Bacaini.ID, KEDIRI – Keracunan makanan umumnya dikenal dengan gejala seperti mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Namun, muncul satu kasus yang menjadi perhatian serius, apakah keracunan makanan bisa menyebabkan seseorang kehilangan ingatan?
Jawabannya, bisa terjadi, tetapi tidak pada semua kasus keracunan makanan.
Secara umum, keracunan makanan biasa yang hanya menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan tidak secara langsung menyebabkan seseorang kehilangan ingatan. Namun, dalam kondisi tertentu, makanan yang terkontaminasi racun atau mikroorganisme tertentu dapat memicu gangguan pada sistem saraf dan otak, termasuk masalah memori.
Racun Makanan Laut Bisa Menyerang Memori
Salah satu bukti ilmiah paling kuat ditemukan pada kasus Amnesic Shellfish Poisoning (ASP) atau keracunan kerang yang terkontaminasi racun bernama domoic acid. Dalam sebuah wabah di Kanada pada 1987, penelitian yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine mencatat sebagian pasien mengalami kehilangan memori jangka pendek setelah mengonsumsi kerang yang terkontaminasi.
Dari 107 pasien yang memenuhi kriteria kasus, sekitar 25 persen dilaporkan mengalami gangguan ingatan jangka pendek. Dalam kasus yang lebih berat, pasien bahkan mengalami kejang, koma, hingga kematian. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa domoic acid merupakan neurotoksin yang dapat menyerang bagian otak, terutama hipokampus, bagian penting yang berperan dalam pembentukan dan penyimpanan memori.
Temuan ini kemudian menjadi salah satu bukti paling jelas bahwa racun tertentu yang masuk melalui makanan memang dapat menyebabkan gangguan ingatan. Penelitian berjudul An Outbreak of Toxic Encephalopathy Caused by Eating Mussels Contaminated with Domoic Acid yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menjadi salah satu rujukan utama mengenai kasus tersebut.
Bagaimana dengan Makanan Rumahan?
Risiko gangguan serius akibat makanan juga dapat muncul pada kasus botulisme bawaan makanan atau foodborne botulism. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, botulisme terjadi akibat paparan toksin yang diproduksi bakteri Clostridium botulinum. Toksin ini menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan gangguan penglihatan, kesulitan berbicara dan menelan, kelemahan otot, hingga kelumpuhan.
Makanan rumahan yang diawetkan, dikalengkan, atau difermentasi dengan cara tidak tepat dapat menjadi salah satu sumber risiko botulisme. Meski demikian, botulisme tidak serta-merta berarti seseorang akan kehilangan ingatan.
Gangguan memori bukan merupakan gejala utama botulisme. Namun, sebuah penelitian terbaru pada 2024 menemukan adanya kemungkinan gangguan neurokognitif jangka panjang pada sejumlah pasien yang pernah mengalami botulisme.
Dalam studi kasus tersebut, pasien dilaporkan mengalami keluhan berupa gangguan perhatian, konsentrasi, kecepatan berpikir, hingga memori jangka pendek dan jangka panjang. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Neurology dengan judul Neurocognitive Deficits After Botulism: A Clinical Case Series Study.
Namun, para peneliti menekankan bahwa bukti mengenai hubungan botulisme dan gangguan kognitif masih terbatas. Karena itu, temuan tersebut belum bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap penderita botulisme akan mengalami hilang ingatan.
Infeksi Makanan Juga Bisa Memicu Gangguan Otak
Selain racun, infeksi akibat makanan juga dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Kajian ilmiah tentang dampak jangka panjang penyakit bawaan makanan menunjukkan sejumlah mikroorganisme, seperti Salmonella, Listeria, Campylobacter, dan E. coli, dapat menyebabkan komplikasi di luar sistem pencernaan.
Pada kondisi tertentu, terutama jika infeksi berkembang menjadi penyakit berat dan memengaruhi sistem saraf, dapat muncul gangguan neurologis hingga masalah kognitif. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa kondisi tersebut bukan merupakan gambaran umum dari keracunan makanan biasa.
Seseorang yang mengalami muntah atau diare setelah mengonsumsi makanan tidak otomatis akan mengalami gangguan ingatan. Gangguan memori biasanya berkaitan dengan kondisi yang lebih serius, misalnya paparan neurotoksin, infeksi berat yang memengaruhi otak, kejang, koma, atau gangguan lain yang menyebabkan fungsi otak terganggu.
Tidak Bisa Langsung Menyimpulkan
Karena itu, apabila seseorang mengalami hilang ingatan setelah diduga keracunan makanan, hubungan sebab-akibatnya tidak bisa langsung dipastikan. Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai jenis makanan yang dikonsumsi, waktu munculnya gejala, jenis keluhan yang dialami, serta kemungkinan adanya gangguan lain pada otak dan sistem saraf.
Secara ilmiah, keracunan makanan memang dapat berhubungan dengan gangguan ingatan, tetapi kasusnya relatif khusus dan tidak bisa digeneralisasi pada semua jenis keracunan makanan. Dengan kata lain, keracunan makanan biasa umumnya menyerang sistem pencernaan. Tetapi ketika makanan mengandung racun tertentu atau menyebabkan komplikasi serius hingga memengaruhi sistem saraf, dampaknya bisa jauh lebih berbahaya, termasuk kemungkinan terganggunya kemampuan seseorang untuk mengingat. (htw/edt)




