Bacaini.ID, KEDIRI – Tan Malaka memuji sosok Pangeran Diponegoro setinggi langit. Andai lahir di Barat, sepak terjangnya sejajar dengan Cromwell (Oliver Cromwell), pemimpin militer dan politik Inggris yang kelak menjadi Lord Protector, dan Garibaldi (Giuseppe Garibaldi), tokoh revolusioner dan patriot utama Italia. Namun di saat yang sama pemimpin Perang Jawa itu dikritiknya tak punya program politik dan ekonomi dalam perjuangan.
BACA JUGA: Tan Malaka Melihat Pan Islamisme sebagai Perlawanan Terhadap Kapitalisme
Dalam risalah Aksi Massa, Tan Malaka menyebut Diponegoro sebagai anak jantan berkemauan keras seperti baja, berpengaruh laksana besi berani. Seorang laki-laki yang di dalam dadanya tersimpan sifat-sifat putera Indonesia sejati namun tak berdaya mengubah nasibnya yang malang. Ia diibaratkan ‘menolong perahu bocor’, kelas yang akan lenyap.
“Jika Diponegoro dilahirkan di Barat dan menempatkan dirinya di muka satu revolusi dengan sanubarinya yang suci itu, boleh jadi ia akan dapat menyamai sepak terjang Cromwell atau Garibaldi,” kata Tan Malaka seperti dikutip Bacaini.id dari Aksi Massa Selasa (14/7/2026).
Dalam pandangan ekonomi, Tan Malaka menyebut sepak terjang Diponegoro justru kontrarevolusioner. Menunjang kesuburan modal serta perluasan jalan dan itu menghalangi kenaikan penghasilan, meski semuanya dilakukan penuh dengan kesatriaan. Ia tidak melihat Diponegoro berusaha menghidupkan kapital nasional sebagai penentangan terhadap kapital imperialistis.
Disimpulkannya Diponegoro tidak memiliki program politik dan ekonomi dalam perjuangannya. Sementara dalam pandangan politik susah dipastikan, karena cita-cita Diponegoro adalah Singgasana Kerajaan Mataram. Satu kekuasaan yang disebut Tan Malaka mudah berubah menjadi kelaliman.
“Ia (Diponegoro) merasa didesak oleh kekuasaan baru dan setelah dia lihat bahwa kekuasaan baru itu mempergunakan kekuasaan Mataram yang bobrok itu sebagai alat, maka kedua musuh itu pun diterjangnya,” demikian dilansir dari risalah Aksi Massa.
BACA JUGA: Sawo Jadi Sandi Konsolidasi, Ini Masjid di Kediri dan Blitar Tinggalan Loyalis Diponegoro
Tan Malaka membuat pengandaian, seandainya Pulau Jawa mempunyai kekuatan borjuasi nasional yang revolusioner, dipastikan Diponegoro akan berdiri di sana, berjuang bersama melawan Mataram dan Kompeni Belanda. Dengan begitu akan tercipta perbuatan yang mulia dan pasti.
Namun kekuatan borjuasi nasional di Jawa tidak ada. Sementara borjuasi berbasiskan Islam sudah dihancurkan oleh kapital Belanda di lapangan ekonomi. Dirundung oleh kekecewaan terhadap Mataram dan Kompeni, Diponegoro menyatukan diri kepada Kiai Mojo. Seorang ahli Islam yang fanatik dengan semboyan Perang Sabilullah, bukan kebangsaan.
Tan Malaka mengakui tidak mudah menarik kesimpulan dari pemberontakan Diponegoro. Menurutnya peristiwa sejarah yang terjadi adalah perjuangan kaum borjuasi Islam Jawa menentang kapital Barat yang disokong Mataram, kerajaan yang disebutnya hampir tenggelam.
Penulis: Solichan Arif
BACA JUGA: Riset di Basis DI/TII: Strategi Turba PKI Merebut Hati Kaum Tani dan artikel lainnya di rubrik HISTORIA




