Poin Penting:
- Barus di Sumatra Utara dikenal dunia sejak abad ke-2 Masehi karena perdagangan kapur barus berkualitas tinggi
- Kapur barus dari Sumatra menjadi komoditas mewah yang diburu Arab, India, Tiongkok hingga Romawi kuno
- Barus berkembang sebagai kota kosmopolitan dan kini ditetapkan sebagai Titik Nol Islam Nusantara
Bacaini.ID, KEDIRI – Jauh sebelum rempah-rempah Nusantara mendunia, Barus di pesisir barat Sumatra sudah lebih dahulu dikenal sebagai penghasil kapur barus berkualitas tinggi yang diburu pedagang Arab, India, Tiongkok hingga Romawi kuno.
Baca Juga:
Kapur barus di awal penemuannya merupakan salah satu bahan paling bernilai bagi masyarakat kuno untuk pengobatan, ritual dan kebutuhan harian, utamanya jauh sebelum ada apotek modern. Nama kapur barus merujuk pada daerah Barus yang sejak tahun 2017 oleh pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai Titik Nol Islam Nusantara.
Dalam sejarah perdagangan internasional, kota yang kini berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara tersebut pernah menjadi salah satu titik penting dalam jaringan perdagangan global. Berkat kapur barus berkualitas tinggi, Barus dikenal oleh pedagang dari India, Timur Tengah, Tiongkok, hingga kawasan Mediterania.
Baca Juga:
Sejumlah catatan sejarah menunjukkan nama Barus sudah dikenal dunia hampir dua ribu tahun lalu. Fakta tersebut menjadikan Barus sebagai salah satu kota perdagangan tertua di Nusantara yang dapat ditelusuri melalui sumber-sumber sejarah internasional.
Asal Nama Kapur Barus
Meski saat ini kata ‘kapur barus’ sering digunakan untuk menyebut berbagai produk berbahan kamper, secara historis istilah tersebut merujuk pada kristal aromatik yang diperoleh dari pohon Dryobalanops aromatica. Pohon ini tumbuh secara alami di wilayah Sumatra dan sebagian Kalimantan.
Kristal kapur barus terbentuk di bagian tertentu pohon dan memiliki aroma khas yang kuat. Pada masa lalu, zat ini sangat berharga karena sulit diperoleh dan memiliki banyak kegunaan.
Masyarakat kuno memanfaatkannya sebagai bahan pengobatan tradisional, campuran parfum, pengharum ruangan, bahan ritual keagamaan, hingga pengawet jenazah. Karena nilai ekonominya tinggi dan pasokannya terbatas, harga kapur barus pada masa lampau bisa sangat mahal.
Menurut sejumlah penelitian sejarah perdagangan Asia, kapur barus dari Sumatra bahkan dianggap memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan produk serupa dari wilayah lain. Karena itulah para pedagang rela menempuh perjalanan laut yang panjang untuk mendapatkannya.
Salah satu alasan Barus begitu menarik bagi para sejarawan adalah karena namanya diduga muncul dalam karya geograf Yunani-Romawi kuno. Sekitar tahun 150 hingga 160 Masehi, ilmuwan dan ahli geografi Claudius Ptolemaeus menulis karya berjudul Geographia.
Dalam buku tersebut disebutkan lokasi bernama ‘Barousai’ atau ‘Barusae’ yang berada di kawasan pantai barat Sumatra. Banyak peneliti modern mengaitkan nama tersebut dengan Barus yang dikenal saat ini. Meski tidak semua ahli sepakat mengenai identifikasi lokasi secara mutlak, hubungan antara Barousai dan Barus dianggap cukup kuat.
Barus telah dikenal dalam jaringan pengetahuan dunia Romawi sejak abad ke-2 Masehi. Ini berarti nama kota tersebut tercatat sekitar 1.800 tahun sebelum era modern. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Nusantara sebenarnya sudah terhubung dengan dunia internasional jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-16.
