
Ada banyak alasan mengapa seseorang sulit mengatakan tidak. Sejak kecil, perempuan sering mendapatkan pesan sosial untuk menjadi pribadi yang ramah, penyabar, pengertian, dan menjaga perasaan orang lain.
Akibatnya, konflik sering terasa seperti sesuatu yang harus dihindari. Daripada membuat orang lain kecewa, lebih mudah mengatakan iya. Daripada dianggap sombong, lebih baik ikut. Daripada dicap egois, lebih baik membantu. Daripada hubungan menjadi renggang, lebih baik mengalah.
Persoalannya, mengalah sesekali adalah pilihan. Mengalah terus-menerus bisa menjadi kebiasaan yang melelahkan.
Takut dianggap egois
Salah satu alasan terbesar di balik fenomena “nggak enakan” adalah ketakutan terhadap penilaian orang lain.
“Kalau aku nolak, nanti dia tersinggung.”
“Kalau aku nggak ikut, nanti dikira menjauh.”
“Kalau aku bilang nggak punya waktu, nanti dianggap nggak peduli.”
Kalimat-kalimat semacam itu sering muncul sebelum seseorang bahkan sempat bertanya kepada dirinya sendiri, “Sebenarnya aku mau atau tidak?”
Di titik inilah perempuan perlu belajar membedakan antara peduli kepada orang lain dan bertanggung jawab atas semua perasaan orang lain. Kita boleh peduli. Tetapi kita tidak mungkin mengatur agar semua orang selalu senang dengan keputusan kita.
Belajar mengatakan tidak tanpa merasa bersalah
Mengatakan tidak tidak harus dilakukan dengan kasar. Tidak perlu pula memberikan penjelasan panjang setiap kali menolak sesuatu.
“Maaf, aku belum bisa.”
“Aku sedang ada urusan lain.”
“Terima kasih sudah mengajak, tapi kali ini aku tidak ikut.”
“Aku belum bisa membantu sekarang.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu sebenarnya sudah cukup. Tidak semua penolakan membutuhkan sepuluh alasan. Dan yang lebih penting, penolakan tidak selalu membutuhkan permintaan maaf yang berlebihan.
Kita boleh mengatakan tidak tanpa merasa menjadi orang jahat.
Perempuan juga membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri
Ada masa ketika seorang perempuan perlu berhenti menjadi teman yang selalu siap membantu, pasangan yang selalu memahami, anak yang selalu menurut, atau rekan kerja yang selalu bisa diandalkan.
Bukan karena ia tidak peduli. Tetapi karena ia juga manusia yang punya batas. Ada saat ketika tubuh membutuhkan istirahat.Ada saat ketika pikiran membutuhkan ruang. Ada saat ketika seseorang ingin menghabiskan akhir pekan sendirian tanpa harus menjelaskan apa-apa. Dan semua itu sah.
Menjaga diri sendiri bukan bentuk egoisme.
Justru, seseorang yang memahami batas dirinya akan lebih mampu menentukan kapan harus membantu, kapan harus menemani, dan kapan harus berkata “cukup.”
“Nggak enakan” dan hubungan yang sehat
baca halaman selanjutnya……….



