• Login
Bacaini.id
Tuesday, April 21, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Nasib Pedagang Kembang Api Yang Mulai Mati

ditulis oleh
28 December 2021 19:08
Durasi baca: 2 menit
Boniyem dan Sugeng menjaga lapak petasan di Jl HOS Cokroaminoto Kota Kediri. Foto:Bacaini/Novira

Boniyem dan Sugeng menjaga lapak petasan di Jl HOS Cokroaminoto Kota Kediri. Foto:Bacaini/Novira

Bacaini.id, KEDIRI – Perayaan Natal dan Tahun Baru menjadi kesempatan mengais rejeki bagi pedagang kembang api. Di momen ini, deretan anak kecil mengantre memilih kembang api dan mercon untuk merayakan pergantian tahun.

“Tapi itu dulu, saat anak-anak masih suka beli kembang api. Sejak pandemi sehari belum tentu ada pembeli,” kata Boniyem, penjual kembang api di Jalan HOS Cokroaminoto, tepatnya di depan Pasar Pahing Kota Kediri, Selasa 28 Desember 2021.

Saat ini Boniyem sudah berusia 52 tahun. Sehari-hari nenek ini ditemani suaminya Sugeng yang lebih renta menjaga lapak kayu di pinggir jalan. Lapak berukuran 1,5 x 1 meter itu dibuat dari kayu dengan dinding seng. Untuk melindungi mereka dari terik matahari, ditambahkan selembar seng sebagai atap tambahan. Atap itu juga disangga kayu bekas.

Pasangan suami istri ini duduk di atas bangku kayu di samping lapak. Sementara deretan kembang api dan mercon bergantungan di bawah atap yang diikat rafia.

Siang itu matahari cukup terik memanggang jalanan Kota Kediri. Pasangan renta ini duduk memandang jalan, berharap ada satu dua orang yang datang. “Dari tadi duduk terus capek kakinya, wong sudah tua gini penyakitnya ada saja,” kata Boniyem sambil memijat kedua kakinya.

Ini adalah momentum Natal dan Tahun Baru paling sepi yang dialami Boniyem sejak berdagang kembang api empat tahun silam. Sebelum pandemi terjadi, seminggu sebelum Natal lapaknya sudah ramai pembeli.

Kini hal itu tak lagi terjadi. Jangankan membawa pulang uang, tak jarang Boniyem dan Sugeng hanya memandang jalan mulai pagi hingga malam.

Selain sepi pembeli, Boniyem dan Sugeng juga harus menjaga dagangannya agar tidak rusak saat diterpa hujan. Seluruh dagangan itu bukan miliknya, melainkan titipan dari seseorang yang diantar ke lapaknya. Dia hanya mendapat prosentase dari setiap kembang api yang dijual. “Kalau rusak ya rugi, terus nanti bingung lagi cari modal. Kadang rasanya ingin nangis kalau seperti ini,” ujarnya tersenyum pahit.

Di usianya yang sudah lanjut, Boniyem masih harus memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak terakhirnya yang duduk di bangku kelas 3 SMP. Namun terkadang anak lainnya yang sudah bekerja memberinya uang untuk menyambung makan.

Saat ini satu-satunya sumber penghidupannya adalah lapak miliknya. Hari-harinya berdiam di pinggir jalan, berharap ada anak kecil yang merengek meminta petasan.

Penulis: Novira Kharisma
Editor: Budi S

Tonton video:

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Penumpang kereta api padat di awal 2026

Daop 7 Madiun Catat 3 Juta Penumpang di Awal 2026, Kereta Jadi Solusi Tekan Emisi Karbon

Bunga blue poppy berwarna biru langit mekar di pegunungan Himalaya

Saking Indahnya Blue Poppy Sempat Dianggap Mitos, Ini Fakta Ilmiah di Baliknya

RA Kartini tokoh emansipasi perempuan Indonesia

Kritik Kartini terhadap Poligami: Suara Perempuan Jawa yang Mengguncang Zaman

  • Alun-alun Kota Kediri yang mangkrak dan Kepala Dinas PUPR Endang Kartika Sari.

    Pemkot Kediri Tak Punya Strategi Lanjutkan Proyek Alun-alun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ponorogo dan Panggilan Sejarah: Dari Daerah Agraris Menuju Penyangga Kedaulatan Pangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemblokiran TPA Klotok Picu Krisis Sampah di Kota Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In