Bacaini.ID, KEDIRI – Jawa Timur kini menjadi motor utama produksi jamu nasional seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat di Indonesia pada 2026. Konsumsi jamu tidak lagi sekadar tradisi, melainkan telah bertransformasi menjadi kebutuhan modern yang diminati berbagai generasi, mulai dari Gen X hingga Gen Z.
Di tengah gempuran teknologi medis modern dan tren kesehatan global tahun 2026, minum jamu atau herbal tetap eksis dan semakin diminati masyarakat untuk menjaga kebugaran dan imunitas tubuh.
Fenomena ini bukan lagi sekadar nostalgia tradisi, melainkan transformasi gaya hidup sehat yang didukung oleh kesadaran konsumsi bahan alami yang lebih aman dan terukur.
Jawa Timur sebagai motor penggerak utama produksi nasional jamu menurut beberapa data statistik menjadi pusat hilirisasi tanaman obat yang memasok kebutuhan pasar domestik hingga mancanegara.
Baca Juga:
- 3 Tanaman Herbal Rumahan yang Kerap Dianggap Gulma
- Pendarahan Sampai Kencangkan Payudara Teratasi oleh Andong Merah
- Perut Kembung dan Begah, Ini 4 Herbal Pendukung Pencernaan
Jamu Jadi Tren Urban, Digemari Gen X Hingga Gen Z
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, sebanyak 43,9% rumah tangga di Indonesia tercatat memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional, yang di dalamnya termasuk penggunaan ramuan atau jamu.
Sementara itu survei dari Databoks pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 83,70% rumah tangga di Indonesia menggunakan atau membeli produk tradisional, termasuk jamu.
Secara keseluruhan, penggunaan jamu di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 50% hingga 60%.
Pertumbuhan tertinggi tidak lagi terjadi di wilayah pelosok, melainkan di pusat-pusat metropolitan.
DKI Jakarta mencatatkan angka prevalensi pengguna tertinggi mencapai 70,82%. Fenomena ini didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat urban yang mulai menghindari obat-obatan kimia sintetis untuk pemakaian jangka panjang.
Bagi warga perkotaan, herbal dipandang sebagai solusi ‘bersih’ untuk mengatasi kelelahan dan gangguan imunitas akibat polusi serta tekanan kerja tinggi.
Sementara itu, segmentasi usia pengguna jamu secara nasional menunjukkan bahwa meskipun jamu identik dengan generasi tua, minat kelompok usia muda terus meningkat karena modernisasi produk.
Dalam beberapa data survei menyebutkan, Gen X (rentang usia 44-59 tahun) memiliki tingkat konsumsi tertinggi mencapai 68%. Kelompok ini merupakan pengguna paling loyal yang umumnya mengonsumsi jamu secara rutin untuk menjaga kebugaran dan mengatasi keluhan penyakit kronis.
Kelompok ini menggunakan herbal untuk manajemen penyakit degeneratif seperti asam urat, hipertensi, dan kolesterol. Gen X lebih mempercayai bahan tunggal seperti temulawak atau jahe merah.
Kelompok milenial atau Gen Y (rentang usia 30-45 tahun) menunjukkan tingkat adopsi yang cukup tinggi terhadap jamu dan produk herbal, yaitu sekitar 56%.
Milenial cenderung memilih jamu dalam kemasan praktis atau yang disajikan di kafe dan gerai modern. Jamu siap minum menjadi pilihan utama dibandingkan jamu gendong tradisional.
Berbeda dengan generasi lebih tua yang fokus pada pengobatan, milenial lebih banyak mengonsumsi jamu untuk tujuan preventif: menjaga daya tahan tubuh, kebugaran, dan estetika atau kecantikan.
Sementara itu, 35% Gen Z menyatakan terbiasa mengonsumsi herbal, dan angka pertumbuhan penggunaan jamu pada kelompok ini disebut yang paling dinamis.
Mereka tidak mencari ‘jamu pahit’, melainkan produk fungsional yang estetis dan praktis. Inovasi seperti herbal sparkling water, kapsul kecantikan berbasis daun kelor, hingga suplemen peningkat fokus (nootropics alami) menjadi pendorong utama di segmen ini.
Jawa Timur: Basis Kekuatan Budaya dan Produksi
Jika Jakarta memimpin dari sisi persentase konsumsi, Jawa Timur merupakan jantung dari ekosistem ini.
Dalam beberapa jurnal penelitian mengenai produksi jamu menyebutkan bahwa Jawa Timur merupakan produsen sekaligus supplier utama bahan baku jamu di Indonesia.
Jawa Timur mendominasi mutlak pada komoditas rimpang tertentu. Jawa Timur memiliki karakteristik unik di mana herbal bukan sekadar tren, melainkan bagian dari identitas ekonomi dan budaya yang tak terpisahkan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Jawa Timur secara konsisten menempati posisi puncak sebagai produsen dan pemasok utama tanaman biofarmaka (bahan baku herbal) di Indonesia hingga periode 2024-2025. Kunyit, jahe dan temulawak menjadi ujung tombak Jawa Timur.
• Kabupaten Pacitan dan Trenggalek menjadi sentra jahe dan kunyit dengan standar kualitas ekspor.
• Kabupaten Malang merupakan salah satu penghasil utama. Wilayah ini fokus pada pengembangan jahe merah, temulawak, dan kencur melalui inovasi, riset tanaman obat dataran tinggi dan pengembangan produk turunan untuk pasar medis.
• Kabupaten Banyuwangi menjadi inovator dalam Wellness Tourism, menggabungkan kesehatan herbal dengan pengalaman wisata alam.
• Kabupaten Blitar dikenal sebagai pemasok temulawak dan kencur yang produksinya sudah merambah pasar ekspor.
Dengan lebih dari 1.500 unit UMKM yang bergerak di sektor minuman kesehatan, Jawa Timur berhasil menciptakan rantai pasok yang mandiri, mulai dari petani hingga industri manufaktur besar.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





