Bacaini.id, KEDIRI – Mahalnya harga cabai ternyata tidak membawa untung pagi petani cabai di Kabupaten Kediri. Petani justru merugi akibat gagal panen setelah tanaman cabai mereka terserang penyakit patek.
Bahkan, sebagian tanaman cabai terpaksa dicabut dan diganti dengan tanaman palawija. Tak hanya itu, gagal panen petani cabai ini juga berimbas pada melambungnya harga cabai di pasaran. Selain diserang penyakit, cuaca hujan yang masih terjadi juga menjadi penyebab gagal panen.
Ketua Kelompok Tani Rahayu Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Ida Rohmatin Nisa mengatakan di desanya terdapat 10 hektar lahan cabai yang rusak parah akibat serangan penyakit patek.
“Buah cabai muda itu membusuk, tangkainya mengering dan tanamannya mati,” kata Ida kepada Bacaini.id, Kamis, 9 Juni 2022.
Akibat penyakit ini, lanjutnya, 90 persen hasil panen busuk. Dari 100 kilogram cabai yang berkualitas baik hanya satu kilogramnya saja. Saat ini, petani mengaku mengalami kerugian akibat gagal panen.
“Padahal petani telah mengeluarkan modal antara Rp7,5 juta untuk lahan seluas 1.750 meter,” ujarnya.
Meski petani sudah berupaya dengan memberikan berbagai macam obat, namun serangan penyakit patek masih terus terjadi. Agar tidak meluas dan lebih banyak merugi, sebagian petani melakukan panen dini.
“Petani terpaksa mencabut tanaman cabai dan menggantinya dengan tanaman palawija seperti jagung, kacang juga rumput gajah untuk pakan ternak mereka,” tandasnya.
Sementara itu, Umi Sa’diah, salah satu petani cabai mengaku memanen dini buah cabai agar tidak banyak merugi. Disebutkannya, ditingkat petani, cabai hijau dijual dengan harga Rp30 ribu, sedang di pasaran tembus hingga Rp60 ribu perkilogramnya.
“Untuk cabai merah kualitas baik, ditingkat tengkulak saat ini sudah Rp80 ribu perkilogramnya, memang segitu sekarang. Kita berharap serangan penyakit patek ini segera tertangani biar kita tidak rugi,” harapnya.
Penulis: Novira