
Karena itu, ukuran keberhasilan kota seharusnya tidak berhenti pada, “Apakah tempat ini bagus difoto?”
Tetapi juga “Apakah tempat ini benar-benar nyaman digunakan?”
Di sinilah warga juga perlu kritis terhadap keinginannya sendiri. Tidak semua yang terlihat bagus di kota lain otomatis cocok diterapkan di Kota Kediri. Sebab setiap kota memiliki ukuran, karakter, anggaran, masalah, dan kebutuhan yang berbeda.
Justru Ini Bisa Menjadi Kabar Baik
Ada anggapan bahwa warga yang sering membandingkan kotanya adalah warga yang tidak pernah puas. Barangkali tidak sesederhana itu.
Bisa jadi mereka adalah warga yang semakin sadar bahwa kota bukan sekadar tempat tinggal. Kota adalah sesuatu yang berhak mereka komentari. Dulu, pemerintah mungkin lebih banyak berbicara kepada warga. Sekarang warga juga mempunyai panggung untuk berbicara kepada pemerintah.
Instagram menjadi ruang kritik. TikTok menjadi ruang keluhan. Facebook menjadi ruang diskusi. WhatsApp menjadi ruang konsolidasi. Media lokal menjadi tempat semua itu bisa diperiksa kembali.
Warga Kota Kediri tidak lagi hanya menjadi penonton kotanya sendiri. Mereka mulai menjadi komentator, pengkritik, sekaligus pembanding.
Jadi, apakah warga Kota Kediri kini makin banyak tuntutan? Mungkin iya.
Tetapi jangan buru-buru menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk. Sebab kota yang warganya tidak pernah bertanya juga bukan berarti kota yang sudah sempurna.
Bisa jadi justru sebaliknya.
Ketika warga mulai bertanya mengapa trotoar tidak nyaman, mengapa ruang publik tidak cukup, mengapa kegiatan anak muda sedikit, mengapa tempat nongkrong tidak berkembang, atau mengapa pelayanan terasa rumit, sebenarnya mereka sedang mengatakan satu hal, “Kami memperhatikan kota ini.” (htw/edt)



