pelajaran hidup yang menjadi alasan dirinya merasa sudah cukup di panggung politik, dan memilih lebih fokus mengurus bisnis dan keluarga. Pada sisi lain ia sudah mendapatkan apa yang diinginkan semua orang dalam hidup.
Mengutip sastrawan Hemingway, setiap orang dalam hidup menginginkan kesehatan, pekerjaan yang lancar, keriangan bersama kawan-kawan, dan kenikmatan di ranjang, dan sebagian besar seperti diketahui telah dimiliki Samanhudi Anwar.
Ia punya jaringan, punya pengaruh, punya orang-orang yang masih loyal, punya Kawulo Alit, dan itu sudah dibuktikan di Pilkada 2024 silam. Karenanya meski terlempar dari partai yang pernah membesarkan dan dibesarkannya di Kota Blitar, hal itu tidak membuatnya patah arang.
Samanhudi mengaku sebenarnya sudah memutuskan menjaga jarak dengan politik, namun kemudian dihadapkan pada situasi urusan Ketua KONI Kota Blitar yang tak bisa ditampiknya. Ia didesak maju oleh para loyalisnya karena dianggap hanya dirinya yang sanggup menghadapi Tony Andreas.
Pada sisi lain posisi ketua menurut pandangannya memang harus dipegang putra daerah, orang Kota Blitar asli, karena itu sudah menjadi marwah KONI Kota Blitar. Meski tidak tertarik, Samanhudi akhirnya memutuskan maju dan memenangkan pemilihan.
“Saya dari awal mengatakan tidak tertarik (menjadi ketua KONI), karena malah turun grade. Masak dari wali kota ke KONI,” katanya yang itu ditegaskannya berulangkali.
Samanhudi juga menegaskan akan mundur dari Ketua KONI Kota Blitar saat dirinya dilantik nanti. Ia mengatakan pernyataannya serius dan bukan retorika politik. Surat pengunduran diri tersebut sudah dibuat dan tinggal mengisi tanggalnya.
Karenanya kepada pihak yang mempersoalkan posisinya sebagai Ketua KONI Kota Blitar terpilih dengan berbagai alasan, termasuk yang hendak menggugat, Samanhudi menyarankan tidak usah dilanjutkan karena itu hanya akan buang-buang uang.
“Lebih baik uangnya dibagikan kepada fakir miskin, diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Toh saya akan mundur saat dilantik nanti,” tuturnya.
Namun dengan adanya gonjang-ganjing pemilihan Ketua KONI Kota Blitar ini, Samanhudi mengatakan dirinya akan kembali masuk gelanggang politik, yang itu hanya tinggal menunggu waktu dan momentum yang tepat.
“Saya akan kembali ke politik. Samanhudi Anwar never give up,” pungkasnya.
Penulis: Solichan Arif
*) Penulis adalah jurnalis Bacaini.id




