Bacaini.ID, JOMBANG – Bukti-bukti dugaan terjadinya praktik politik transaksional atau politik uang dalam Muktamar ke-35 NU di Ponpes Tambakberas Jombang semakin kuat. Salah satunya dialami PCNU Kota Bengkulu yang telah diberi tawaran atau disogok Yamaha N-Max atau mobil Toyota Avanza oleh orang yang mengatasnamakan tim.
Ketua PCNU Kota Bengkulu, Rahmad Ramdani mengaku tidak tahu dari pihak siapa yang telah memberinya penawaran. “Mau N-Max atau Avanza baru. Mengatasnamakan tim lah. (Melalui) media handphone, WA,” kata Rahmad Ramdani kepada wartawan di lokasi Muktamar ke-35 NU Kamis (27/8/2026).
Praktik politik transaksional berupa penawaran pemberian sesuatu tersebut, oleh Rahmad Ramdani dengan tegas ditolaknya. Ia mengaku tidak berani menerima karena sudah satu komando dengan Rois Syuriah. Arahan Rois Syuriah tegas bahwa Tanfidziah harus taat pada azas dan aturan main yang ada.
“Masalah pemilihan dipersilakan mengikuti hati nurani masing-masing. Khususnya saya tidak berani,” ungkapnya.
Rahmad Ramdani berharap pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang dapat membawa perbaikan dan perubahan yang lebih baik. Rasa cinta yang besar terhadap NU menjadi alasan penting agar seluruh proses Muktamar berlangsung dalam suasana yang kondusif.
“Kita berharap memang ada perbaikan dan perubahan. Kita sayang terhadap PBNU, dan aspirasi kita di bawah ini juga berharap NU bisa lebih teduh dan muktamarnya riang gembira,” pungkasnya.
Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bangka Barat, KH Ridwan Zahri, mengimbau seluruh peserta menjaga marwah Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, forum tersebut tidak boleh dicederai oleh tindakan yang bertentangan dengan nilai akhlakul karimah yang menjadi prinsip NU.
Ia secara khusus mengingatkan peserta agar menjauhi praktik politik uang, intimidasi, dan fitnah selama proses Muktamar berlangsung.
“Semoga seluruh peserta dapat menjaga marwah Muktamar dan tidak menodainya dengan tindakan yang bertentangan dengan akhlakul karimah NU, seperti politik uang, intimidasi, maupun fitnah,” kata KH Ridwan Zahri.
Seperti diketahui sebelumnya juga telah terjadi dugaan politik transaksional atau politik uang dalam proses muktamar. Sejumlah muktamirin dikarantina di Sukolilo Surabaya. Kemudian diduga terjadi penculikan dan pengondisian PCNU Bojonegoro dan Babat Lamongan. (sya/sa)




