Poin Penting:
- Red Flag jadi tanda hubungan toxic seperti love bombing dan gaslighting
- Green Flag menunjukkan pasangan ideal dengan komunikasi sehat
- Black Flag menandakan hubungan harus segera diakhiri
Bacaini.ID, KEDIRI – Gen Z memiliki cara unik dalam menilai hubungan asmara. Tidak lagi sekadar soal perasaan, generasi ini menggunakan simbol “bendera” atau flags untuk mengidentifikasi perilaku pasangan, mulai dari yang sehat hingga yang berbahaya.
Baca Juga:
Gen Z dengan ketajamannya mengamati fenomena sosial, mengenalkan terminologi flags sebagai navigasi dalam melabeli sebuah hubungan. Hubungan asmara bukan lagi soal perasaan, namun juga tentang pola perilaku yang muncul, mulai dari cara pasangan membalas pesan, cara bertutur kata hingga perilaku saat bertemu.
Istilah Red Flag sudah lama dikenal dan mendominasi percakapan sebagai tanda bahaya dalam sebuah hubungan apapun itu. Namun, spektrum ini kemudian meluas dan menghadirkan Green Flag sebagai antonim dari Red Flag, Beige Flag hingga Black Flag.
Red Flag: Siaga 1, Toksik!
Red Flag menjadi tanda bahaya atau perilaku toksik yang menunjukkan hubungan tersebut dipandang merugikan secara emosional dan fisik berdasar penilaian personal. Tidak ada patokan pasti sejauh mana seseorang dilabeli ‘Red Flag’. Namun secara umum, Red Flag merupakan indikator perilaku negatif seseorang.
Berikut beberapa situasi hubungan yang dianggap ‘Red Flag’:
Love bombing
Terlalu intens di awal, seperti selalu memberi hadiah, sering mengucapkan kata cinta dengan tujuan memperoleh kontrol pada pasangan.
Gashlighting
Melimpahkan kesalahan pada pasangan dan membuatnya merasa memang bersalah.
Breadcrumbing
Memberi harapan dengan tujuan ‘korban’ tidak meninggalkannya, namun tidak mau menjalani ikatan.
Sementara perilaku yang dianggap Red Flag seperti cemburu berlebihan, ketidakstabilan karakter, maupun perilaku di media sosial yang membuat pasangan merasa kecewa atau sakit hati.
Green Flag: Lampu Hijau, Lanjutkan!
Green Flag melambangkan hubungan yang sehat, pasangan yang memiliki kedewasaan emosional dan perilaku yang baik. Green Flag menandakan potensi hubungan yang bisa dilanjutkan dan pilihan yang benar.
Orang dengan label Green Flag dalam standar hubungan masa kini, berikut di antaranya:
Memiliki kematangan emosional dan komunikasi
Mau mendengarkan, dan memahami diskusi pasangan, memberi solusi, dan perkataan yang selaras dengan tindakan.
Menghormati batasan atau boundaries
Seseorang yang memberi pasangannya ruang untuk berkembang, me time, rasa nyaman meskipun tanpa kehadirannya.
Memberi dukungan untuk bertumbuh
Menjadi suporter utama, bertanggung jawab dan orang yang terus memiliki keinginan bertumbuh bersama pasangannya tanpa merasa paling benar sendiri. Singkatnya, Green Flag menjadi tanda bahwa seseorang tersebut memiliki karakter yang didambakan sebagai pasangan ideal.
Beige Flag: Orang Aneh Atau Unik?
Beige Flag menjadi ‘warna bendera’ yang paling subyektif. Beige Flag bukan hal buruk, namun membuat seseorang bisa merasa aneh maupun heran dengan perilaku maupun sifatnya.
Beige Flag lazimnya merupakan kebiasaan aneh misal tidak bisa makan kalau tidak pakai garpu, terlalu detail pada hal apapun, dan hal-hal kecil yang pada dasarnya tidak berpengaruh langsung pada hubungan namun terkadang membuat pasangan tidak nyaman atau malu.
Biasanya perilaku ‘Beige Flag’ ini justru berakhir menjadi cerita lucu atau malah membuat pasangan menjadi illfeel.
Black Flag: End!
Jika Red Flag menjadi tanda bahaya sebuah hubungan namun masih bisa memilih untuk lanjut atau berhenti, Black Flag adalah tanda harus diakhiri. Situasi yang dianggap sangat parah dan tidak lagi bisa ditolerir.
Black Flag merupakan level tertinggi dari tanda bahaya atau harga mati untuk mengakhiri sebuah hubungan.
Beberapa situasi yang dianggap sebagai Black Flag misalnya perselingkuhan berulang, kekerasan fisik maupun verbal, hingga perilaku kriminal atau adiksi yang merusak.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





