Bacaini.ID, BLITAR – Keluhan mengenai harga seragam sekolah mencuat di SMKN 1 Doko, Kabupaten Blitar Jawa Timur. Sejumlah wali murid menilai biaya paket seragam yang mencapai lebih dari Rp2 juta jauh lebih tinggi dibanding harga produksi konveksi UMKM lokal. Harga yang lebih mahal tersebut memicu spekulasi dugaan praktek bisnis seragam sekolah.
BACA JUGA: Bupati Trenggalek Hapus Monopoli Vendor Seragam Sekolah
Sunarno, salah seorang tokoh masyarakat Doko mengaku telah didatangi oleh para wali murid, dan menyampaikan keluhannya. Diungkapkan kalau mereka harus menebus satu stel seragam sekolah di kios depan sekolah seharga Rp340 ribu. Sementara di konveksi UMKM lokal hanya Rp140 ribu, dengan kualitas hampir sama.
“Banyak wali murid yang mengeluhkan persoalan ini (harga seragam sekolah). Kalau dihitung keseluruhan memang menjadi beban tambahan bagi orang tua siswa (wali murid),” tutur Sunarno kepada wartawan Senin (13/7/2026).
Untuk satu paket seragam sekolah siswa laki-laki yang terdiri atas beberapa stel, wali murid mengaku harus merogoh kocek sebesar Rp1.885.000. Sedangkan untuk siswa perempuan sekitar Rp2.070.000. Sementara kalau belanja di konveksi UMKM lokal, mereka bisa mendapat harga yang lebih ekonomis.
BACA JUGA: KPK Terbitkan Surat Edaran Pencegahan Korupsi Penerimaan Murid Baru
Menurut Sunarno bukan hanya soal selisih harga seragam sekolah yang cukup besar, tapi juga menyangkut peluang ekonomi masyarakat Doko, mengingat cukup banyak pelaku usaha konveksi lokal (UMKM). Mereka selama ini yang memproduksi seragam sekolah. Diharapkan ada penjelasan dari pihak sekolah agar tidak timbul berbagai spekulasi di masyarakat.
Agung Nindio Suwarno, Ketua Komite SMKN 1 Doko dikonfirmasi terpisah oleh wartawan mengatakan pihak sekolah maupun komite tidak pernah mengarahkan wali murid untuk belanja seragam sekolah di tempat tertentu.
Soal kios atau toko di depan sekolah yang menjadi sorotan, Agung menegaskan itu bukan usaha baru, tapi sudah berjalan lama. Wali murid yang belanja seragam sekolah ke toko tersebut biasanya karena pertimbangan jarak yang dekat, mengingat topografi Doko pegunungan.
Selain itu karena alasan kualitas kain yang menurutnya lebih bagus ketimbang kain seragam yang lain, dan karenanya secara harga bisa jadi lebih mahal ketimbang lainnya.
Karena pernah mengajar di SMKN 1 Doko, Agung mengklaim tahu betul soal mutu kain seragam tersebut, yakni bisa dipakai siswa hingga kelas tiga. Sedangkan kain di tempat lain kecenderungan ganti setiap tahun.
“Tidak ada kewajiban. Orang tua (wali murid) bebas membeli (seragam sekolah) di mana saja,” ujar Agung Nindio Suwarno.
“Yang kami inginkan hanya supaya saat masuk sekolah semuanya sudah memakai seragam yang sama. Mau membeli di mana saja, itu sepenuhnya hak orang tua,” tambahnya.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Riset di Basis DI/TII: Strategi Turba PKI Merebut Hati Kaum Tani dan artikel lainnya di rubrik BACA