Komoditas yang Diburu Arab, India, dan Tiongkok
Pada masa perdagangan maritim kuno, Samudra Hindia menjadi jalur utama pertukaran barang antara Timur dan Barat. Kapal-kapal dari berbagai negeri berlayar mengikuti musim angin untuk membawa rempah, logam, kain, keramik, dan komoditas berharga lainnya.
Dalam jaringan perdagangan ini, Barus memiliki posisi yang strategis.
Pedagang India datang untuk memperoleh kapur barus dan produk hutan lainnya. Pedagang Arab serta Persia membawanya ke Timur Tengah. Sementara kapal-kapal dari Tiongkok juga tercatat menjalin hubungan dagang dengan kawasan Sumatra. Sejarawan Prancis Claude Guillot, yang banyak meneliti sejarah Barus, menemukan bahwa kota ini telah berkembang sebagai pelabuhan internasional selama berabad-abad.
Aktivitas perdagangan yang berlangsung terus-menerus menjadikan Barus sebagai salah satu pusat ekonomi penting di kawasan pantai barat Sumatra. Bahkan sebelum rempah-rempah seperti cengkih dan pala menjadi komoditas global yang terkenal, kapur barus sudah lebih dahulu menjadi barang mewah yang diperdagangkan lintas benua.
Kristal aromatik dari pohon Dryobalanops aromatica ini bukan sekadar pengharum lemari seperti sekarang. Di dunia kuno, komoditas dari Barus ini adalah barang mewah dengan fungsi multisektor. Kapur barus memiliki posisi penting dalam tradisi Islam. Namanya disebutkan dalam literatur klasik sebagai wewangian suci, bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 5 yang menyebutkan ‘Kafur’ sebagai gambaran kesegaran minuman di surga.
Di Mesir Kuno kapur Barus digunakan sebagai salah satu bahan penting dalam proses pengawetan mumi (balsamifikasi). Sementara itu era Kekaisaran Romawi dan Tiongkok, menjadikannya sebagai bahan dasar parfum kelas atas dan ramuan obat penenang.
Catatan para penulis Arab kuno juga menunjukkan bahwa kapur barus merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai tinggi dan sering disebut dalam literatur perdagangan.
Barus, Kota Kosmopolitan di Nusantara
Perdagangan internasional tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, namun juga menciptakan pertemuan berbagai budaya. Barus menjadi tempat bertemunya pedagang, pelaut, ulama, dan pendatang dari beragam latar belakang. Selama berabad-abad, kota ini berkembang menjadi kawasan yang multikultural.
Bukti mengenai hal tersebut dapat ditemukan melalui penelitian arkeologi yang dilakukan di wilayah Barus.
Para peneliti menemukan kompleks makam kuno, keramik impor, artefak perdagangan, hingga berbagai peninggalan yang menunjukkan hubungan dengan dunia luar.
Salah satu situs terkenal adalah Makam Mahligai dan Papan Tinggi yang sering dikaitkan dengan komunitas Muslim awal di kawasan tersebut. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Barus pernah menjadi salah satu titik penting dalam proses interaksi budaya dan penyebaran agama di Nusantara.
Karakter kosmopolitan inilah yang membuat Barus berbeda dari banyak permukiman pesisir lainnya pada masa itu. Meski memiliki sejarah panjang, nama Barus tidak sepopuler Malaka, Sriwijaya, atau Majapahit.
Salah satu alasannya adalah karena Barus lebih dikenal sebagai pusat perdagangan komoditas tertentu daripada sebagai kerajaan besar yang meninggalkan banyak catatan politik.
Selain itu, sebagian besar kejayaan Barus terjadi pada periode yang sangat panjang dan tersebar dalam berbagai sumber asing, sehingga kisahnya tidak selalu muncul dalam narasi sejarah populer. Namun, peran Barus sangat signifikan dalam perdagangan internasional di masanya. Kota ini menunjukkan bahwa wilayah Nusantara bukan hanya penghasil rempah-rempah, tetapi juga pemasok bahan aromatik dan pengobatan yang bernilai tinggi bagi dunia kuno.
Barus kini telah ditetapkan sebagai Titik Nol Islam Nusantara oleh pemerintah Indonesia yang diresmikan pada tahun 2017.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





