BACAINI.ID, JEMBER- Setahun memimpin Pemerintah Kabupaten Jember, Bupati Jember Muhammad Fawait memaparkan fokus kerjanya: membenahi layanan dasar sambil menahan tekanan fiskal. Dalam refleksi satu tahun pemerintahan, ia menyebut 2025 sebagai fase peletakan fondasi, sebelum masuk tahap percepatan pada 2026.
Saat awal menjabat pada 20 Februari 2025, beban yang dihadapi tidak ringan. Tiga rumah sakit daerah menanggung kewajiban hingga Rp214 miliar. Operasional tersendat, suplai medis tertekan, dan ruang fiskal sempit.
Kebijakan Universal Health Coverage (UHC) Prioritas menjadi respons utama. Sejak 1 April 2025, warga cukup menunjukkan KTP untuk mengakses layanan kesehatan tanpa surat keterangan tidak mampu. Skema ini diklaim bukan hanya membuka akses berobat, tetapi juga membantu memulihkan arus keuangan rumah sakit daerah.
“Pelayanan dasar harus berdiri dulu dengan kokoh. Tanpa itu, sulit bicara percepatan,” ujar Fawait Jumat (20/2/2026).
Di sektor administrasi kependudukan, persoalan lama berupa tunggakan blanko KTP turut dibenahi. Sebanyak 68 ribu blanko didatangkan untuk menutup antrean pencetakan periode 2019–2024.
Melalui program PETA CINTA, pencetakan KTP kini bisa dilakukan di kantor kecamatan, memangkas jarak dan biaya warga desa menuju pusat kota.
Bidang pendidikan menyimpan tantangan lebih besar.
Tercatat 1.532 gedung sekolah dalam kondisi rusak berat. Pemutakhiran data Dapodik dilakukan menyeluruh agar sinkron dengan pemerintah pusat. Hasilnya, Jember memperoleh alokasi revitalisasi sekolah dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah daerah itu.
Di sisi lain, hampir 8 ribu mahasiswa menerima beasiswa afirmasi hingga lulus, termasuk santri dari keluarga kurang mampu.
Sektor pertanian juga didorong melalui optimalisasi lahan, distribusi benih dan alat, serta penguatan infrastruktur pendukung. Total anggaran pertanian 2025 hasil gabungan APBN dan APBD disebut sebagai yang terbesar dalam empat dekade terakhir.
Di tengah kebijakan efisiensi transfer pusat, Pemkab memilih meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa menaikkan tarif pajak. Strateginya melalui penertiban kebocoran dan optimalisasi potensi. Hasilnya, PAD Jember naik sekitar 32 persen dalam setahun.
“Tahun 2025 adalah fondasi. Tahun 2026 adalah percepatan,” tegas Fawait.
Refleksi ini menjadi penanda arah kebijakan: memperkuat layanan publik sebagai basis, sembari menjaga stabilitas fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Tantangannya kini, memastikan fondasi itu cukup kuat untuk menopang lompatan berikutnya.(meg/ADV)





