Bacaini.ID, KEDIRI – Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyebut ada upaya menjual sejumlah BUMN strategis seperti PT PAL, PT Pindad, dan Garuda. Namun rencana itu berhasil dicegah dan membenahi kinerja mereka menjadi untung.
Dalam sambutannya saat meresmikan Bendungan Meninting, di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jumat, 10 Juli 2026, Prabowo mengatakan dirinya tengah melakukan pembenahan BUMN dan penguatan industri strategis nasional yang selama puluhan tahun menjadi beban negara.
“Banyak sekali perusahaan yang tadinya mau dijual ke asing, saya larang. Tadinya industri pertahanan mau dijual, PT PAL mau dijual, PT Pindad mau dijual, PTDI mau dijual, kita bangkitkan. Sekarang kita akan bangkitkan semua perusahaan-perusahaan itu,” tegasnya.
Menurutnya, kemampuan industri pertahanan Indonesia telah menunjukkan hasil nyata dan semakin mendapat pengakuan. Saat ini, PT PAL sudah bisa membuat kapal selam yang canggih. Demikian pula PT Pindad yang baru saja mendapat kontrak dari Arab Saudi untuk memproduksi semua senapan dan senapan mesin tentara Arab Saudi.
Pembenahan juga mulai menunjukkan hasil pada perusahaan yang sebelumnya mengalami kesulitan, termasuk Garuda. “Garuda tadinya mau dijual, saya larang. Sekarang sudah mulai bangkit. Bulan depan sudah mulai untung dari sekian puluh tahun rugi. Saudara-saudara, pelan-pelan kita perbaiki ini semua. Kita perbaiki semua kekurangan,” pungkas Presiden.
Ia menyampaikan pemerintah telah menutup ratusan BUMN yang dinilai tidak sehat dan tidak efisien. Langkah tersebut dilakukan untuk menghentikan pemborosan serta memastikan uang negara dikelola secara lebih produktif.
“Sampai akhir bulan Juli, sampai hari ini kita sudah tutup 240 BUMN yang tidak beres sudah kita tutup. Nanti akhir Juli ini akan 250 BUMN kita tutup. Desember 2026 akan tutup jumlahnya 800 BUMN, yang tidak efisien, yang tidak pernah untung, yang merugi terus kita tutup,” ucap Presiden.
Dari pembenahan struktur dan efisiensi biaya, pemerintah telah mampu melakukan penghematan dalam jumlah besar. Penghematan tersebut antara lain berasal dari biaya overhead dan gaji direksi yang nilainya mencapai Rp70 triliun.
Penulis: Hari Tri Wasono




