Poin Penting:
- Penelitian menemukan pernikahan yang penuh konflik berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, dan stres kronis
- Konflik rumah tangga jangka panjang juga dapat memengaruhi tekanan darah, hormon stres, dan kesehatan fisik
- Bertahan demi anak tidak selalu menjadi solusi jika lingkungan rumah dipenuhi ketegangan berkepanjangan
Bacaini.ID, KEDIRI — Banyak pasangan memilih bertahan dalam pernikahan atau memilih menghindari perceraian meski sudah tidak lagi merasa bahagia. Alasannya beragam, mulai dari demi anak, keluarga besar, hingga tekanan sosial. Namun sejumlah penelitian mengungkap, mempertahankan hubungan yang penuh konflik dalam jangka panjang dapat berisiko pada kesehatan mental dan fisik.
Baca Juga:
Pernikahan sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari dukungan emosional hingga harapan hidup yang lebih panjang. Namun para peneliti menekankan, manfaat tersebut lebih banyak ditemukan pada hubungan yang sehat dan suportif. Sebaliknya, pernikahan penuh konflik, ketegangan, atau ketidakpuasan berkepanjangan justru dapat menjadi sumber stres kronis.
Temuan ini membuat para ahli semakin fokus mengkampanyekan kualitas hubungan, bukan sekadar mempertahankan status pernikahan.
Pernikahan Tak Bahagia Berisiko pada Kesehatan Mental dan Fisik
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Abnormal Psychology oleh Kimmo Whisman menemukan bahwa individu yang mengalami tekanan serius dalam pernikahan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, gangguan kecemasan, hingga masalah psikologis lainnya.
Baca Juga:
Ketika konflik rumah tangga terjadi terus-menerus tanpa penyelesaian yang sehat, tubuh dan pikiran berada dalam kondisi siaga dalam waktu lama. Situasi ini dapat memicu stres berkepanjangan yang pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang.
Dalam Journal of Marriage and Family juga menyebutkan adanya hubungan yang konsisten antara kualitas pernikahan dan kesejahteraan mental. Semakin rendah kualitas hubungan, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami stres, depresi, dan penurunan kepuasan hidup.
Pengaruh pernikahan yang tidak bahagia ternyata tidak berhenti pada kesehatan mental. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konflik rumah tangga kronis juga dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang.
Dalam ulasan ilmiah yang diterbitkan di Psychological Bulletin, peneliti Janice Kiecolt-Glaser dan Tamara Newton menjelaskan bahwa hubungan pernikahan yang buruk berkaitan dengan meningkatnya stres fisiologis, gangguan sistem kekebalan tubuh, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Sementara itu, penelitian lain yang diterbitkan Physiology and Behavior menemukan bahwa konflik pasangan dapat memengaruhi tekanan darah, hormon stres seperti kortisol, hingga proses peradangan dalam tubuh. Jika berlangsung bertahun-tahun, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Bagaimana Jika Bertahan dalam Pernikahan Demi Anak?
Alasan yang paling sering dikemukakan pasangan untuk tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia adalah anak. Banyak orang tua khawatir perceraian akan memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak.
Baca Juga:
Namun sejumlah psikolog keluarga menilai bahwa kualitas lingkungan rumah juga perlu dipertimbangkan. Anak yang tumbuh dalam suasana penuh pertengkaran, ketegangan, atau sikap saling bermusuhan dapat mengalami tekanan emosional yang tidak kalah besar.
Lingkungan yang bahagia dan positif, berdampak positif juga untuk perkembangan anak-anak. Sebaliknya, kondisi yang penuh ketegangan, berpotensi memberi efek negatif pula kepada anak. Anak tentu dapat merasakan situasi di dalam rumah, apa yang terjadi kepada orang tuanya, meskipun orang tua menghindari bertengkar di hadapan anak-anaknya.
Banyak studi menunjukkan bahwa hubungan yang hangat, stabil, dan suportif dapat memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan fisik maupun mental.
Namun ketika hubungan berubah menjadi sumber stres yang berlangsung terus-menerus tanpa perbaikan, dampaknya dapat dirasakan tidak hanya oleh pasangan, tetapi juga oleh anak dan lingkungan keluarga secara keseluruhan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




