Bacaini.ID, JOMBANG — Pemilihan Ketua Umum (Ketum) PBNU dan Rais Aam masa Khidmah 2026-2031 di Muktamar ke-35 NU Jombang akan berlangsung pada Sabtu hari ini (29/8/2026). Dengan segala dinamika yang terjadi, Ketua Umum PBNU terpilih hampir pasti baru akan diketahui pada Minggu (30/8/2026) dini hari menjelang subuh. Sementara Rais Aam akan diketahui lebih dulu.
Sesuai jadwal yang dirilis panitia muktamar, proses pemilihan akan diawali dengan Sidang Pleno IV dengan agenda Pengesahan Tata Tertib Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum. Dipimpin oleh KH Ahmad Said Asrori, Prof. Dr. KH Mohammad Nuh serta Tim Tabulasi Usulan AHWA, sidang di ruang Pleno Halaman GSG berlangsung pukul 15.30 -17.30 WIB.
Sidang Pleno IV ditutup dengan istirahat pada pukul 17.30-19.30 WIB, dan kemudian berlanjut dengan Sidang Pleno V yang dimulai pukul 19.30 WIB. Ada 5 agenda dalam Sidang Pleno V, mulai Demisioner Pengurus PBNU Masa Khidmah 2021-2026, Pemilihan dan Penetapan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Sidang tertutup Anggota AHWA dan Pengesahan Rais Aam Masa Khidmah 2026-2031, Pemilihan Ketua Umum Masa Khidmah 2026-2031 dan Penetapan Mede Formatur.
Sesuai jadwal, pelaksanaan sidang berlangsung hingga Minggu (30/8/2026) pukul 04.30 WIB.
Gus Kikin, Gus Yahya, Gus Yusuf dan Gus Salam
Informasi yang dihimpun Bacaini.id, mengacu perhelatan Muktamar NU yang sudah-sudah, proses pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Sidang Pleno V menjadi tahapan paling krusial. Sebelum itu pembahasan tata tertib di Sidang Pleno IV juga akan menjadi momentum menegangkan.
Berbagai spekulasi dan kemungkinan bisa terjadi meskipun di atas kertas saat ini nama Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin lebih diunggulkan. Diketahui ada empat nama kandidat yang dinilai paling berpeluang: Gus Kikin, Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf), Gus Yusuf (KH Yusuf Chudlori) dan Gus Salam (KH Abdussalam Shohib).
Di luar itu ada nama KH Imam Jazuli, KH Zulfa Mustofa dan Gus Rozin yang disebut-sebut sebagai kuda hitam. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Termasuk juga dengan Rais Aam di mana nama KH Said Aqil Siraj lebih diunggulkan. Ada nama kandidat lain yang juga berpeluang besar, yakni KH Miftachul Akhyar dan KH Kafabihi Mahrus.
Sementara Presiden Prabowo Subianto saat membuka Muktamar ke-35 NU Kamis 27 Agustus tegas menyatakan dirinya sama sekali tidak turut campur dalam pengaturan jalannya agenda muktamar.
“Saya tidak mengatur ini semua. Saya juga tidak mengerti, tapi ya, kita menerima ini semua,” kata Prabowo saat memberikan sambutan pembukaan acara Muktamar ke-35 NU.
Ia mengungkapkan bahwa kehadirannya di forum tertinggi ormas Islam terbesar di Tanah Air ini merupakan kehormatan tersendiri baginya. Prabowo pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Nahdlatul Ulama yang telah memberi ruang baginya sebagai Presiden ke-8 Republik Indonesia untuk hadir langsung dalam momen bersejarah tersebut.
“Saya tentunya mengucapkan terima kasih atas suatu kehormatan yang besar yang diberikan kepada saya sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-8 hadir di Muktamar ke-35,” tuturnya. (sa/edt)




