Poin Penting:
- Pariwisata Jawa Timur tumbuh positif pada Mei 2026 dengan kenaikan jumlah wisatawan dan tingkat hunian hotel, tetapi kondisi tersebut belum dirasakan merata di semua daerah
- Okupansi hotel di Blitar masih rendah, dipengaruhi efisiensi anggaran pemerintah dan persaingan dengan penginapan ilegal, menurut PHRI Blitar
- Sebaliknya, Kediri dan Tulungagung mencatat tingkat penghunian hotel di atas rata-rata Jawa Timur, menunjukkan tingginya aktivitas wisata dan ekonomi di wilayah tersebut
Bacaini.ID, KEDIRI – Pertumbuhan sektor pariwisata Jawa Timur pada Mei 2026 ternyata belum dinikmati secara merata. Saat tingkat hunian hotel di Kediri dan Tulungagung melonjak, okupansi hotel di Blitar justru masih tertinggal jauh di bawah rata-rata provinsi.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, mobilitas wisatawan pada periode Mei 2026 menunjukkan tren kenaikan makro cukup signifikan. Secara statistik, industri pariwisata regional terlihat menjanjikan, didorong oleh lonjakan kunjungan pelancong domestik maupun mancanegara.
Namun, di wilayah Blitar Raya para pengusaha hotel belum lama ini justru mengeluhkan lesunya tingkat hunian kamar. Fenomena ini menunjukkan ‘kue pariwisata’ di Jawa Timur belum merata. Sebagian daerah mendulang lonjakan okupansi yang fantastis, sementara wilayah lain sepi.
Tingkat Penghunian Hotel Jawa Timur Naik pada Mei 2026
Berdasarkan data resmi BPS Provinsi Jawa Timur, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang secara keseluruhan pada Mei 2026 tercatat di angka 49,23%. Angka ini menunjukkan kenaikan yang cukup positif sebesar 2,43 poin jika dibandingkan bulan April 2026 yang tercatat 46,80%.
Tidak hanya hotel berbintang, tren positif juga merambah ke sektor akomodasi lainnya. TPK hotel klasifikasi nonbintang dan akomodasi lainnya di Jawa Timur turut mencatatkan kenaikan sebesar 1,34 poin, menduduki angka 23,93% dibanding bulan sebelumnya. Peningkatan ini juga sejalan dengan mobilitas wisatawan nusantara (wisnus) yang melakukan perjalanan di wilayah Jawa Timur.
Pada Mei 2026, jumlah perjalanan wisnus melonjak tajam hingga mencapai 17,14 juta perjalanan, atau mengalami pertumbuhan sebesar 11,30% jika dibandingkan dengan capaian bulan April 2026 yang berada di angka 15,40 juta perjalanan.
Dari sisi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), gelombang kedatangan internasional ke Jawa Timur mencatatkan angka 31.466 kunjungan, naik tipis 0,41% dari bulan April 2026 yang mencatatkan 31.339 kunjungan.
Kontributor utama kedatangan wisman ini didominasi oleh pelancong asal Tiongkok sebesar 30,49%, diikuti oleh Malaysia sebesar 28,97%, Singapura sebesar 10,20%, Thailand sebesar 3,55%, dan Taiwan sebesar 2,12%.
Sementara itu, untuk durasi tinggal atau Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) pada hotel klasifikasi bintang secara keseluruhan di Jawa Timur tercatat selama 1,36 malam, mengalami kenaikan tipis 0,01 poin dibanding bulan April. Secara akumulatif, seluruh indikator utama ini mengonfirmasi mesin pariwisata Jawa Timur secara makro sedang berjalan cepat.
Okupansi Hotel Blitar Masih Rendah Meski Pariwisata Bergairah
Sayangnya, angka seksi pertumbuhan makro tersebut sama sekali tidak dirasakan oleh para pengusaha hotel di wilayah Blitar Raya. Berdasarkan keluhan yang disuarakan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Blitar, tingkat hunian hotel di wilayah ini mengalami penurunan drastis. Jika pada masa normal atau periode sebelumnya tingkat okupansi hotel di Blitar bisa mencapai 60-70 persen, sejak memasuki awal tahun hingga pertengahan 2026 angka tersebut merosot tajam dan tertahan di kisaran 30 persen saja.
Data BPS Provinsi Jawa Timur per Mei 2026 sebenarnya merekam kondisi riil TPK di wilayah ini. Untuk Kabupaten Blitar, TPK hotel klasifikasi bintang tidak tercatat atau kosong, sementara TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya hanya bertengger di angka 21,59%. Adapun di Kota Blitar, TPK hotel klasifikasi bintang tercatat sebesar 31,81%, dan hotel nonbintang berada di angka 16,41%. Meskipun secara statistik menunjukkan kenaikan dibanding bulan sebelumnya, namun angka-angka ini tentu jauh tertinggal di bawah rata-rata TPK hotel bintang tingkat provinsi yang hampir menyentuh 50 persen.
Lesunya tingkat hunian hotel di Blitar ini bukan tanpa sebab. PHRI mencatat ada sejumlah faktor krusial yang menekan bisnis perhotelan di daerah tersebut. Pertama, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah maupun instansi vertikal membuat kegiatan rapat, workshop, dan perjalanan dinas yang biasanya menjadi penopang utama hotel-hotel daerah mengalami pemangkasan drastis.
Selain itu, para pengusaha hotel resmi di Blitar dihadapkan pada persaingan yang tidak sehat akibat maraknya akomodasi alternatif ilegal atau ‘hotel bayangan’, seperti kos-kosan harian atau rumah sewa berkedok penginapan, yang beroperasi tanpa beban perizinan, standar keselamatan, serta kewajiban pajak yang setara dengan hotel formal.
Kediri dan Tulungagung Catat Okupansi Hotel Tertinggi
Yang membuat situasi di Blitar terasa semakin kontras adalah performa gemilang yang ditunjukkan daerah tetangga terdekatnya. Berdasarkan data BPS Jawa Timur Mei 2026, wilayah Tulungagung dan Kediri justru mencatatkan tingkat hunian hotel yang luar biasa tinggi dan melampaui rata-rata provinsi.
Di Kabupaten Tulungagung, TPK hotel klasifikasi bintang melesat tinggi hingga mencapai 61,46%, dengan TPK nonbintang sebesar 27,83%. Angka okupansi bintang di Tulungagung bahkan menempatkannya sebagai salah satu daerah dengan tingkat keterisian kamar tertinggi di seluruh Jawa Timur pada bulan tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Kediri. Kabupaten Kediri membukukan TPK hotel bintang sebesar 56,49% dan nonbintang sebesar 32,99%. Sementara Kota Kediri mencatatkan TPK hotel bintang di angka 53,63% dengan nonbintang sebesar 21,43%. Tingginya angka di Kediri dan Tulungagung ini mengindikasikan bahwa arus mobilitas wisatawan dan kegiatan ekonomi bisnis di wilayah sub-regional Mataraman sebenarnya sangat hidup, namun aliran tersebut gagal terserap dengan baik ke wilayah Blitar.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




