Bacaini.ID, KEDIRI – Sejumlah pengurus cabang olahraga Orado gencar menggelar turnamen domino di berbagai daerah. Sebuah cabang olahraga asal Tiongkok yang berkembang ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Permainan domino memiliki sejarah panjang. Berawal dari Tiongkok pada abad ke-12, domino menyebar ke Eropa dan kemudian ke seluruh dunia.
Di Indonesia, domino hadir dengan berbagai variasi seperti Gaple, QiuQiu, dan Ceme, yang masing-masing memiliki aturan dan daya tarik tersendiri. Gaple, misalnya, menjadi permainan favorit di warung kopi dan pos ronda karena sederhana namun menuntut kecermatan membaca peluang.
Sementara QiuQiu dan Ceme berkembang lebih modern dengan sistem taruhan dan perhitungan nilai kartu.
Seiring waktu, domino tidak hanya bertahan sebagai permainan tradisional, tetapi juga beradaptasi dengan era digital. Kini, banyak aplikasi dan platform daring yang memungkinkan orang bermain domino secara virtual, bahkan dengan lawan dari berbagai belahan dunia.
Transformasi ini menunjukkan bagaimana permainan sederhana dengan 28 kartu persegi panjang bertitik mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Aturan dasar permainan domino cukup sederhana. Setiap set terdiri dari 28 kartu berbentuk persegi panjang, masing-masing dengan dua sisi bertitik angka 0 hingga 6. Permainan biasanya melibatkan dua hingga empat orang.
Pada awal permainan, kartu dikocok lalu dibagikan, dengan jumlah kartu yang berbeda tergantung jumlah pemain. Pemain pertama meletakkan kartu pembuka, biasanya kartu double seperti 6–6. Pemain berikutnya harus mencocokkan angka di ujung kartu yang sudah terbuka di meja.
Jika tidak memiliki kartu yang sesuai, pemain wajib mengambil dari tumpukan cadangan. Pemenang ditentukan oleh siapa yang pertama kali menghabiskan seluruh kartu, atau jika permainan buntu, pemain dengan jumlah titik paling sedikit dinyatakan menang.
Aturan sederhana ini membuat domino mudah dipelajari, tetapi tetap menantang karena membutuhkan strategi dan keberuntungan.
Domino telah bersalin rupa menjadi beragam bentuk. Dari meja kayu sederhana di kampung hingga layar smartphone, domino terus hidup sebagai bagian dari budaya sosial. Dengan turnamen yang makin terstruktur, domino menapaki babak baru sebagai olahraga rakyat yang diakui.(htw/edt)




