Bacaini.ID, KEDIRI – Suasana lengang terasa di los pasar tradisional Kabupaten Kediri. Siti, pedagang tempe, duduk menghadap meja sambil memegang lidi pengusir lalat. Di depannya berjajar puluhan tempe yang belum terjual sejak pagi.
Kabar anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuatnya ketar ketir. Situasi ini akan mengancam harga kedelai sebagai bahan baku tempe, di mana sebagian besar kedelai nasional masih bergantung pada impor.
Jika hal itu terjadi, Siti akan dihadapkan pada pilihan mengecilkan ukuran tempe, sambil berharap pembeli tetap datang. “Ini pernah terjadi dan sangat menyulitkan kami,” katanya.
Bukan hanya Siti, di sebuah rumah sederhana yang jauh dari pasar, Yuni, seorang ibu rumah tangga berpikir keras mengatur ulang belanja harian. Minyak goreng yang dulu bisa dibeli dua liter kini hanya satu. Ayam yang dulu jadi lauk utama kini diganti dengan sayur seadanya. “Uang belanja cepat habis, padahal gaji suami tetap,” katanya.
Rantai dampak pelemahan rupiah jelas terasa. Pedagang kecil harus mengurangi kualitas produk, ibu rumah tangga mengurangi belanja protein, dan UMKM di daerah menanggung biaya produksi yang lebih tinggi.
Semua ini terjadi karena kurs rupiah melemah, yang membuat harga barang impor melonjak. Namun bagi masyarakat awam, penjelasan ekonomi terasa rumit. Yang mereka pahami hanya satu, uang belanja makin cepat habis.
Pemerintah pusat memang berupaya menjaga stabilitas dengan intervensi pasar. Tetapi di tingkat daerah, dampak pelemahan rupiah lebih nyata dan langsung. Tanpa literasi ekonomi yang memadai, masyarakat kecil hanya bisa pasrah.
Padahal, pemahaman sederhana tentang kurs rupiah bisa membantu mereka menyiapkan strategi bertahan, seperti memperkuat konsumsi produk lokal, mengurangi ketergantungan pada barang impor, dan memperkuat koperasi desa.
Stabilitas mata uang bukan hanya urusan bank sentral, melainkan urusan dapur rakyat kecil. Ketika kurs melemah, rakyat kecil di desa dan kota adalah yang pertama merasakan sesak.
Menurut data Bloomberg, rupiah di pasar spot hari ini ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dollar Amerika Serikat (AS). Posisi ini merupakan level terendah penutupan kurs rupiah terhadap dollar AS sepanjang sejarah alias all time low (ATL). Sementara kurs Jisdor BI hari ini berada di posisi Rp 17.514 per dollar AS, melemah 99 poin dibandingkan kemarin pada level 17.415.
Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) segera mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menembus level Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS). Puan mengingatkan agar tekanan terhadap rupiah tidak sampai berdampak buruk terhadap kondisi ekonomi nasional.
Penulis: Hari Tri Wasono





