Poin Penting:
- Putri pertama Al Ghazali dan Alyssa Daguise lahir dengan weton Minggu Pahing
- Primbon Jawa menyebut Minggu Pahing memiliki karakter pemimpin dan mandiri
- Ahmad Dhani sebelumnya berharap cucunya lahir pada Jumat Kliwon seperti dirinya
Bacaini.ID, KEDIRI — Ahmad Dhani dan Maia Estianty sedang berbahagia dengan kelahiran cucu pertama mereka dari putra pertama, Al Ghazali. Kelahiran putri pertama pasangan muda Al Ghazali dan Alyssa Daguise menjadi kabar yang ditunggu-tunggu para penggemar mereka.
Ahmad Dhani yang beberapa waktu terakhir panen kritikan warganet karena selalu ‘tantrum’ di media sosial mengatakan kepada media bahwa ia menginginkan cucu pertamanya lahir pada hari Jumat Kliwon sama seperti dirinya.
Baca Juga:
- Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara
- Membaca Weton dan Gaya Kepemimpinan Politik
Namun rupanya keinginan Ahmad Dhani tidak terwujud. Alyssa Daguise yang sejak awal menginginkan persalinan normal, mengalami kontraksi selama dua hari sejak Jumat (8/5) dan akhirnya Minggu (10/5) melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Soleil Zephora Ghazali.
Meleset dari keinginan kakeknya untuk bisa memiliki weton yang sama dengan cucu pertama, Soleil lahir pada hari Minggu dengan pasaran Jawa: Pahing. Lantas, apa kata primbon Jawa tentang karakter orang-orang yang lahir pada Minggu Pahing? Benarkah Jumat Kliwon lebih baik?
Arti Weton Minggu Pahing Menurut Primbon Jawa
Minggu Pahing dalam primbon Jawa memiliki neptu 14: Minggu bernilai 5, dan Pahing bernilai 9. Neptu yang tergolong tinggi dalam budaya Jawa. Orang dengan neptu 14 memiliki watak utama yang disebut Lakuning Rembulan.
Lakuning Rembulan menggambarkan karakter seseorang yang diibaratkan seperti bulan bersinar dalam kegelapan. Mereka dikenal dengan sifat kepemimpinannya, seringkali menjadi orang yang dituakan atau dimintai nasehat, memiliki kharisma dan seringkali menjadi panutan.
Baca Juga:
Weton Minggu Pahing memiliki sifat Wasesa Segara, luas hati seperti lautan. Orang yang pemaaf, dermawan, berwibawa dan bertanggung jawab. Untuk perempuan dengan weton ini, mereka cenderung sangat mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain. Perempuan dengan weton ini dikenal tangguh.
Karena memiliki sifat kepemimpinan dan mandiri, weton Minggu Pahing juga dikenal sebagai pribadi yang keras kepala dan cenderung mudah marah. Weton ini juga lebih suka menyendiri, pendiam dan hanya mau melakukan hal-hal yang menurut mereka bermanfaat saja, tidak mau membuang waktu.
Berdasarkan siklus kehidupan dalam Primbon Jawa, perjalanan nasib mereka dimulai dari masa muda yang cenderung penuh perjuangan dan bekerja keras. Kecerdasan dan sifat kepemimpinan serta mandiri yang mereka miliki, menjadi penolong di usia 20-30an tahun yang fluktuatif.
Masa keemasan Minggu Pahing diperkirakan terjadi di usia 40-an. Di usia tersebut, Minggu Pahing sudah stabil secara finansial dan kehidupan sosialnya.
Perbedaan Weton Minggu Pahing dan Jumat Kliwon
Ahmad Dhani yang memiliki weton Jumat Kliwon menginginkan cucu pertamanya memiliki weton yang sama karena weton Jumat Kliwon dianggapnya sangat baik. Apakah benar?
Jika dilihat dari perhitungan Primbon Jawa, Minggu Kliwon juga memiliki neptu 14: Jumat bernilai 6, dan pasaran Kliwon bernilai 8. Angka neptu Jumat Kliwon dan Minggu Pahing, sama.
Memiliki neptu yang sama, 14, maka sama-sama memiliki karakter Lakuning Rembulan. Namun, perbedaan hari dan pasaran tetap memberi pengaruh pada sifat dan karakter tiap orang. Jika Minggu Pahing karakter dasar atau pancasuda-nya Wasesa Segara, Jumat Kliwon adalah Tunggak Semi.
Tunggak Semi memiliki keberuntungan rezeki yang selalu mengalir dan kemudahan dalam mendapatkan simpati orang lain. Weton Jumat Kliwon juga dikenal sebagai orang yang pandai menarik perhatian dengan perilaku maupun ucapannya.
Jika Minggu Pahing lebih cenderung pendiam dan tenang, Jumat Kliwon sebaliknya: suka berbicara dan bertemu dengan banyak orang atau ekstrovert. Meskipun memiliki neptu yang sama, tapi dua weton tersebut memiliki energi yang berbeda.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





