Bacaini.ID, KEDIRI – Perasaan merasa bersalah dalam menjalani peran sebagai ibu atau motherhood guilt kerap menghinggapi sebagian besar perempuan. Bentuknya beragam.
Sudah menemani anak seharian masih merasa kurang. Sudah bekerja untuk keluarga, muncul rasa bersalah karena merasa tidak cukup hadir untuk anak. Bahkan setelah memarahi anak, sebagian ibu terus memikirkan dan bertanya apakah dirinya sudah jadi ibu yang baik.
Perasaan motherhood guilt dapat muncul dalam berbagai situasi, mulai dari memilih bekerja, mengambil waktu untuk diri sendiri, tidak selalu sabar menghadapi anak, hingga merasa tidak mampu memenuhi semua kebutuhan keluarga.
Masalahnya, rasa bersalah tidak selalu muncul karena ibu benar-benar melakukan kesalahan. Dalam banyak kasus, perasaan itu berkaitan dengan standar pengasuhan terlalu tinggi dan anggapan seperti apa seharusnya seorang ibu.
Ketika Menjadi Ibu Dikaitkan dengan Standar yang Terlalu Tinggi
Secara psikologis, rasa bersalah merupakan emosi yang muncul ketika seseorang menilai dirinya telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai atau standar yang dianggap penting.
Persoalannya, standar menjadi ibu yang ‘baik’ sering kali sangat luas. Ibu diharapkan sabar, hadir secara emosional, memperhatikan makanan anak, mendampingi pendidikan, menjaga kesehatan, menyediakan waktu bermain, sekaligus mengurus pekerjaan dan rumah tangga.
Ketika semua tuntutan tersebut dijadikan ukuran keberhasilan, hampir setiap ibu dapat menemukan alasan untuk merasa gagal. Padahal, satu keputusan atau satu hari yang tidak ideal tidak otomatis menunjukkan kualitas seseorang sebagai orang tua.
Dalam psikologi pengasuhan, fenomena ini sering dibahas sebagai ‘parenting perfectionism’, yaitu kecenderungan memiliki standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri sebagai orang tua dan merasa tertekan ketika standar tersebut tidak tercapai.
Keinginan memberikan yang terbaik kepada anak sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Namun, ketika ‘yang terbaik’ diterjemahkan sebagai harus selalu benar, selalu sabar, selalu tersedia, dan tidak boleh melakukan kesalahan, tuntutan tersebut menjadi sulit dipenuhi.
Dalam kondisi seperti itu, rasa bersalah dapat muncul bukan hanya setelah kesalahan besar, tetapi juga setelah hal-hal kecil yang sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan sehari-hari.
Ibu Bekerja Bisa Merasa Bersalah, Ibu yang Tidak Bekerja Juga
Salah satu bentuk motherhood guilt yang paling mudah terlihat adalah konflik antara pekerjaan dan pengasuhan.
Ibu yang bekerja mungkin merasa bersalah karena meninggalkan anak untuk bekerja. Sebaliknya, ibu yang tidak bekerja di luar rumah juga dapat mengalami rasa bersalah karena merasa tidak memberikan kontribusi finansial atau kehilangan kesempatan untuk berkembang secara profesional.
Artinya, masalahnya bukan sekadar apakah seorang ibu bekerja atau tidak. Perempuan dapat merasa bersalah dalam kedua pilihan tersebut ketika masing-masing pilihan dibandingkan dengan gambaran ideal mengenai seorang ibu.
Media Sosial Bisa Membuat Standar Ibu Terlihat Semakin Sempurna
Ada faktor lain yang membuat motherhood guilt semakin mudah muncul, yakni perbandingan sosial. Media sosial memungkinkan orang melihat kehidupan keluarga lain dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Seorang ibu dapat melihat konten tentang menu anak yang dianggap sehat, aktivitas bermain bersama anak, rumah yang tertata, rutinitas tidur, metode pendidikan, hingga perjalanan keluarga.
Masalahnya, yang terlihat biasanya adalah potongan kehidupan. Konten tersebut tidak selalu memperlihatkan anak yang rewel, rumah berantakan, orang tua kelelahan, konflik pasangan, pekerjaan yang menumpuk, atau keputusan pengasuhan yang tidak berjalan sesuai rencana.
Perbandingan semacam ini dapat membuat ibu menilai kehidupan nyata berdasarkan gambaran ideal yang sudah disaring. Akhirnya muncul pikiran seperti, “Kenapa aku tidak bisa seperti itu?” Padahal, kondisi setiap keluarga berbeda. Kebutuhan anak berbeda, kemampuan ekonomi berbeda, dukungan pasangan dan keluarga berbeda, begitu pula kondisi pekerjaan dan kesehatan setiap orang tua.
