Bacaini.ID, KEDIRI – Soe Hok Gie tidak pernah nyaman berada dekat dengan kekuasaan. Baginya, otoritas adalah musuh terakhir moralitas yang harus terus diawasi dan dilawan demi menjaga keberpihakan kepada rakyat kecil.
Baca Juga:
Ia tidak pernah risih dituduh sebagai seorang anarkis, dan justru membuatnya senang. Permainan aman dan taktis demi keuntungan taktis selalu ditolaknya, baik itu di masa kekuasaan Soekarno maupun pemerintahan Soeharto.
Ia tetap melihat kekuasaan sebagai musuh terakhir moralitas, dan karenanya secara naluriah selalu muncul rasa tidak nyaman ketika dikaitkan dengan otoritas kekuasaan. Soe Hok Gie tidak peduli sikapnya disebut sebagai pemberontakan anak muda, sebab ia telah menjadi pengajar di Fakultas Sastra.
“Secara emosional, saya tetaplah seorang mahasiswa, meskipun saya berstatus guru. Saya merasa sulit menyesuaikan diri secara emosional dengan kondisi baru saya,” tulis Gie dalam In Memoriam: Soe Hok Gie.
“Jika tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan, saya merasa tidak bisa tinggal di rumah. Saya tidak tahu apakah ini hanya sebuah fase, atau apakah ini pertanda bahwa saya akan selalu gelisah, dan tidak mampu hidup dalam damai,” lanjutnya.
Melihat sikapnya, akan sulit membayangkan Soe Hok Gie berusia setengah baya, hidup mapan, datang rutin ke kantor untuk bekerja, dan menikmati waktu libur bersama istri dan anak-anak.
Baca Juga:
- Murdaya Poo Alumni GMNI Asal Blitar, Marhaeinis Konglomerat Rp20 Triliun
- Konsolidasi Alumni GMNI Kediri Gaungkan Nasionalisme dan Marhaenisme yang Mulai Pudar
Bagi Gie, damai adalah menyerah, meninggalkan harapan dengan menerima rutinitas hidup yang melelahkan, sementara praktik korupsi terjadi di mana-mana, di sekelilingnya.
Karenanya ia begitu mencintai kata-kata: berontak, nekad, berani, jujur dan bersih dan itu selalu diucapkannya. Menurutnya moral mahasiswa, solidaritas kampus dan jalanan harus mengambil peran dalam politik Indonesia.
Cemoohnya terhadap pemimpin mahasiswa yang memutuskan hidup dalam damai dengan menerima posisi di Parlemen yang ditunjuk dengan segala limpahan fasilitas, tetap pedas.
“Saya menulis sebagian hanya untuk meredakan rasa muak saya terhadap kondisi kita. Namun terkadang, saya merasa seolah semua ini sia-sia. Saya merasa bahwa semua yang ada di artikel-artikel saya hanyalah beberapa petasan kecil. Dan saya ingin mengisinya dengan bom,” katanya.
Soe Hok Gie murka dengan eksploitasi kejam kekuasaan terhadap kaum miskin, papa: pajak-pajak liar yang sewenang-wenang, perampasan tanah, riba yang memeras, kekerasan bersenjata, dan kesombongan para pejabat.
Ia melihat otoritas dan karenanya bertekad jika mampu tetap berada di luar, apapun itu otoritasnya. Hal itu juga yang membuat Gie menyukai lagu legendaris Darah Rakyat ciptaan aktivis pemuda kiri Pesindo, yang telah dilarang.
Darah rakjat masih djalan
Menderita sakit dan miskin
Pada datangnja pembalasan
Kita jang mendjadi hakim
***
Hajo, hajo bergerak sekarang
Kemerdekaan telah datang
Merahlah pandji-pandji kita
Merah warna darah rakjat
***
Kita bersumpah pada rakjat
Kemiskinan pasti hilang
Kaum kerdja akan memerintah
Dunia baru tentu datang
Soe Hok Gie memberi kontribusi besar terhadap gerakan mahasiswa yang membantu menjatuhkan rezim Soekarno. Namun ia orang pertama yang menulis secara terang-terangan ribuan tahanan politik yang ditahan tanpa pengadilan.
Dengan tajam kepemimpinan komunis dalam Peristiwa Madiun 1948 dikritiknya, namun secara terbuka ia menyatakan simpati kepada mereka yang telah mengorbankan segalanya bagi rakyat Indonesia, tak peduli kiri maupun kanan.
“Simpati saya adalah untuk semua mereka yang telah mengorbankan segalanya bagi rakyat Indonesia, baik mereka berada di kiri maupun di kanan,” tulisnya.
Soe Hok Gie masih berusia 26 tahun ketika gas beracun di kawasan puncak Gunung Semeru Jawa Timur pada 16 Desember 1969, merenggut ajalnya. Baginya gunung adalah tempat melatih diri, dan di puncak ia benar-benar merasa bersih.
Apakah pemikiran Soe Hok Gie tentang kekuasaan dan moralitas masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini?
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif





