
Angka ini menunjukkan adanya perkembangan dalam sejumlah dimensi pembangunan manusia, meski tentu tidak menggambarkan seluruh pengalaman hidup warga kota
Dari sisi ekonomi, perekonomian Kota Kediri pada 2025 tumbuh 1,74 persen. Salah satu lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan-minum yang tumbuh 13,41 persen.
Artinya, ada banyak hal yang sedang bergerak di Kediri.
Masalahnya, persepsi warga terhadap kota tidak hanya dibentuk oleh angka pertumbuhan. Warga mengalami kota lewat hal-hal yang sangat sederhana.
Bagaimana rasanya berjalan kaki?
Di mana anak-anak bisa bermain?
Apakah anak muda mempunyai ruang berkegiatan?
Apakah orang tua memiliki tempat untuk bersantai?
Apakah pusat kota terasa hidup pada malam hari?
Apakah pelayanan pemerintah mudah dipahami?
Apakah ada alasan bagi warga untuk bangga menunjukkan kotanya kepada orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak selalu muncul dalam tabel statistik. Namun justru pertanyaan itulah yang sering muncul di kolom komentar.
Kalimat “Kenapa Kediri nggak seperti Malang?” bisa saja terdengar seperti keluhan. Tetapi kalau dibedah lebih jauh, pertanyaan itu bisa memiliki arti yang berbeda.
Mungkin warga sedang berkata, “Saya ingin kota saya berkembang.”
Atau mungkin juga “Saya tahu kota lain bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, jadi kenapa Kota Kediri tidak mencoba?”
Atau lebih sederhana lagi, “Kami ingin merasakan kota yang lebih nyaman.”
Jadi persoalannya bukan selalu soal ingin meniru Malang, Surabaya, Yogya atau kota lain. Warga sedang meminta pengalaman yang menurut mereka layak didapatkan dari sebuah kota. Di titik ini, membandingkan kota justru bisa menjadi bagian dari proses demokrasi perkotaan.
Warga melihat sesuatu di tempat lain, kemudian bertanya kepada kotanya sendiri. Pertanyaan itu memang bisa berlebihan. Tetap bisa juga menjadi energi untuk memperbaiki kota.
Namun ada yang harus diwaspadai dari tuntutan ini, jangan sampai Kota Kediri hanya dikejar agar terlihat bagus di Instagram. Ketika standar kota banyak dibentuk oleh media sosial, ada risiko pemerintah maupun warga terjebak pada apa yang paling mudah dilihat.
Kawasan yang fotogenik dianggap bagus. Lampu warna-warni dianggap berhasil. Bangunan yang Instagramable dianggap modern.
Padahal kota bukan hanya soal tampilan. Kota juga soal drainase, transportasi, pendidikan, kesehatan, akses pejalan kaki, ruang aman untuk perempuan dan anak, pengelolaan sampah, kualitas udara, sampai bagaimana warga dilibatkan dalam menentukan masa depan kotanya.
baca halaman selanjutnya………..



