Bacaini.ID, JAKARTA – Pembahasan Selat Malaka memanas dalam beberapa minggu terakhir, seiring munculnya narasi yang menyandingkannya dengan Selat Hormuz di Timur Tengah. Kawasan ini kembali menjadi sorotan global, bukan hanya karena lalu lintas perdagangan, tetapi juga dinamika geopolitik antara kekuatan besar dunia.
Baca Juga:
Sejumlah negara tetangga menyoroti kerjasama antara RI-AS soal izin akses terbang militer AS di wilayah udara RI, dan wacana tarif untuk kapal yang melintas di Selat Malaka. Sementara sudah berabad-abad lampau Selat Malaka diketahui menjadi pusat pertemuan budaya dan agama.
Juga menjadi Jalur Sutra Laut, jalur utama pedagang dari China, Arab, India, Persia, untuk bertukar komoditas seperti rempah-rempah, sutra dan keramik. Dengan posisinya yang strategis sebagaimana Selat Hormuz, Selat Malaka menarik perhatian dunia internasional dari dulu hingga kini.
Kejayaan Kerajaan Sriwijaya Menguasai Selat Malaka
Pada zaman Kerajaan Sriwijaya, sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13, Selat Malaka bukan sekedar jalur transportasi air, namun merupakan alasan mengapa Sriwijaya menjadi Kerajaan Maritim terbesar.
Di era tersebut, Sriwijaya menjadi penguasa tunggal Selat Malaka yang menjamin keamanan. Kerajaan Sriwijaya memiliki armada laut yang sangat kuat untuk memberantas perompak. Memastikan kapal-kapal dagang dari berbagai negara aman dari serangan bajak laut.
Kapal-kapal yang melintas diwajibkan untuk singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya, seperti Palembang dan Kedah, untuk membayar pajak atau melakukan bongkar muat barang.
Pajak dan monopoli komoditas menjadi sumber pendapatan utama Kerajaan Sriwijaya. Sriwijaya mengontrol perdagangan rempah-rempah yang sangat dicari oleh pasar internasional.
Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya memahami wilayah geografisnya, menguasai kedua sisi selat, Sumatera dan Semenanjung Malaya, sekaligus momonopoli dengan mutlak jalur laut.
Jika ada kapal yang mencoba menghindar atau menolak singgah, armada Kerajaan Sriwijaya tak segan-segan mengejar dan memerangi kapal tersebut hingga hancur.
Kejatuhan Sriwijaya, salah satunya karena kehilangan kontrol atas Selat Malaka setelah serangan dari Kerajaan Chola dari India pada abad ke-11. Kekalahan ini melemahkan dominasi maritim Sriwijaya.
Selat Malaka Kini Jadi Arena Persaingan Amerika Serikat vs China
Kini bukan hanya menjadi jalur perdagangan tersibuk di dunia, Selat Malaka juga menjadi arena persaingan dua kekuatan besar dunia, Amerika dan China.
Isu keamanan maritim internasional menjadi pusat perhatian dunia setelah AS mengajukan izin terbang militer di wilayah udara Indonesia dan patroli armada laut AS yang menginginkan ‘sweeping’ kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka dengan alasan keamanan.
Kapal perang AS terpantau aktif melintasi selat ini. AS diduga menggunakan kontrol atas Selat Malaka sebagai instrumen tekanan terhadap pasokan energi China. Sementara negara-negara tetangga Indonesia yang juga memiliki hak wilayah atas Selat Malaka menekankan bahwa kawasan tersebut harus bebas dari campur tangan militer asing.
Berdasarkan hukum laut internasional yang diatur dalam UNCLOS 1982, Selat Malaka telah dikategorikan sebagai Selat Internasional.
- Kapal dari negara manapun memiliki hak untuk melintas secara bebas dan tanpa hambatan untuk tujuan transit yang disebut dengan Hak Lintas Transit
- Negara-negara pantai, dilarang mengenakan tarif atau biaya bagi kapal yang hanya sekedar melintas
- Tanggung jawab keamanan dan bantuan navigasi dikelola melalui mekanisme kerja sama antar negara pantai tersebut
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





