Bacaini.ID, KEDIRI – Setiap tahun selalu ada warga negara yang memilih menjadi warga negara lain. Sebagian karena menikah, sebagian karena pekerjaan, pendidikan, investasi, atau menetap dalam jangka panjang.
Namun dari sudut pandang ekonomi, kebijakan publik, dan keamanan nasional, perpindahan kewarganegaraan sesungguhnya merupakan salah satu indikator strategis daya saing sebuah negara.
Data yang tersedia menunjukkan bahwa Malaysia memiliki angka pelepasan kewarganegaraan yang jauh lebih tinggi dibanding Indonesia, bahkan secara proporsional terhadap jumlah penduduk. Tercatat 61.116 warga negara Malaysia telah pindah ke warga negara lain. Indonesia sendiri mencatat sekitar 8.000 permohonan pelepasan kewarganegaraan dalam sekitar lima tahun terakhir, sedangkan Singapura tetap menjadi tujuan utama bagi banyak warga negara ASEAN.
Namun pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa banyak warga negara yang keluar, tapi “Siapa yang keluar, siapa yang masuk, dan apa dampaknya bagi negara?”
Jika yang keluar didominasi tenaga kerja berkeahlian tinggi, ilmuwan, dokter, insinyur, peneliti, pengusaha, atau profesional strategis, maka negara menghadapi risiko brain drain yang dapat mengurangi kapasitas inovasi, produktivitas, dan daya saing ekonomi.

Sebaliknya, apabila negara mampu menarik lebih banyak talenta global, investor, ilmuwan, dan profesional berkualitas untuk menjadi warga negaranya, maka perpindahan kewarganegaraan justru menjadi keunggulan kompetitif.
Singapura menjadi contoh menarik. Walaupun sekitar seribu lebih warganya melepaskan kewarganegaraan setiap tahun, negara tersebut tetap menjadi magnet bagi talenta internasional melalui naturalisasi dan migrasi tenaga kerja berkualitas. Dengan kata lain, yang menentukan bukan sekadar arus keluar, tetapi neraca talenta.
Bagi Indonesia, angka pelepasan kewarganegaraan masih relatif kecil dibandingkan jumlah penduduk. Tantangan ke depan bukan hanya mencegah warga negara pergi, tetapi juga menciptakan ekosistem yang membuat talenta terbaik ingin bertahan, kembali, dan berkontribusi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukanlah nol warga yang pindah kewarganegaraan, melainkan kemampuan negara untuk menjadi tempat yang paling menarik bagi warganya sendiri sekaligus bagi talenta terbaik dunia.
Karena dalam persaingan global, yang diperebutkan bukan hanya modal dan teknologi, tetapi juga manusia terbaik.
Penulis: Danny Wibisono*
*)Kepala Litbang Bacaini.ID