Karena itu, membandingkan satu keluarga dengan keluarga lain hanya berdasarkan apa yang terlihat dapat menciptakan standar yang tidak realistis.
Rasa Bersalah Tidak Selalu Berarti Buruk
Meski sering terasa melelahkan, rasa bersalah sebenarnya tidak selalu merupakan emosi yang harus dihilangkan.
Dalam kadar tertentu, rasa bersalah dapat membantu seseorang mengevaluasi perilakunya. Misalnya, setelah menyadari bahwa cara berbicara kepada anak terlalu keras, orang tua dapat menggunakan perasaan tersebut sebagai dorongan untuk memperbaiki cara berkomunikasi.
Yang menjadi masalah adalah ketika rasa bersalah berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya adalah ibu atau orang tua yang buruk, setiap kali melakukan kesalahan.
Yang perlu disadari adalah, kesalahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengasuhan. Tidak ada orang tua yang selalu tenang, selalu tepat mengambil keputusan, atau selalu mampu memenuhi kebutuhan anak pada setiap waktu.
Yang lebih penting adalah kemampuan memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahan. Ketika ibu kehilangan kesabaran, misalnya, memperbaiki keadaan dapat dilakukan dengan mengakui kesalahan, menjelaskan kepada anak, meminta maaf bila diperlukan, dan membangun kembali komunikasi.
Dengan demikian, pengasuhan tidak diukur dari kemampuan menjadi sempurna, melainkan dari kemampuan orang tua untuk terus belajar dan merespons kebutuhan anak.
Ketika Waktu untuk Diri Sendiri Justru Menimbulkan Rasa Bersalah
Bentuk motherhood guilt lainnya muncul ketika ibu mengambil waktu untuk dirinya sendiri.
Pergi bersama teman, berolahraga, menikmati hobi, beristirahat, atau sekadar menghabiskan waktu sendirian sebenarnya merupakan kebutuhan manusia. Namun bagi sebagian ibu, aktivitas tersebut justru diikuti pertanyaan apakah waktunya seharusnya diberikan kepada anak atau keluarga.
Jika pengorbanan dianggap sebagai ukuran utama kasih sayang seorang ibu, kebutuhan pribadi dapat terlihat seperti sesuatu yang harus dikesampingkan.
Padahal, orang tua juga memiliki keterbatasan fisik dan emosional. Istirahat bukan berarti mengabaikan anak. Memiliki pekerjaan bukan berarti kurang mencintai anak. Memiliki kehidupan sosial bukan berarti tidak memprioritaskan keluarga.
Justru karena pengasuhan berlangsung dalam jangka panjang, kemampuan orang tua menjaga dirinya sendiri juga menjadi bagian dari keberlangsungan pengasuhan.
Hal ini bukan berarti semua keputusan ibu harus dibenarkan atau rasa bersalah harus selalu diabaikan. Jika seorang ibu merasa ada perilaku yang memang perlu diperbaiki, evaluasi tetap penting. Namun, evaluasi berbeda dengan menyalahkan diri sendiri tanpa henti.
Motherhood Guilt dan Pertanyaan yang Lebih Sehat
Alih-alih terus bertanya, “Apakah aku ibu yang cukup baik?”, pertanyaan yang lebih realistis adalah “Apa yang sebenarnya dibutuhkan anak dan apa yang mampu aku lakukan dalam kondisi saat ini?” Pertanyaan tersebut membantu memisahkan kebutuhan nyata anak dari standar pengasuhan yang dibentuk oleh lingkungan.
Ibu juga tidak harus memenuhi seluruh kebutuhan anak seorang diri. Pengasuhan merupakan tanggung jawab keluarga, sehingga pembagian peran dengan pasangan, keluarga, maupun dukungan lain dapat menjadi bagian penting dalam mengurangi tekanan.
Jika rasa bersalah sudah sangat kuat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, membuat seseorang terus-menerus merasa tidak berharga, atau disertai kecemasan dan kesedihan yang menetap, persoalannya juga perlu dilihat lebih serius. Konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu mencari penyebab dan cara mengatasinya.
Menjadi ibu memang membawa tanggung jawab besar. Namun tanggung jawab tersebut tidak mengharuskan seorang perempuan menjadi manusia yang selalu sabar, selalu tersedia, dan tidak pernah melakukan kesalahan. (bl/sa)




